Rabu, 27 September 2017

Impian Transportasi Kereta Api di Kalimantan

Logo PT. Kereta Api Indonesia (KAI)


Pulau Kalimantan adalah pulau yang terluas kedua di Indonesia dan terluas ketiga di Dunia.  Selain itu dengan luas hutan yang masih sangat luas, tak heran jika kalimantan sering disebut sebagai paru-parunya dunia.

Pulau kalimantan yang berada di wilayah administrasi negara Indonesia memiliki luas sekitar 544.150 Km2. Terbagi menjadi 5 provinsi diantaranya Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Utara.

Dengan wilayah yang demikian luas itu, jangan kira jarak antara satu provinsi ke provinsi lainnya di pulau kalimantan ini cukup dekat. Jarak antar provinsi yang paling berdekatan saja di Kalimantan jaraknya sekitar 180 Km, yaitu antara Provinsi Kalimantan Tengah dan Provinsi Kalimantan Selatan. Jarak ini kira-kira setar dengan jarak antara Semarang-Yogyakarta. Jika disebutkan lagi jarak antar provinsi lainnya di Kalimantan tentu akan kita dapatkan angka yang lumayan besar. Misalnya jarak antara Palangka Raya dan Pontianak sekitar 1022 Km, lalu jarak antara Palangka Raya ke Samarinda sekitar 776 Km, kemudian lebih jauh lagi jarak antara Palangka Raya ke Tanjung Selor adalah sekitar 1033 Km.

Saat ini transportasi utama yang dapat digunakan di Kalimantan adalah jalur darat. Namun jalur trasportasi darat yang terhubung melalui jalan trans kalimantan kurang begitu populer dan terdapat beberapa kendala. Karena disebabkan beberapa faktor diantaranya:

1)  Jarak tempuh yang bisa memakan waktu seharian; sebagai gambaran jika dari Palangka Raya menuju ke Samarinda dengan jarak sekitar sekitar 776 Km maka akan memakan waktu sekitar 17 jam perjalanan. Jika naik bus angkutan umum kemungkinan akan lebih lama lagi.
2)  Kondisi infrastruktur jalan raya trans kalimantan yang masih belum memadai; jalan trans kalimantan yang menghubungkan seluruh provinsi di Kalimantan saat ini saja masih belum tersambung sepenuhnya ditambah lagi dengan kerusakan jalan di beberapa titik.

Dengan jarak yang lumayan jauh dan masalah infrastruktur jalan trans kalimantan itu, akhirnya masyarakat di kalimantan merasa “asing” dengan tetangganya di provinsi lain yang berada dalam satu pulau. Karena jauhnya jarak yang memisahkan, sesama orang kalimantan akhirnya tak ada yang saling mengunjungi kota dan tempat wisata tetangganya di kalimantan. Padahal idealnya sebagai sesama penduduk kalimantan, kurang afdol jika belum menjelajah habis kota lain yang ada di pulau Borneo ini.

Hanya Kota Palangka Raya  dan Kota  Banjarmasin saja warganya yang sering berinteraksi. Itupun karena jarak yang cukup dekat. Karena jaraknya yang relatif dekat itulah, akhirnya  lalu lintas trans kalimantan poros selatan ini menjadi jalur yang paling ramai dilalui di pulau Kalimantan. Dampak dari mudah dan dekatnya transportasi Palangka Raya dan Banjarmasin yaitu lancarnya arus distribusi barang di kedua kota ini.

Sebagai alternatif, saat ini memang sudah mulai dirintis penerbangan yang menghubungankan beberapa ibukota provinsi di Kalimantan. Tapi tentu saja lazimnya semua penerbangan, biayanya dirasa masih relatif berat bagi sebagian besar masyarakat di kalimantan. Bahkan harga tiketnya saja kurang lebih sama seperti penerbangan ke luar Kalimantan. Tak salah Dengan harga tiket demikian, maka sudah barang tentu masyarakat lebih memilih terbang ke luar pulau dengan destinasi wisata yang sudah lebih populer dibandingkan terbang di sekitar pulau sendiri.

Rencana dari pemerintah pusat untuk membangun transportasi kereta api di pulau Kalimantan sekitar 1 dekade yang lalu seakan menjadi angin segar bagi dunia transportasi di borneo. Moda trasnportasi kereta api merupakan dambaan setiap masarakat di Kalimantan yang sejak saat itu entah kapan akan dapat terwujud.

 Rencana itu pun di era presiden Joko Widodo coba dipercepat dengan mematok target tahun 2019 jalur Palangka Raya-Banjarmasin sudah dapat terhubung dengan rel kereta api. Entah di tahun berapa kah realisasinya nanti seluruh kota dan provinsi di Kalimantan dapat saling terkoneksi dengan jalur rel kereta api tersebut.

Hampir sebagian besar negara maju sekarang ini sudah mengandalkan moda transportasi berbasis rel ini. Dapat dikatakan untuk jalur darat, transportasi kereta api merupakan pilihan utama di wilayah yang jarak antar kotanya cukup jauh. Namun di Indonesia sendiri moda transportasi ini masih terbatas  di pulau jawa dan di pulau Sumatera saja. Mengingat luas Indonesia yang sangat besar, transportasi kereta api sangat diperlukan untuk mendongkrak perekonomian masyarakat. Khususnya masyarakat Kalimantan.

Awalnya ide pembangunan koneksi  kereta api di seluruh wilayah Kalimantan ditujukan untuk mengangkut hasil tambang dan komoditas industri lainnya ke pelabuhan. Tapi seiring urgensinya transportasi massal kereta api yang dapat mengangkut orang, akhirnya dibuat juga rencana untuk pembuatan jalur kereta api yang akan mengangkut penumpang di seluruh provinsi di Kalimantan.

