Sabtu, 30 Desember 2023

Cara Menumbuhkan Budaya Baca di Indonesia

 


Jika berbicara fakta dalam urusan literasi, Indonesia adalah negara yang disebutkan UNESCO pada tahun 2016 berada pada urutan kedua dari bawah dari 60 negara yang di Survey. Pada tahun 2023 ini pun peringkatnya masih kurang menggembirakan, masih berada di sepuluh besar dari bawah. Sebuah alarm tentunya bagi masa depan pendidikan di Indonesia.

Meskipun tingkat melek huruf rakyat Indonesia saat ini sudah hampir menyentuh 100%, (kondisi yang jauh lebih baik dibandingkan saat negara ini di proklamasikan) Namun literasi tidak terbatas hanya pada kegiatan bisa membaca saja. Lebih jauh daripada itu literasi bisa diartikan sebagai aktivitas membaca suatu bacaan, memahami bacaan dan menginterpretasi suatu bacaan melalui media apapun baik lisan, tulisan, gambar dan video. Dalam konteks ini membaca tentu saja adalah membaca buku yang lebih utama.

Pendidikan adalah sebuah upaya untuk mencerdaskan bangsa. Salah satu komponen agar suatu bangsa cerah dan cerdas adalah dengan membaca buku. Namun sayang, tampaknya membaca buku belumlah menjadi budaya bagi masyarakat Indonesia kebanyakan. Kegiatan membaca buku bukan menjadi keseharian yang umum bagi sebagian masyarakat kita. Sehingga akan timbul sedikit gegar budaya jika terlihat dan terdengar ada orang membaca buku di tempat umum di negeri ini.

Padahal membaca buku adalah jendelanya ilmu pengetahuan. Banyak hal yang penting didapatkan dari membaca buku. Tak sekedar informasi dan pengetahuan yang didapat, membaca buku juga dapat mengembangkan pola pikir, imajinasi, kreativitas,  sampai yang lebih penting adalah merubah mindset dan perilaku individu.

Finlandia dan Jepang yang merupakan negara dengan peringkat literasi masyarakatnya yang tinggi memiliki perilaku umum yang relatif positif, modern dan berkembang. Meskipun tak ada penelitian langsung terkait hal tersebut. Namun hampir semua negara yang tingkat literasinya tinggi adalah negara yang maju dan modern. Sebagai contoh bagaimana perilaku tertib, antri dan cinta kebersihan sudah menjadi budaya bagi masyarakat Jepang. Tentu saja di negara ini aktivitas membaca buku sudah jadi pemandangan yang biasa ditempat umum.

Selama ini pemerintah Indonesia telah melakukan berbagai pendekatan dan upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan kualitas hasil masyarakat terdidik. Porsi anggaran 20% dari APBN khusus diberikan kepada sektor pendidikan sebagai bukti perhatian pemerintah terhadap upaya peningkatan pendidikan. Tak cuma itu, upaya untuk menumbuhkan minat baca pun terus dilakukan dengan peningkatan fungsi perpustakaan dan pengadaan buku bacaan. Hanya saja sektor hulu strategi meningkatkan minat baca belum terlalu fokus dibenahi seperti masalah royalti penerbitan, subsidi untuk penerbitan dan percetakan sehingga menghasilkan buku yang murah.

Padahal membiasakan rajin membaca buku adalah salah satu faktor sukses untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Percuma saja rasanya kalau setiap siswa atau anak usia sekolah tapi belum menamatkan satupun buku bacaan. Kalaupun membaca, itu pun buku yang dibaca hanya sekedar bahan pembelajaran di sekolah yang dibaca dan dibuka setiap musim ujian atau pada saat ingin mengerjakan soal dan pertanyaan dari guru.

