Kamis, 29 November 2018

Pontianak Kota Khatulistiwa


Berdasarkan letak geografis, sebenarnya Kota Palangka Raya ibukota Kalimantan Tengah dan Pontianak ibukota Kalimantan Barat terletak di satu pulau, yaitu sama-sama di Kalimantan. Namun karena bentang pulaunya yang sangat luas menyebabkan jarak kedua ibukota provinsi ini mencapai sekitar 1000 Km lebih. Keadaan ini membuat Palangka Raya dan Pontianak seolah dua saudara yang tak saling kenal.
Sebuah perjalanan dinas selama 3 hari pada akhir Oktober 2018 kemarin akhirnya mengantarkanku untuk kali pertama berkunjung ke kota Pontianak, Kalimantan Barat. Provinsi tetangga yang berbatasan langsung dengan Provinsi Kalimantan Tengah. Jika menempuh jalur darat akan memakan waktu yang tidak sedikit, bisa sampai 18 jam lebih perjalanan. Suatu perjalanan yang panjang dan melelahkan pastinya.
Maka dari itu transportasi yang efektif untuk menghubungkan antara Palangka Raya dan Pontianak adalah melalui jalur udara dengan pesawat terbang. Sebelum mendarat di bumi garis khatulistiwa, pesawat terlebih dahulu melintas di atas kota Pontianak tepatnya di sepanjang garis sungai Kapuas hingga Bandara Supadio. Di atas sini kita bisa melihat beberapa pemandangan Kota Pontianak yang terlihat cukup padat dari atas langit.
Setelah beberapa menit bermanuver akhirnya pesawat pun mendarat di Bandara Internasional Supadio. Bandara yang terletak sekitar 17 Km dari kota Pontianak ini secara administratif berada di wilayah Kabupatan hasil pemekaran, Kabupaten Kubu Raya. Kalau dilihat interior bandaranya sudah sangat modern, bersih dan nyaman sama seperti standar bandara modern di Indonesia yang dikelola oleh Angkasa Pura. Di jalur kedatangan pengunjung bisa berfoto dengan miniatur tugu khatulistiwa, ikonnya kota Pontianak di salah satu sudut bandara.
 
Miniatur Tugu Khatulistiwa di Bandara Supadio
Setelah cek in hotel di kawasan jalan Gajah Mada dan dilanjutkan makan siang, kami pun langsung meluncur mencari tempat untuk bersantai menikmati sore. Pilihan pun jatuh di Alun Kapuas Park karena tidak jauh dari tempat kami menginap. Alun Kapuas Park ini adalah sebuah taman yang dibangun ditepi sungai Kapuas. Kalau istilah kerennya sih waterfront city. Melihat lokasi dan pemandangannya hampir mirip seperti waterfront city di Kota Sampit dengan sungai Mentaya-nya atau Dermaga Flamboyan-nya Kota Palangka Raya.  


Alun Kapuas Park Pontianak
Di Alun Kapuas Park adalah tempat yang sangat stabil untuk bersantai sambil memandangi sungai Kapuas, Sungai yang terpanjang di Indonesia. Bagaimana tidak terpanjang, karena aliran sungainya sampai tembus ke Kalimantan Tengah. Itulah kenapa di Kalimantan Tengah ada salah satu kabupaten yang bernama Kabupaten Kuala Kapuas, karena kotanya juga dilalui oleh sungai ini.
 Bersantai sore di Alun Kapuas Park Pontianak

 Waterfront City
 Saat kami berkunjung ke Alun Kapuas Park, hampir tak ditemukan pedagang kaki lima. Sebagai gantinya yang ada adalah pedagang kaki lima terapung, hehe. Tak jauh beda dengan pedagang pasar terapung di Banjarmasin, hanya saja disini menggunakan kapal yang lebih besar dengan menawarkan beraneka jajanan dan minuman.

 PKL Terapung
Selain itu ada juga kapal yang menyerupai kafe terapung. Kapal ini juga merangkap sebagai kapal wisata susur sungai. Kami pun mencoba menjajal kapal susur sungai ini. Rutenya memang tak jauh hanya seputaran kota Pontianak saja. Setiap penumpang hanya dipungut biaya 5 ribu rupiah saja. Tapi kita sudah dapat menikmati beberapa keindahan dan kearifan lokal tepian sungai Kapuas di Pontianak. Kuperhatikan hampir seluruh tepian sungai Kapuas ini sudah dibuatkan siring, sehingga kondisinya tak memungkinkan lagi adanya rumah terapung tradisional (lanting) yang banyak mengapung di tepi sungai seperti di Palangka Raya.