Bayangkan saja jika nanti jalur kereta api trans Kalimantan sudah seluruhnya terkoneksi. Betapa cepatnya pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang terjadi di pulau Kalimantan. Distribusi barang akan lancar beredar antar kota dan provinsi, dan tentu saja dapat menekan biaya kebutuhan menjadi lebih murah.

Jalur distribusi yang tadinya melalui jalan raya akan beralih ke jalur kereta api yang lebih efektif dan efisien. Truk-truk bermuatan besar yang tadinya sering melintas di jalan raya Trans Kalimantan perlahan akan berkurang jumlahnya. Praktis akan membuat jalan trans Kalimantan relatif kuat dan tahan lama karena jarang dilintasi truk bermuatan besar. Sehingga alokasi anggaran untuk perbaikan jalan negara itu pun akan dapat dimanfaatkan ke sektor lain. Biarlah jalan raya trans Kalimantan itu nantinya akan digunakan oleh masyarakat sebagai alternatif transportasi darat lintas Borneo.

Dari segi pariwisata juga akan dapat memberikan keuntungan bagi semua kota di Kalimantan. Transportasi yang murah, mudah dan cepat akan memungkinkan setiap masyarakat saling berkunjung ke provinsi tetangganya di Kalimantan. Sehingga tadinya masyarakat Palangka Raya yang belum pernah ke Samarinda bukan tidak mungkin setelah adanya kereta api akan sering bolak balik ke kota tersebut dan begitupun sebaliknya. Hal ini tentunya akan menambah pemasukan daerah di bidang pariwisata bagi provinsi tersebut. Sehingga akan terwujud solidaritas dan konektivitas masyarakat kalimantan yang tanpa sekat dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Di Kalimantan saat ini masih belum ada satupun berdiri stasiun utama kereta api. Maka sudah seyogyanya pembangunan stasiun perdana itu nanti akan dibuat lebih modern dan megah sesuai dengan perkembangan zaman. Sehingga stasiun utama tersebut nantinya akan dapat memberikan kenyaman dan mengakomodir semua kebutuhan penumpang. Ruang tunggu yang nyaman, ada tempat untuk charger listrik, tempat makan, toilet dan fasilitas mantap lainnya. Tidaklah berlebihan jika diharapkan nantinya kenyamanan fasilitas dan pengelolaannya berkelas tinggi.

Apabila kelak Ibukota Pemerintah Republik Indonesia jadi pindah ke pulau Kalimantan, maka demi menunjang mobilisasi penumpang antar kalimantan dan negara tetangga, mungkin sudah saatnya ada peningkatan moda kereta api menjadi kereta api super cepat. Seperti kereta api Shinkansen di Jepang yang kecepatannya bisa tembus 300 Km/jam lebih.


Tapi itu nanti dulu, saat ini mimpi yang sangat dekat dan realistis dengan masyarakat Borneo adalah dapat terwujudnya sistem transportasi Kereta Api Trans Kalimantan di bumi khatulistiwa. Harapan itulah yang kiranya segera dan urgen sekali terwujud di pulau Kalimantan. Semoga dengan percepatan pembangunan infrastruktur yang dilakukan oleh pemerintah pusat, berbuah manis kepada proyek pengembangan kereta api di Kalimantan.

Rabu, 23 Agustus 2017

Resensi Buku : Mengaktifkan Alam Bawah Sadar Manusia






Penulis            : Darmanto, S.Psi                                    
Penerbit          : Tugu Publisher  -  Yogyakarta                                                                          
Halaman        :  212
Tahun             :  2012


Manusia ini adalah mahluk yang sangat istimewa. Ia diciptakan Allah SWT. sangat berbeda dan mulia dibandingkan mahluk lainnya. Salah satu keutamaan manusia adalah karena ia mempunyai akal budi atau yang bisa disebut dengan pikiran. Pikiran manusia yang dianugerahi oleh Tuhan memiliki kemampuan yang jauh lebih canggih daripada komputer manapun. 

Namun sayang potensi otak dan pikiran manusia ini hanya sedikit orang saja yang dapat mengoptimalkannya lebih besar. Pikiran manusia dibagi menjadi dua yaitu pikiran sadar dan pikiran alam bawah sadar. Pikiran sadar adalah pikiran yang muncul dan terjadi saat kita terjaga. Misalnya saat aku menulis tulisan ini, sangat aku makan, membaca dan segala hal yang kulakukan secara sadar dan kupikirkan. Kebalikannya dengan Alam bawah sadar, ia merupakan pikiran yang dapat diakses ketika gelombang otak kita sedang berada di frekuensi yang rendah, yaitu disaat kita melamun, saat setengah tidur, atau saat kita tertidur pulas.

Alam bawah sadar inilah yang diklaim oleh para ilmuwan sebagai potensi gunung es dari pikiran manusia yang tersembunyi. Dikatatakan bahwa sekitar 88% potensi pikiran manusia sebagian besarnya berada di alam bawah sadar manusia. Alam bawah sadar memiliki segudang informasi  yang kita dapatkan sejak otak terbentuk di dalam rahim hingga kita sekarang ini. Bayangkan betapa banyak informasi itu tersimpan.