Membiasakan diri membaca buku merupakan urusan yang kompleks dan besar. Jika kita berharap tumbuh minat baca dari lingkungan, rasanya hampir sebagian besar lingkungan tidak mendukung terciptanya kondisi tersebut. Lingkungan keluarga Indonesia amat sedikit yang membudayakan membaca di dalam keluarganya. Begitupun hanya sedikit saja mungkin yang memiliki perpustakaan pribadi dirumahnya.

Salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk meningkatkan minta baca adalah dengan dipaksa. Ya untuk menjadikan membaca buku jadi sebuah budaya di negeri ini tentu harus dilakukan pemaksaan. Seperti layaknya Polisi Lalu Lintas yang menegakkan berbagai peraturan untuk membuat tertib para pengendara bermotor, dan memang efektif menciptakan ketertiban  di jalan raya. Artinya jika minat baca ingin berkembang di masyarakat Indonesia, harus ada regulasi khusus yang mengatur hal tersebut. Harus ada pemaksaan bagi masyarakat agar rajin membaca, yaitu kepada masyarakat sekolah.

Salah satu bentuk regulasi itu adalah dengan memasukkan wajib membaca buku ke dalam kurikukulum setiap jenjang pendidikan mulai SD hingga SMA. Selama ini membaca buku terkesan bukanlah bagian krusial bagi semua tingkatan pengajaran. Buku hanya sebagai bahan ajar untuk mendidik dan bahan untuk belajar. Bukan sebagai sarana mencari informasi ataupun relaksasi.

Terkait upaya itu untuk jenjang SD setiap satu atau dua pekan sekali para guru mewajibkan setiap siswa untuk membaca buku yang sesuai dengan minat dan tingkat usianya. Kemudian masing-masing siswa akan diminta untuk menjelaskan dan menginterpretasikan secara singkat isi buku yang telah dibaca sesuai pemahamannya. Begitu juga untuk jenjang SMP dan SMA dilakukan hal yang serupa. Sehingga dengan begini akan tercipta sebuah ekosistem sekolah dimana aktivitas membaca jadi sebuah budaya.

Sehingga ketika hal tersebut sudah menjadi kebiasaan, para siswa yang awalnya “terpaksa” membaca, diharapkan akan rajin membaca juga ketika berada di luar sekolah. Karena semua jenjang sekolah mulai SD hingga SMA sudah terbiasa membaca dan jadi suatu aktivitas wajib di sekolah, maka diharapkan tidak akan jadi sebuah hal yang baru dan mengherankan lagi jika membaca buku dimana saja. Hal seperti ini jika konisten dilaksanakan selama bertahun-tahun dari generasi ke generasi, tentu akan mampu menjadikan gemar membaca menjadi budaya masyarakat Indonesia.

Metode tersebut sudah terbukti efektif meningkatkan minat baca di Finlandia. Negara Finlandia mewajibkan para siswa sekolah dasar untuk membaca satu buku satu minggu. Jenjang SD saja wajib satu buku satu minggu, lalu bagaimana dengan jenjang SMP dan SMA tentu akan lebih banyak lagi bahan bacaannya.

Tapi tentu saja jika hal tersebut di implementasikan tidak bisa berdiri sendiri. Perlu adanya dukungan dari berbagai sistem seperti perbaikan sistem perbukuan, harga buku yang terjangkau atau perpustakaan dengan koleksi yang lengkap dan mudah diakses oleh masyarakat. Selain itu kualitas sumber daya manusia pendidiknya juga perlu dibenahi dengan berbagai macam formulasi. Karena akan kurang maksimal  menerapkan wajib membaca buku di sekolah jika gurunya sendiri tidak suka membaca buku.

Sehingga jika gemar membaca sejak dini sudah mendarah daging, sudah banyak buku dan bacaan yang tertanam dalam pikiran , maka bukan tidak mungkin seseorang itu akan jadi pribadi yang unggul. Bayangkan jika membaca buku sudah jadi budaya, berapa banyak siswa terdidik yang tercerahkan oleh pendidikan. Betapa banyak anak bangsa yang tercerdaskan kehidupannya setelah menempuh pendidikan yang bermutu. Setiap orang akan berkembang kapasitasnya sesuai dengan buku-buku yang ia baca.  Jadi apapun profesi yang digeluti oleh seseorang, jika rajin membaca buku maka akan menjadikannya orang yang lebih ahli dan berpengetahuan di bidang tersebut.