Mungkin kita sudah lupa sama sekali bagaimana kita dulu sewaktu kecil belajar berjalan, lupa bagaimana pertama kali kita melihat dunia, bahkan kita juga lupa bagaimana kita menangis ketika kita dilahirkan. Tak ada manusia yang tau itu. Tapi di alam bawah sadar, memori itu masih tersimpan. Hanya saja yang jadi masalah cara mengakses ke wilayah itu yang agak susah. Bahkan hampir dikatakan sangat sulit.

Tak cuma menyimpan informasi yang pernah kita alami. Alam bawah sadar juga mengatur gerak biologis semua organ yang ada di tubuh kita. Detak jantung, proses pencernaan, pernafasan dan segala hal dalam tubuh kita bergerak karena aturan dari alam bawah sadar.

Ada satu contoh yang menarik mengenai cara alam bawah sadar bekerja. Kita mungkin ingat saat pertama kali kita belajar naik sepeda, atau belajar mengendari sepeda motor. Mungkin saat pertama kali kita akan berpikir keras, bagaimana ini menyeimbangkannya agar tidak jatuh, bagaimana menginjak rem, bagaimana mengurangi transmisi gear pada motor. Tentu kita pada awalnya dengan tekun memperhatikan semuanya. Karena saking kacaunya pikiran kita akhirnya kita pun jatuh. Tapi ketika hal itu sudah menjadi kebiasaan, keahlian berkendaraan itu sudah tidak lagi menjadi perhatian kita. Sudah tidak perlu repot lagi memperhatikan letak rem, cara mentransmisikan gear. 

Disinilah alam bawah sadar mulai mengambil perannya. Tanpa alam bawah sadar mungkin kita selamanya akan terus melihat letak rem dan letak pedal gigi setiap kali berkendara. Bahkan Cuma itu, berkat alam bawah sadar, kita  pun bisa melakukan multitasking di sambil berkendaraan. Kadang kita bisa sambil ngobrol saat menyetir, sambil dengar musik, sambil berhkhayal, sambil merokok dan adapula yang berkendara sambil main handphone.

Tapi jauh diatas itu semua, Alam bawah sadar bermanfaat  menyimpan segala jawaban atas berbagai macam persoalan yang melanda hidup kita. Intuisi, impian, imajinasi, ilham, inspirasi dan segalanya merupakan produk alam bawah sadar yang sangat membantu kehidupan kita. Manusia jaman modern ini seringkali dihadapankan pada berbagai macam problema hidup. Mudahnya orang mengalami stress, tekanan batin, sakit mental dan sebagainya merupakan bukti bahwa manusia juga membutuhkan pengobatan terhadap pikirannya. Namun hanya alam bawah sadarlah yang mampu melakukan itu semua.

Lantas bagaimana cara mengakses alam bawah sadar itu. Melalui buku Mengaktifkan Alam Bawah Sadar Manusia yang ditulis oleh Darmanto, S.Psi ini ia membeberkan sedikit cara agar kita bisa masuk ke alam bawah sadar. 

Apa yang disampaikan dalam buku ini sebenarnya lebih kepada pengenalan akan potensi alam bawah sadar. Namun untuk cara mengaktifkannya, di buku ini penulis lebih banyak menganjurkan kepada pembaca untuk berkonsultasi dan mendatangi seorang ahli hipnoterapis. Dalam salah satu bab aku sedikit tertarik dengan konsep kerja alam bawah sadar yang dikatakan penulis. Disitu ia mengatakan bahwa hal yang paling penting untuk mewujudkan impian adalah dengan membayangkan, dirasakan, diucapkan dan dilakukan secara berulang. Konsep yang sangat mirip dengan konsep law attraction.

Selain memuat tentang informasi mengenai manfaat alam bawah sadar, buku ini juga memuat tentan informasi dan motivasi tentang impian. Disini tampaknya penulis tidak lagi membahas tentang cara kerja alam bawah sadar yang supranatural. Tapi di bagian ini penulis lebih menekankan motivasi kepada pembaca. Tema motivasi yang diberikan kurang lebih sama dengan motivasi tentang impian yang banyak kita dengar dan kita baca.

Meskipun buku ini hanya menunjukkan sedikit cara untuk menuju alam bawah sadar. Tak seperti yang dikatakan oleh judulnya. Tapi setidaknya buku ini berisi tentang informasi penting mengenai adanya alam bawah sadar. Sehingga kita menjadi peduli dan sadar akan keberadaan pikiran yang penuh potensi ini. Diharapkan dengan self meditation atau dengan bantuan ahli hipnoterapis kita dapat menggali potensi di pikiran bawah sadar. Dan ditambah pula dengan tulisan-tulisan tentang impian di buku ini yang mudah-mudahan dapat mensugesti otak dan meresap ke alam bawah sadar. Lalu pada akhirnya akan dapat mengubah kehidupan kita menjadi lebih baik.  Salah satu buku yang cukup bagus.

Jumat, 31 Maret 2017

Review Film : Danur (2017)




Sutradara          : Awi Suryadi                                        
Skenario            : Risa Saraswati, Lele Laila, Ferry Lesmana
Pemain              : Prilly Latuconsina, Kinaryosih, Shareefa Daanish
Genre                : Horor
Durasi               : 1 Jam 18 menit
Tahun rilis        : 2017



Mungkin bagi yang suka acara-acara horor tanah air sudah tidak asing lagi dengan nama Risa Saraswati. Wanita ini merupakan salah satu pendamping Tukul Arwana dalam acara mistis, Tukul Jalan-Jalan di Trans 7. Risa ini dikenal sebagai Indigo yang mampu melihat mahluk-mahluk dari alam sebelah. Bahkan tidak hanya itu, ia juga memiliki sahabat-sahabat dari mahluk astral.