Mungkin saja jika bangsa kita ini tingkat literasi masyarakatnya tinggi, maka Indonesia akan menjadi negara yang maju, berkualitas dan unggul di segala bidang. Sehingga tak akan kita temui berbagai macam pelanggaran ketertiban di masyarakat, tingkat kriminalitas pun relatif rendah, minimnya kenakalan remaja dan penyakit masyarakat, tingkat korupsi yang rendah, aparatur negara yang jujur, dan penegakan hukum yang adil. Apalagi Indonesia adalah negara beragama yang tingkat religusitas para pemeluknya yang lumayan tinggi. sehingga kombinasi masyarakat literasi-religus ini akan menjadikan Indonesia negara maju yang berakhlak dan berbudaya yang berbeda dari bangsa lain. Semoga.

Sabtu, 13 Mei 2023

Muara Teweh Kota Barito

Sebenarnya ini adalah tulisan lama yang belum sempat aku posting. Tulisan ini adalah catatan pengalamanku tentang Kota Muara Teweh pada tahun 2019 yang lalu. Mungkin saat ini sudah terjadi perubahan yang signifikan di Kota itu. Apalagi sejak itu hingga kini aku belum memiliki kesempatan lagi berkunjung ke Muara Teweh. Mungkin saja penampilan foto ibukota Barito Utara yang ku posting disini sekarang sudah tidak relevan lagi karena banyak perubahan.

Muara Teweh adalah salah satu ibukota Kabupaten di Kalimantan Tengah yang sangat ingin ku kunjungi. Apalagi Muara Teweh merupakan Ibukota Barito Utara salah satu Kabupaten yang tertua di Kalimantan Tengah selain Kapuas, Barsel, Kotawaringin Barat, dan Kotawaringin Timur. Kabupaten tertua lainnya sudah pernah aku kunjungi, nah hanya Muara Teweh ini saja yang belum. Alhamdulillah pada bulan Februari 2019 yang lalu aku berkesempatan berkunjung ke kota ini dalam rangka urusan dinas bersama seorang rekan kerja.

Kami berangkat melalui jalan darat dengan jarak tempuh dari Kota Palangka Raya sekitar 313 Km. Jarak yang lumayan jauh dengan waktu tempuh sekitar hampir 7 jam perjalanan jika tanpa kendala dan perhentian. Waktu itu kami berangkat pukul 09.00 dan tiba pada pukul 18.00. Hal itu lantaran selama perjalanan banyak kendala teknis dan perhentian yang membuat perjalanan kami menjadi lebih lama. Maklum karena keberangkatan kami menggunakan jasa transportasi travel dengan mobil mini bus berkapasitas 7 penumpang. Tarif travel dari Palangka Raya ke Muara Teweh dan sebaliknya sekitar 200-250 ribu per orang.

Kalau perjalanan dari Palangka Raya hingga Kecamatan Ampah (Wilayah Kabupaten Barito Timur) kondisi geografis jalannya cenderung datar dan tidak terlalu banyak “tantangan”. Barulah setelah meninggalkan daerah Ampah dan mulai masuk menuju ke wilayah Kabupaten Barito Utara struktur dan medan jalan perlahan mulai berubah dari awalnya landai dan datar menjadi jalan yang berbukit-bukit.