Selain dikenal sebagai indigowati, (hehe) ia juga dikenal sebagai penulis novel horor. Salah satunya buku yang dibuatkan film adalah film Danur ini. Danur diangkat dari buku Risa yang berjudul Gerbang Dialog Danur. Tentu saja bukunya berdasarkan pengalaman nyata Risa sejak ia bisa melihat dan berkomunikasi dengan mahluk tak kasat mata.

Film ini bermula dari Risa kecil yang kesepian berdoa di ulang tahunnya ke 8  agar ia ia punya teman dan tidak kesepian lagi. Sejak ulang tahun itu tiba-tiba ia jadi bisa melihat mahluk gaib. Peter, William dan Jansen adalah mahluk gaib pertama yang bisa dilihat dan diajaknya berkomunikasi. Tidak cuma itu Risa kecil pun bermain dengan ketiga teman barunya itu.

Sampai suatu hari ia bisa melihat wujud asli ketiga temannya yang menyeramkan itu. Risa pun terkejut dan ketakutan. Praktis sejak saat itu hingga mereka pindah Risa tak pernah lagi melihat  ketiga temannya itu.

Beberapa tahun kemudian Risa yang sudah dewasa kembali lagi kerumahnya dulu untuk menjaga dan merawat neneknya yang sedang sakit. Disini ia kembali berurusan dengan hantu. Sebut saja disini Mbak Asih (Shareefa Daanish) yang semula dikira adalah pengasuh dan perawat neneknya, eh ternyata hantu jahat yang mendiami pohon besar dekat rumah mereka. Mbak Asih ini pun menculik adiknya Risa. Maka risa pun berjuang untuk menyelamatkan adiknya ini.

Film horor Indonesia seekarang kalau aku perhatikan pelan-pelan sudah mulai menunjukkan sedikit taringnya. Dulu sempat mainstream film indonesia dengan judul yang aneh-aneh dan dengan pemain yang hanya mengumbar kemontokan tubuh. Sedangkan ceritanya banyak yang tidak bermutu, nuansa horor yang tidak terbangun dan lain sebagainya.

Untuk kemunculan hantunya pun sudah mulai agak sedikit berubah. Dulu sering sekali nongol itu hantu. Sudah begitu sering bikin kaget penonton dengan sound efek yang membahana. Berhamburan adegan murahan si hantu usil yang suka beri kejutan. Tapi sekarang formula itu sudah mulai dikurangi oleh para sineas Indonesia. Salah satunya adalah film Danur ini. Meskipun masih ada tapi sudah mulai dikurangi.

 Sutradara Awi Suryadi berhasil menciptakan atmosfer kengerian dalam film Danur ini. Tidak cuma itu akting dari para pemainnya juga patut diapresiasi dalam membangung nuansa horor. Lihat lah akting Prilly dalam film ini yang sangat bagus ditambah lagi akting Shareefa  yang sangat mengerikan memerankan Mbak Asih. Shareefa memerankan sang hantu dengan sangat meyakinkan.

Meskipun film ini bernuansa horor, tapi kok ada saja adegan-adegan dalam film ini yang malah membuatku tertawa. Bahkan kadang ada beberapa adegan yang malah memancing tawa riuh seisi bioskop.  Namun sayang ada beberapa adegan yang malah kalau dilihat meniru adegan film blockbuster hollywood macam Insidious. Tentu saja ini agak sedikit merusak orisinalitas film.

Namun sayang film ini durasinya terlalu singkat sekitar 78 menit. Kalau saja sebelum ia bertemu dengan Mbak Asih, ia juga bertemu dengan hantu-hantu lain yang juga mengerikan, maka kira-kira perjalanan Risa itu akan lebih mengesankan sebagai orang Indigo yang bisa melihat dan berkomunikasi dengan mahluk halus. Dan terakhir andai saja instrumen lagu boneka abdi dijadikan theme song dalam film ini, dijadikan musik pembuka, penutu atau apapun itu. Tapi yang pasti lagu ini lebih sering ditonjolkan, maka orang-orang akan terus teringat film ini setiap theme song itu diputar. Dengar saja instrumen film-film  seperti Dead Silence, Saw, The Exorcist, Insidious yang begitu kuat  sebagai theme song  filmnya. Apa mungkin karena instrumen lagu boneka abdi itu sudah hak paten negara lain kali ya.

Tapi biar bagaimanapun film ini cukup lumayan lah. Kualitas film Indonesia sedikit membaik kalau melihat film ini.





---My rate :  6,5/10---

Rabu, 22 Maret 2017

Rajinlah Menolong Sesama





Hidup ini penuh dengan analogi analogi sederhana bagi siapa saja yang mau merenunginya. Banyak hal dan permisalan dalam renungan itu yang dapat dijadikan sebuah premis. Salah satunya adalah perihal tolong menolong antar sesama umat manusia.

Tentunya manusia kan punya berbagai macam karakter. Nah begitu pula dalam urusan tolong menolong, tidak semua orang yang hidup di dunia ini mempunyai karakter yang gemar menolong. Mungkin ada saja beberapa orang yang ketika dimintai tolong, enggan untuk menolong. Meskipun posisinya saat itu sedang dalam keadaan yang mampu untuk menolong.

Nah, setiap orang pasti pernah berdoa dan meminta tolong kepada Allah Tuhan yang Maha kuasa. Ketika kesulitan hidup melanda, ketika ketidakberdayaan menjerat jiwa raga, manusia cenderung mencari tuhannya dan berdoa memohon diringankan atas segala perkara. Lalu Allah pun menolong dan melapangkan urusan hamba-hamba sesuai kehendakNya. Akhirnya kita sebagai hamba ini merasa senang, bahagia, lapang dan hidup merasa damai ketika diberi pertolongan.

Tapi kemudian ketika ada orang yang meminta pertolongan kepada kita. Dengan pedenya enggan sama sekali untuk menolong. Kita memang bukan tuhan, tapi setidaknya tunjukanlah rasa syukur kita kepada Allah itu dengan menolong juga sesama umat manusia. Buatlah Allah senang, karena kita sudah bersyukur diberi pertolongan dengan membantu sesama manusia keluar dari kesulitan. Jadilah agen atau perantara Allah Swt. dalam menolong sesama. 

Wah alangkah sombongnya ya jika kita tidak pernah mau menolong sesama. Allah saja tanpa pilih kasih menolong hambaNya, tak peduli orang itu sering bermaksiat kepadaNya. Lha kita manusia fana ini kok sok-sok an tidak mau menolong sesama.

Mikirnya gini aja sih, bagaimana mungkin Allah akan senang menolong kita kalau kita saja enggan untuk menolong sesama. Mohon maaf nih, jangan heran jika banyak kita jumpai ada orang-orang yang merasa hidupnya selalu sulit kendati sering berdoa. Ya mungkin karena karena pelit menolong sesama, padahal menolong orang lain itu kan juga salah satu bentuk dari sedekah. 

Bukan bermaksud sombong, seringkali landasan niatku dalam membantu orang lain adalah karena Allah. Allah seringkali menolong dan mengeluarkan aku dari berbagai macam kesulitan setiap kali aku memohon. Jadinya ketika ada orang meminta pertolongan, aku jadi teringat bagaimana aku berada di posisi yang sulit. Oleh karena itu sebagai wujud syukurku atas pertolongan Allah itu, aku berupaya untuk menolong dan peduli terhadap sesama.

 Makanya itu ketika ada orang minta pertolongan, jika bisa kubantu ya pasti akan kubantu. Jika tidak punya daya apa boleh buat aku hanya bisa memanjatkan doa. Percayalah hidup akan tenang dan lapang jika kita sering menolong sesama. Dan pastinya setiap kita ada kesulitan, Allah pasti akan datang menolong kita malah hidup akan semakin mudah. Akan selalu datang rejeki dan kehidupan yang tidak terduga akibat menolong orang lain. Itu pasti, It’s real story.

Maka dari itu rajin-rajinlah terlibat dalam tolong menolong. Karena itu sama saja dengan menolong diri kita sendiri. Tentu saja dalam konteks ini adalah tolong menolong dalam kebaikan.

Minggu, 12 Maret 2017

Air Terjun Bajuin



Dilihat dari luas wilayah memang Provinsi Kalimantan Selatan kalah dibandingkan dengan provinsi lainnnya di Kalimantan. Tapi untuk keindahan alam dan objek wisata Provinsinya urang banua ini jangan pernah dianggap remeh. Kalsel banyak memiliki tempat wisata alam yang indah dan menarik yang tersebar di beberapa kabupaten.

Kondisi geografis wilayah yang tidak terlalu luas memberi keuntungan sendiri bagi pariwisata di Kalsel. Karena rata-rata tempat wisata yang ada di beberapa kabupaten jaraknya tidak terlalu jauh dari Kota Banjarmasin ibukota Kalimantan Selatan.

Salah satu tempat wisata yang menarik adalah di Kota Pelaihari ibukota Kabupaten Tanah Laut. Mungkin beberapa orang (atau cuma aku) kurang begitu ngeh jika disebutkan nama Kabupatennya saja. Namun jika disebut daerah Pelaihari, baru ngeh oooo disitu.

Mulanya aku mengira Pelaihari itu jauh sekali dari Banjarmasin. Ternyata Ibukota Kabupaten Tanah Laut ini hanya berjarak sekitar 65 Km saja dari Kota Banjarmasin dengan waktu tempuh hampir 2 jam. Maklum karena kecepatan sepeda motor kami pada waktu itu hanya berkisar 50 Km/Jam ditambah banyak mampir juga. Lagipula karena jalan lintas kabupatennya relatif kecil dan ramai jadi tidak memungkinkan memacu kendaraan dengan cepat, takut ada yang menyeberang atau belok mendadak. Tapi bagi yang sudah biasa dengan jalan itu mungkin kurang dari 1 jam bisa saja tembus.

Inilah seperti yang kusampaikan di atas tadi, Provinsi Kalimantan Selatan itu memiliki kota dan kabupaten yang jaraknya tidak terlalu jauh antara satu dan lainnya. Sudah begitu masing-masing kabupaten pasti memiliki keunikan dan keunggulan wisata alamnya. Seperti Pelaihari ini, jaraknya lumayan dekat lah kalau dari Banjarmasin.

Kabupaten Tanah Laut atau Pelaihari wilayahnya banyak di kelilingi oleh perbukitan. Menjelang masuk di wilayah ibukota, kita akan disuguhi oleh pemandangan yang indah sekali di sisi kiri berupa perbukitan. Kalau dilihat-lihat sih sebenarnya lebih mirip rangkaian pegunungan. Ketika masuk ke wilayah Kota Pelaihari pertama kita akan disambut oleh gerbang selamat datang dan tulisan yang sangat besar tertulis PELAIHARI.  Karena terlihat ikonik untuk tempat berfoto, jadilah kami mampir sebentar di gerbang tersebut.