Kondisi wilayah Barito Utara yang sebagian besar berada di perbukitan membuat jalan yang menuju ke Muara Teweh jadi agak ekstrem kalau menurutku. Hal ini terlihat dari banyaknya jalan naik dan turun juga berkelok di sepanjang jalan wilayah ini. Medan yang hampir mirip bila kita berangkat dari Palangka Raya menuju Kuala Kurun Kabupaten Gunung Mas. Hanya saja menurutku kondisi jalan ke Muara Teweh lebih  menguji nyali. Ini adalah jalan lintasan yang ekstrem yang pernah aku temui. Bahkan ketika pulang menuju Palangka Raya dengan supir yang sama kepalaku agak sedikit puyeng alias gejala mabuk darat. Namun untungnya kondisi dalam tubuhku cepat kembali normal dan pusing itu pun mulai tak ada lagi. Seumur hidup baru kali ini aku merasakan pusing ketika bepergian ketika naik mobil meskipun hanya selintas saja pusingnya. Namun itu sudah cukup menggambarkan betapa menantangnya jalan lintas ke Barito Utara ini.

Bayangkan saja lintasan jalannya pada umumnya membelah perbukitan, ketika jalan turunan langsung bertemu tikungan tajam, ada pula jalan tanjakan yang juga langsung tikungan tajam, kondisi tersebut ditambah lagi dengan badan jalan yang relatif masih sempit dan berselisihan dengan banyak kendaraan besar semacam truk dan tronton. Belum lagi kalau ditambah kondisi jalan yang hujan. Kalau tak punya keahlian berkendaraan yang mumpuni ditambah dengan kendaraan yang tak kuat melawan medan mungkin akan oleng. Apalagi banyak jurang disepanjang kiri dan kanan. Suatu medan perjalanan yang sungguh menguji adrenalin. Untungnya supir yang kami tumpangi kendaraannya ini termasuk dalam golongan orang yang pro melalui medan seperti ini. Karena si supir sendiri merupakan orang lokal yang sudah sering malang melintang melalui jalur tersebut untuk mengantar penumpang.

Lintas Palangka Raya Muara Teweh pada umumnya lingkungan di sepanjang jalan biasa saja, tahu sendiri lah kondisi geografis Kalimantan Tengah yang begitu luas dengan jumlah penduduk yang sedikit membuat pemandangan kiri dan jalan jalan di dominasi oleh hutan-hutan dan beberapa kampung. Namun demi mengenal medan dan melihat secara langsung kondisi lapangan aku enggan untuk tidur lagi ketika perjalanan sudah memasuki wilayah Barito Utara. Setidaknya lintas Ampah-Muara Teweh kami beberapa kali melewati ibukota kecamatan yang mana memiliki kepadatan dan keramaian yang lumayan tinggi, seperti di desa Patas, Kandui, Tapen dan Hajak.


Ketika memasuki wilayah kota Muara Teweh atau tepatnya wilayah yang menjadi kawasan selamat datang dibuat semacam taman dan ornament yang menarik di median jalan. Pada saat kami sampai disana hari sudah senja, jadi kondisi agak gelap. Nah  meskipun gelap ornamen di median jalan yang dimaksud tadi terlihat indah dengan lampu yang membuatnya tampak artistik.

Memasuki wilayah dalam kota nya pun Muara Teweh pun terlihat sangat indah dengan banyaknya lampu-lampu hias yang dipasang di beberapa titik sehingga membuat ibukota Barito Utara itu terlihat ramai dan semarak. Lampu-lampu itu ada yang dipasang di papan nama jembatan, di jembatan penyebarangan, di bundaran dan di pinggir jalan utama. Apalagi di kawasan kuliner dekat bundaran buah disini lampu banyak menghiasi di beberapa titik.

Kamipun memilih menginap di sebuah hotel di yang didepannya adalah sungai Barito Water Front City. Kawasan tempat kami menginap adalah kawasan yang padat dan ramai. Disitu juga ada pasar, pelabuhan dan aktivitas ekonomi lainnya.  Suasana yang lazimnya terjadi pada kota yang dilalui oleh Sungai. Sehingga tidak sulit bagi kami untuk mencari makan dan keperluan lainnya.