Pelaihari

Setelah melewati gerbang itu ternyata pemandangan lebih menakjubkan lagi. Karena pemandangan bukit itu tidak lagi di satu sisi saja, tetapi di sisi kiri dan kanan jalan. Jangan ditanya lagi, tentu saja jalannya naik turun membelah perbukitan. Tak jauh dari gerbang, jauh di atas bukit ada rangkaian huruf yang bertuliskan TANAH LAUT. Mirip seperti hollywood punya. Sayang tak sempat ku ambil fotonya.

Tujuan kami hari itu sebenarnya ingin ke jalan-jalan berlibur ke Taman Labirin dan beberapa air terjun. Namun sial, sudah jauh-jauh perjalanan yang ditempuh Taman Labirin malah ditutup untuk umum karena ada acara Pramuka. Tidak mau rugi kami pun bertanya sana sini untuk menuju ke air terjun yang terdekat dari kota. Karena letaknya diantara perbukitan, Kabupaten Tanah Laut memiliki banyak sekali air terjun yang lokasinya tidak jauh dari Kota Pelaihari. Makanya aku agak terkejut juga melihat banyak tempat wisata yang kami lewati sebelum masuk ke Kota Pelaihari salah satu yang terkenal adalah Bukit Kayangan. Tapi cuma lewat aja sih.

Akhirnya ditentukanlah tujuan kami yaitu Air Terjun Bajuin di Desa Sungai Bakar. Letaknya sekitar 10 Km dari Kota Pelaihari atau lebih tepatnya dari tugu hari jadi Kabupaten Tanah Laut. Karena berdasarkan hasil searching di google dan bertanya dengan warga air terjun tersebut yang paling dekat. Maklum ini kali pertamanya aku dan keluarga pergi ke Pelaihari jadi mesti bertanya dulu.

Tugu Hari Jadi Kabupaten Tanah Laut. Dari sini langsung belok kiri.

Jalan menuju ke Desa Sungai Bakar sangat kecil, ya tahu sendiri kan jalan ala-ala pegunungan gitu. Tapi meskipun kecil tak ada kendaraan besar yang “memaksakan diri” untuk masuk kesini. Jalannya pun relatif tenang dan sepi dan juga relatif bagus. Banyak sawah-sawah hijau  dan kebun-kebun milik warga terhampar di sepanjang kiri dan kanan jalan. Selain itu yang lebih mantap lagi adalah pemandangan di kiri dan kanan jalan yang berupa bukit yang tinggi sekali yang di beberapa sudut terlihat tertutup awan tipis.

Bukit Dari Kejauhan

Jalannya relatif kecil dengan kebun pisang disamping jalan

Bukit semakin dekat


Saat kami tiba tak banyak orang yang berkunjung ke tempat wisata ini. Hal itu terlihat dari jumlah kendaraan yang sedikit di tempat parkir. Maklum saja karena saat kami tiba, cuaca pada saat itu sedang hujan yang sudah berlangsung lama di wilayah itu. Untuk biaya parkir ditarik Rp.10000/motor. Tak lupa penjaga parkir menyampaikan kepada kami bahwa jika habis hujan biasanya airnya terlihat kotor, karena air yang turun dari bukit membawa sedikit saripati tanah.

Jujur harus kukatakan bahwa tempat wisata ini fasilitasnya sangat minim. Keadaan kunjunganku pada Februari 2017, pertama toiletnya tidak berfungsi alias dalam kondisi rusak dan tidak ada airnya. Ada mushola yang berdiri tidak jauh dari toilet kondisinya pun sama, tampak tidak terurus. Tidak cuma itu, tempat untuk berteduh dan gazebo tidak terlalu ada.

Oke lupakan dulu soal itu, sekarang kami pun mencoba naik ke atas bukit. Karena katanya air terjun itu ada di atas bukit sana. Untungnya ada titian beton yang dibuat untuk memudahkan wisatawan naik, hanya saja tangga itu tidak sampai tertuju ke puncak.  Kalau kondisi tanah kering sih tidak masalah, yang jadi soal saat itu tanahnya habis diguyur hujan. Akibatnya tanah jadi licin, mana tanjakan pula. Kami yang saat itu bersama dengan wanita dan anak-anak harus ekstra hati-hati baik saat naik maupun turunnya.
Tangga menuju ke Air Terjun

Setelah melalui sedikit perjuangan dan perjalanan, akhirnya tibalah kami di lokasi. Hanya ada satu warung yang berdiri di lokasi itu. Kulihat sekeliling pemandangan begitu bagus berada di perbukitan yang indah. Tapi sekali lagi aku mencari fasilitas umum, tak jua kujumpai di atas sana.

Salah satu batu yang ikonik di areal Air Terjun Bajuin

Tampak bukit di kejauhan

Pemandangan Dari atas setelah hujan

Menurut info yang kucari di internet dari blogger yang pernah berkunjung, katanya air terjun ini memiliki 3 tingkatan. Entah di bagian yang mana lagi itu, karena pada saat itu hanya 2 air terjun yang berhasil kami temui. Inilah salah satu kesulitannya karena tidak ada petunjuk dan jalan di tempat wista ini. Karena fasilitasnya masih minim, jadi jalan untuk naik  dan turun ke air terjun itu hanya menggunakan tali tambang yang diikatkan di pohon. Dengan kondisi yang demikian ditambah lagi tanah yang licin dan basah, sangat tidak memungkinkan mengajak anak kecil untuk ke air terjun. Akhirnya anak-anak disuruh menunggu di warung saja. Untuk memasuki lokasi air terjun kita harus membayar lagi kepada orang yang berjualan di warung sebesar Rp. 2000/orang.

 Tali untuk naik ke bukit yang lebih tinggi

Benar saja yang dikatakan oleh orang-orang di parkiran tadi, saat kami sampai airnya terlihat keruh dan seperti berlumpur. Sayang sekali memang, sudah jauh datang dari Banjarmasin ternyata airnya tidak bisa untuk mandi. Disamping airnya yang keruh, badan kami pada saat itu juga kedinginan. Akhirnya kami hanya bisa berfoto-foto ria di lokasi tersebut.

Entah Tingkatan keberapa ini air terjunnya

Tampaknya salah satu tempat mandi.

Abaikan warna airnya

Terakhir kami pun turun ke air terjun berikutnya. Disini volume air yang terjun lebih besar. Hembusan angin dari air terjunnya itu pun terasa sangat kuat sekali. Memang sudah dibuatkan tangga tepat dihadapan air terjun itu. Tapi tetap saja turunnya harus berpegangan dengan tali tambang itu menuju ke tangga di depan air terjun. Justru disini turunannya lebih curam, jika tidak berpegangan bakal terpeleset. Hampir mirip seperti orang yang panjat tebing.

Sesampainya di air terjun wuih airnya deras sekali bro. Tapi airnya masih terlihat keruh kecoklatan. Tapi meskipun demikian, masih tidak dapat menutup keindahan dan eksotisme air terjun ini. Air terjunya indah dan deras, maksud hati ingin mandi tapi tidak memungkinkan. Karena aku merasa hawanya agak lain disitu, kayak ada hawa kematian. Hehe.

 Air terjun yang lebih besar dan deras

Pancuran air yang deras

Di lokasi ini tampaknya sudah dibuatkan wadah yang menyerupai kolam renang untuk menampung air yang jatuh itu. Entah sedalam apa kolam itu, karena ketika aku celupkan kakiku gak ketemu itu dasarnya. Mungkin karena saat itu musim hujan jadi air terlihat banyak dan meluap. Tapi mengerikan juga kalau mandi di kolam yang airnya tumpah dengan sangat deras, sudah begitu airnya masih mengalir kebawah lagi. Kebayang kan kalau mandi di kolam yang tanpa pagar dengan arus yang deras, bakalan nyemplung ke jurang. Akhirnya kami hanya bisa berfoto-foto ria di lokasi itu. Setelah itu kamipun kembali pulang langsung ke Banjarmasin. Kami tak sempat melihat-lihat dan keliling kota Pelaihari karena hari sudah sore.

Waduuuh turun kemana itu

 Ooh kesini

Air Terjun Bajuin memang memiliki keindahan dan pemandangan yang segar. Hamparan perbukitan yang indah dan air terjun yang segar. Tapi sayang sekali lokasi wisata ini kurang mendapat perhatian serius dari pemerintah setempat. Dari segi fasilitas umum saja masih kurang. Ditambah lagi keselamatan di tempat wisata ini tampaknya kurang terjamin terutama untuk yang membawa keluarga dan anak kecil. Sebagai tambahan sebaiknya jangan berkunjung ketika cuaca sedang hujan atau setelah hujan. Jika tidak ingin menjumpai airnya yang berwarna cokelat dan jalannya yang licin.




Kamis, 22 Desember 2016

Bertanggung Jawab Terhadap Gelar




Zaman dulu orang yang bergelar sarjana jumlahnya sedikit. Hanya beberapa orang saja yang mampu kuliah dan menyelesaikan sekolah tinggi. Itulah sebabnya kenapa orang-orang zaman dulu jika sudah lulus sarjana dan meraih gelar pasti sangat membanggakan sekali. Tidak hanya membanggakan keluarga, tetapi juga membanggakan orang-orang sekitar dan orang-orang yang mengenalnya. 

Entah apa alasan dibalik itu semua karena aku tidak hidup di masa itu. Tetapi yang jelas, meraih sarjana kala itu katanya rada-rada sulit. Sulit dari segi biaya dan juga dari segi prosesnya. Makanya jumlah sarjana dulu hanya sedikit. Tetapi meski kuantitasnya sedikit, kualitas sarjana dulu  jangan ditanya. Selepas wisuda, mereka menajadi orang yang siap kerja dan siap pakai. 

Sekarang setelah setengah abad lebih merdeka, tingkat partisipasi perguruan tinggi di Indonesia semakin baik dan meningkat. Itu artinya semakin banyak jumlah mahasiswa yang kuliah dan semakin meningkat pula jumlah sarjana kita yang dicetak oleh Perguruan tinggi. Tentu saja itu adalah pertanda baik bagi pendidikan kita.

Hanya saja akan selalu muncul pertanyaan. Apakah peningkatan kuantitas ini dibarengi juga dengan peningkatan kualitas. Tampaknya sekarang orang-orang sudah cenderung menganggap sarjana adalah hal yang biasa saja. Tidak lagi seheboh dan sebangga dulu jika ada orang yang telah berhasil wisuda. Memang tetap ada kebanggan dihati segenap keluarga jika ada yang wisuda, hanya saja euforianya tidak sedahsyat dulu. Terutama bagi mereka yang berada di perkotaan.

Hal ini menjadi wajar, ketika kita lihat setelah para mahasiswa resmi menjadi Sarjana. Banyak yang luntang lantung karena tidak adanya lapangan pekerjaan. Lihat saja di data statistik berapa banyak jumlah pengangguran terdidik negeri ini. Jumlahnya semakin meningkat dari tahun ke tahun. Akhirnya menjadi sarjana saat ini bukan lagi menjadi sebuah kebanggaan yang teramat spesial. Apalagi jika ijazah dan gelar tak pernah terpakai di dunia kerja.