Water front city adalah salah satu tempat wisata yang ada di Muara Teweh. Hanya saja tempatnya masih terlihat sepi dari aktivitas berkumpul masyarakat. Terlihat hanya warga sekitar dan pedagang saja yang memanfaatkan Waterfront city ini untuk bersantai. Jarang ada masyarakat yang datang dari jauh dengan menggunakan motor untuk bersantai. Memang kalau dilihat posisi Waterfront City ini tepat bersebarangan dengan pasar dan aktivitas perdagangan lainnya.

Selain waterfront City, masih di satu tempat juga tengah dibangun proyek jembatan yang dinamakan jembatan Hasan Basri 2. Jembatan ini masih on progress belum tersambung tengahnya. Jembatan Hasan Basri 2 rencananya dibangun untuk menghubungkan kota dengan wilayah seberang. Pemkab Barito Utara tampaknya ingin memekarkan wilayahnya ke kawasan seberang. Bahkan di seberang sudah dibangun Masjid Agung. Mungkin karena adanya proyek ini makanya waterfront city jadi terlihat sepi.

Ada pemandangan yang menarik ketika kita bersantai di Waterfront City, yaitu kita bisa melihat rumah lanting berwarna-warni yang mengapung di atas sungai Barito. Sebuah kebijakan yang menurutku sangat tepat untuk membuat tampilan dan wajah Waterfront City jadi lebih elok lagi.

Daerah pinggiran sungai termasuk wilayah yang ramai dengan berbagai macam aktivitas. Pelabuhan sungai disini peran dan fungsinya masih sangat vital hal itu terlihat dari masih banyaknya warga yang menggunakan jasa transportasi angkutan sungai berupa kelotok atau speedboat untuk bepergian. Umumnya tujuan angkutan sungai ini adalah ke wilayah desa yang dilalui oleh Sungai Barito hingga sampai ke Wilayah Puruk Cahu Kabupaten Murung Raya.

Besok harinya setelah kami selesai berurusan di salah satu instansi Pemerintah Kabupaten Barito Utara, kamipun pulang ke hotel. Nah setelah  mengganti pakaian Dinas, kami pun berencana untuk mencari makan dan sekaligus berkeliling kota Muara Teweh. Jika pada saat berurusan tadi kami menyewa  sepeda motor milik tukang ojek di sekitar pelabuhan dengan Tarif Rp.25.000 per jam. Nah kali ini kami ingin menjajal keliling kota dengan berjalan kaki. Bayangkan saja berjalan kaki di siang bolong. Berbekal google map kami pun mulai bertualang.

Menurut pengamatanku Muara Teweh termasuk ke dalam golongan kota dengan tingkat kepadatan dan keramaian yang relatif sedang. Untuk tata kota ia bisa disejajarkan dengan kota-kota “senior” yang ada di Kalimantan Tengah seperti Kapuas, Sampit, dan Pangkalan Bun. Padahal menurut data BPS per Mei 2018 jumlah penduduk Kabupaten Barito Utara adalah sekitar 129.287 jiwa. Jumlah yang masih sedikit relatif.

Tapi meskipun jumlah penduduk masih agak jarang, namun untuk urusan tata kota bisa dibilang Muara Teweh masih tergolong rapi. Pemerintah Daerah setempat pandai memoles wajah kota sedemkian rupa sehingga menarik dipandang.

Topografi dalam kota Muara Teweh cenderung berbukit sehingga membuat jalan-jalan dibuat menanjak dan menurun seperti jalanan yang ada di Kota Kuala Kurun. Dan bahkan dibeberapa sudut jalan dan kotanya yang naik dan turun ada bagian yang mirip dengan salah satu titik di kota Pangkalan Bun Kabupaten Kotawaringin Barat.