Entah apa yang salah, hanya saja tentu proses belajar mahasiswa selama di perguruan tinggi juga menjadi salah satu faktor. Patut disyukuri jika tingkat kemampuan masyarakat untuk masuk perguruan tinggi sekarang ini semakin meningkat. Hanya saja apakah peningkatan itu sebanding dengan kualitas sarjana. 

Tingkat motivasi setiap orang tentu saja berbeda-beda. Ada yang menjalani kuliah dengan bersungguh-sungguh,  ada yang biasa saja,  dan ada pula yang ala kadarnya. Orang-orang dengan tingkat motivasi yang berbeda ini maka akan menghasilkan idealisme, mental dan kapasitas yang berbeda pula.

Makanya jangan heran jika ada saja mahasiswa yang lebih cenderung menghargai hasil ketimbang proses. Apapun dilakukan asal nilai bagus, meskipun harus mengeluarkan biaya berlebih. Proses belajar dan menikmati pencarian ilmu tidak begitu dipedulikan. Tak jadi soal tidak memahami bidang ilmu yang digeluti, yang penting lulus.

Sering dulu kutemui waktu kuliah ada yang ketika disuruh mengemukakan pendapat malah diam tak bersuara. Dipaksa seperti apapun tetap diam juga. Kalaupun terpaksa jawabnya pun seadanya. Ada pula mahasiswa akhir yang sampai tidak mengerti sama sekali tentang bidang ilmu yang tengah ia geluti bahkan sampai ia lulus. Menyandang predikat mahasiswa tentu beban mental dan sosialnya berbeda dengan siswa sekolah. Sebutannya juga “Maha”, tentu harus ada tanggung jawab disitu.

. Tak cuma itu, proses penggarapan skripsi misalnya. Sudah jangan ditanya lagi, ini adalah hal yang paling bikin greget selama kita kuliah. Skripsi dicorat-coret, revisi sana sini, cari bahan ini itu, nugguin dosen, pokoknya sudah jadi makanan wajib mahasiswa tingkat akhir. Proses yang banyak menguras tenaga dan pikiran ini sayangnya ingin dilewati dengan jalan pintas oleh beberapa mahasiswa yang tidak mau ambil pusing.

Akhirnya karena tidak mau repot dengan urusan skripsi, uang pun jadi senjata andalan. Entah dengan menyogok dosen, memakai jasa pembuatan skripsi dan apapun itu asalkan ia tidak perlu pusing membuat skripsi. Maunya terima beres, terima bersih, yang dia tau hanya urusan wisuda. Parahnya hal ini  juga didukung oleh orang tua beberapa mahasiswa macam ini. Bahkan terkadang orang tua juga yang menawarkan anaknya untuk menjadikan uang sebagai alat negosiasi.

Apa yang bisa dibanggakan jika menyelesaikan kuliah dengan cara seperti ini. Sama saja artinya tidak menghargai ilmu, dan sama sekali tidak bertanggung jawab terhadap gelar yang didapat. Ada pepatah bilang hasil tidak pernah mengkhianati proses. Jadi jika proses yang dilalui instan dan ala kadarnya tentu hasil yang didapat ya juga karbitan. 

Alhasil akan kita dapatkan seorang profesor, doktor, magister, dan sarjana yang gelarnya hanya sekedar tempelan. Ketika ditanya pendapat tentang hal yang ia pernah geluti, atau ditanya tentang berita yang lagi up to date. Jawabannya tidak tahu.

Seorang yang menyandang gelar akademik tentu tingkat analitis dan pemahamannya relatif sedikit lebih baik daripada mereka yang tidak masuk perguruan tinggi. Meskipun banyak juga orang yang cerdas dan pintar kendati ia hanya lulusan SMA. Tapi seorang yang bergelar setidaknya dituntut mampu mengamati realitas yang ada dan menganalisis sesuai dengan bidang ilmunya serta memecahkan masalah. Karena ia sudah banyak membaca dan menganalisa.
Sejatinya mahasiswa itu adalah orang yang rajin membaca. Jadi adalah hal aneh jika seorang mahasiswa tapi tidak rajin membaca, jangan salah jika akhirnya ketidaktahuan akan merajalela. Membaca adalah makananya mahasiswa. Tentu ketika sudah menjadi sarjana dan masuk ke dunia kerja, membaca akan menjadi sebuah kebiasaan.

Entah siapa yang salah sistemnya kah atau mahasiswanya kah. Tapi menurut pendapat pribadiku, mau sebagus apapun tempat kuliahnya kalau mahasiswanya tidak memiliki motivasi dan semangat belajar yang tinggi ya sama saja. intinya sih mahasiwa itu asal rajin baca saja. Maka dengan itu ia akan menjelma menjadi orang yang idealis dan punya pandangan dan perspektif sendiri. 

Jangan anggap enteng gelar yang kita sandang. Gelar akademik yang ada di depan dan belakang nama kita punya arti yang besar. Gelar akademik menandakan bahwa kita sudah “ahli” di bidang ilmu yang kita pelajari. Tidak kah kita merasa terbebani, ketika dianggap sarjana, master ataupun doktor tapi kita merasa tidak tahu apa-apa. 

Maka setidaknya bagi semua penyandang gelar akademik harus memahami beban itu. Jadi mau tidak mau harus bertanggung jawab terhadap gelar itu. Bagi mahasiswa yang kelak akan wisuda jangan pernah abaikan proses kuliah. Nikmati semua proses di perguruan tinggi. Karena tidak ada sukses yang diraih secara instan. Klise memang, tapi faktanya memang demikian.