Pemkab Barito Utara pandai sekali dalam menata wajah kota dan jalannya. Hampir disetiap median jalan utama rumputnya dipangkas rapi dan dibentuk susunan yang artistik. Tak cuma median, trotoar dan tempat pejalan kaki di samping jalan pun juga bersih dengan diberi cat yang tampaknya dilakukan secara berkala oleh pemerintah setempat. Kondisi jalan dalam kota muara teweh hampir semuanya dalam keadaan mulus dan bersih. Apalagi kalau malam hari jalanan terlihat bagus dengan banyaknya lampu jalan yang berpendar berwarna warni. Pokoknya kota ini kalau urusan jalan terlihat rapi dan bagus. Meskipun proyeksi untuk pelebaran jalan seperti di Palangka Raya sudah tak dapat dilakukan lagi, tapi untuk urusan tata kota Muara Teweh adalah kota terbaik Kalteng di DAS Barito.


Di Muara Teweh ada sebuah Monumen pahlawan besar asal Barito Utara, yakni Panglima Batur. Monumen ini diresmikan pada tahun 2010 oleh Kepala Staff TNI-AD, Jendral George Toisutta. Panglima Batur adalah pahlawan asal Barito Utara yang sudah berjuang melawan penjajah Belanda pada tahun 1905 di bumi yang berjuluk Iya Mulik Bengkang Turan ini. Patung Panglima Batur tampak gagah dengan pose berdiri sambil menghunuskan Mandau. Di belakang monumen ini ada air mancur yang tampak seperti sebuah bukit besar yang artistik. Apabila malam hari monumen dan air mancur ini terlihat indah dengan dilengkapi lampu berwarna warni. Kebetulan letak monument ini berada dekat dengan bundaran air mancur yang juga dilengkapi lampu penuh warna.

Tidak jauh dari monumen dan bundaran air mancur tersebut, masih di satu kawasan berdiri dengan megah rumah jabatan Bupati Barito Utara. Rujab ini mengadopsi gaya eropa dengan pilar-pilar besar nan megah sebagai penyangga. Rujab ini lebih terlihat seperti istana. Bahkan kalau boleh dibandingkan, rumah jabatan Gubernur Kalteng saja kalah megah dengan rujab Bupati Barito Utara ini.

Di Muara Teweh ada bundaran yang cukup ikonik dan dapat menjadi landmark Kota Muara Teweh, yaitu Bundaran Buah. Bundaran ini tidak begitu jauh sekitar 500 meter dari rumah jabatan bupati. Letak bundaran ini dekat dengan taman, pujasera dan Stadion. Rasanya inilah bundaran yang paling memiliki ciri khas di kota ini. Sehingga rasanya kurang lengkap jika berkunjung ke Muara Teweh jika tidak berfoto berlatar belakang bundaran ini.

Kamipun makan di pusat kuliner yang letaknya hanya beberapa meter dari Bundaran Buah itu, dan jaraknya pun juga tepat diseberang Stadion. Untuk harga makanan sih kurang lebih sama dengan harga makanan di Palangka Raya. Itu untuk harga di pusat kuliner kayak semacam café gitu. Lokasi yang harganya berkisar 20 ribuan ke atas per porsinya. Kalau di warung biasa di daerah pasar relatif murah dengan harga dibawah 20 ribu.

Selesai makan kamipun jalan-jalan melihat stadion yang pada saat itu hari sudah mulai sore. Suasana stadion ramai dengan orang yang lari sore di jogging track. Selain itu ada pula tim sepak bola yang tengah berlatih. Hal yang menarik perhatianku selain taman di sekitar stadion adalah kualitas rumput stadion yang tampaknya tebal dan rapi, seperti rumput di stadion internasional. Info yang kudapat memang rumput yang dipakai oleh Stadion yang bernama Swakarya ini adalah rumput Zoysia Matrella, rumput standar internasional. Kualitas rumput stadion yang sangat berkelas sekali untuk tingkat Kabupaten meskipun tribunnya hanya 1 saja. Bahkan saat itu bulan februari 2019 Stadion Tuah Pahoe markas tim sepak bola Liga 1 Kalteng Putra,  di Palangka Raya belum memiliki rumput seperti itu. Selain taman yang ditata dengan indah dan rapi, di sekitar stadion juga ada lapangan basket, rumah betang dan kantor Satpol PP dan Damkar Kabupaten Barito Utara.

Aktifitas masyarakat Muara Teweh utamanya anak mudah lumayan tinggi kala sore hari. Ada yang berolahraga, bersantai, jalan-jalan dan berbagai macam aktifitas lainnya. Namun hanya sayang sekali Muara Teweh masih belum memiliki Mall. Minimal dibangun mall ukuran sedang seperti Citimall yang sudah hadir di Sampit, Pangkalan Bun dan Kapuas. Muara Teweh punya potensi jika dibangun Mall apalagi jika tenan didalamnya ada brand Hypermart, Matahari dan Cinemaxx. Pandangan ini setidaknya dari pengamatanku di Muara Teweh melihat  pusat keramaian yang selalu dipenuhi oleh masyarakat.

Pada sore hari kami pun pulang kembali ke Hotel juga dengan berjalan kaki. Lumayan juga capeknya saat kami berjalan kaki menuju ke pusat kota dan kembali juga dengan berjalan kaki. Ditambah cuaca yang sangat terik membuat bulu kuduk berdiri. Setelah istirahat melepas lelah, malam harinya kami pergi ke pasar blauran yang letaknya hanya bersebelahan dengan tempat kami menginap. Entah ada pasar blauran yang lain atau tidak selain disini, karena menurutku pasar blaurannya terlalu pendek dan pedagang yang berjualan relatif sedikit. Malam hari santai sambil duduk di Water front City juga dapat menjadi pilihan yang tepat untuk melepas penat di Muara Teweh.

Ada satu tempat wisata yang tak sempat kami kunjungi di Muara Teweh, padahal jaraknya dari pusat kota hanya sekitar 18 KM. tempat wisata itu adalah air terjun. Air Terjun Jantur Doyan namanya. Namun sayang, kami baru mengetahui di hari kedua pas sudah malam hari. Sedangkan hari ketiga pada pagi harinya kami sudah pulang kembali ke Palangka Raya. Supir travel yang akan menjemput kami sempat menawarkan diri untuk mengantar kami ke objek wisata dimaksud. Namun takut malah kelamaan, akhirnya niat itu kami urungkan. Kapan-kapan sajalah kami pikir.

Pagi itu sebelum pulang, kami mampir di sebuah toko oleh-oleh yang masih satu kawasan dengan tempat kami menginap. Disitu banyak dijual makanan dan oleh-oleh khas Muara Teweh. Salah satunya yang sangat terkenal dari barito adalah lampok durian. Cemilan yang menyerupai dodol tapi mempunyai cita rasa durian yang sangat kuat. Harganya pun relatif tinggi untuk ukuran setengah kg sekitar Rp. 50.000. Namun cemilan ini memang pantas mahal, karena rasa duriannya sangat kuat, dan kata sang penjual lampok ini dibuat dengan komposisi durian yang hampir 75%. Rasanya memang enak, seperti dodol tapi lebih nikmat lagi karena rasa durian.

Tak lama kemudian mobil jemputan pun datang, kami bergegas cek out dari hotel untuk kemudian melakukan perjalanan menuju Palangka Raya. Entah kapan aku bisa kembali lagi ke Muara Teweh. Harapannya sih ketika aku kembali lagi ke kota ini, beberapa proyek yang tengah berjalan waktu itu sudah selesai. Apalagi saat tulisan ini kubuat, Kalimantan Timur telah dipilih oleh presiden sebagai lokasi ibukota baru Indonesia. Letak geografis Barito Utara yang berbatasan langsung dengan Kaltim tentu membawa keuntungan sendiri bagi Muara Teweh. Bukan tidak mungkin kelak Muara Teweh akan menjelma menjadi salah satu kota besar di wilayah Barito.