 Cafe terapung dan susur sungai
Melihat pemandangan di kiri dan kanan selama susur sungai, aku jadi teringat dengan pemandangan susur sungai di Banjarmasin yang suasananya hampir mirip. Dalam rute tersebut kami pun ada melewati sebuah masjid berbahan dasar kayu dengan warna cat dominan kuning. Arsitekturnya unik dan klasik dengan puncak atapnya terlihat menyerupai lonceng. Ketika aku searching di google, ternyata itu adalah masjid Jami’ Pontianak atau Masjid Sultan Syarif Abdurrahman. Masjid tertua dan bersejarah di Kota Pontianak. Katanya masjid ini merupakan salah satu bangunan yang menjadi penanda berdirinya kota Pontianak pada tahun 1771. Pas kami melintas, saat itu kebetulan sedang masuk waktu shalat magrib. Tampaknya banyak juga orang-orang yang shalat di masjid tersebut. Langsung aja muncul keinginan untuk shalat di masjid tersebut sebelum pulang ke kota asal, sekaligus berfoto dengan masjid yang berusia ratusan tahun tersebut. Namun apa daya, karena waktu tak sempat, niat tersebut pun akhirnya tak kesampaian.
Masjid Jami’ Pontianak
Hari kedua kami pun mulai berurusan ke salah satu kantor pemerintahan Provinsi Kalbar. Hampir sebagian besar kantor-kantor pemerintahannya masih menggunakan struktur bangunan lama. Hal tersebut terlihat dari model bangunan, dan interiornya yang tampak tak tersentuh renovasi. Kalau boleh dibandingkan masih lebih bagus kantor komplek kantor Gubernur Kalteng dibandingkan Kantor gubernur Kalbar. Dan kalau boleh dibandingkan juga, bangunan milik swasta di Kota ini lebih mentereng dibandingkan bangungan milik Pemerintah.
Setelah urusan dinas beres, siangnya  kami pun kembali pulang ke hotel untuk makan siang dan istirahat. Karena besoknya sudah pulang ke kota asal, maka sore itu kami memutuskan untuk pergi ke tempat pusat penjualan oleh-oleh. Sebagai bekal untuk dibawa pulang. Sebelum mendarat di Kota Pontianak aku sudah mengincar dan punya bayangan akan membawa pulang apa nantinya.
Berdasarkan hasil tanya sini dan tanya situ, maka kami di rekomendasikan belanja di Komplek PSP, pusat oleh-oleh khas Pontianak yang terletak di Jalan Pattimura. Disini berjejer kios-kios yang menjual berbagai macam souvenir mulai dari baju adat, aksesoris, hiasan, miniatur dan lainnya. Pokoknya khas dan unik. Tak Cuma itu disitu juga dijual beraneka makanan dan cemilan khas Pontianak seperti dodol, manisan dan lainnya.
 Disana aku lebih tertarik untuk membeli miniatur Tugu Khatulistiwa. Ternyata miniatur dengan ukuran sedang yang kubeli cukup terjangkau dengan harga 50 ribu. Apalagi desainnya unik dan mewah berada di dalam kaca. Disana ada pula miniatur yang dijual lebih kecil sekitar 25 ribu. Kalau  miniatur yang lebih besar yang ada lampunya dengan kisaran harga 100 ribu ke atas. Selain miniatur aku juga membeli hiasan dinding berbingkai dengan aneka pilihan gambar yang katanya canvasnya terbuat dari kulit kambing. Selebihnya aku juga membeli oleh-oleh berupa camilan yang ternyata juga murah meriah dengan harga mulai dari 10 ribu. Benar-benar pusat oleh-oleh dengan harga yang cukup terjangkau. Setelah puas berbelanja kamipun balik kanan lagi ke penginapan.

 
 Pusat Oleh-Oleh Kawasan PSP
Tempat kami menginap berada di Jalan Gajah Mada, yang mana sepenglihatanku di jalan ini tampak seperti kawasan perhotelan. Di sepanjang jalan ini dan sekitarnya banyak berjejer hotel- hotel mulai dari yang mewah sampai yang hotel biasa saja. Itulah mungkin yang menyebabkan harga makanan di kawasan ini cukup tinggi kalau menurutku. Setidaknya untuk satu porsi makanan ala warteg ya minimal 25 ribu.
Pernah waktu aku sarapan pagi di kawasan jalan Hijaz, masih satu kawasan juga dengan Jalan Gajah Mada. Aku mencoba memesan makanan nasi kuning. Rupanya nasi kuning di Pontianak berbeda dengan di Kalteng dan Kalsel. Jika ditempat asalku nasi kuningnya beraneka pilihan lauk dengan dilumuri bumbu masak merah . Nah kalau di kota khatulistiwa ini nasi kuningnya tidak pakai bumbu masak merah, dan hanya ayam goreng saja lauknya dengan ditambah sedikit sayuran. Persis nasi uduk, hanya yang ini warnanya kuning. hehe. Harganya ya itu tadi agak lumayan lah. Tapi kalau dipikir lagi ya wajar saja kalau harganya segitu, karena letak warungnya berada di kawasan perhotelan. Pembelinya pun rata-rata para penghuni hotel di sekitar situ.
  
 Nasi Kuning Khas Pontianak


Salah Satu Potret Jalan Hijaz Kota Pontianak
Tak banyak ruas kota Pontianak yang ku lewati selama di kota itu. Paling hanya daerah-daerah inti dan kawasan jalan protokol saja yang dilalui saat menuju ke tempat tujuan. Dapat dikatakan Pontianak ini adalah salah satu kota besar, dengan jumlah penduduk yang di kisaran 665 ribuan jiwa. Jauh beda dengan jumlah warga Kota Palangka Raya yang berkisar di angka 250 ribuan jiwa.
Hal tersebut wajar memang mengingat Pontianak termasuk salah satu kota tua di Indonesia dengan usia pada tahun 2018 menginjak 247 tahun. Selain itu Pontianak juga merupakan kota pelabuhan dan sekaligus kota bisnis. Jadi wajar saja jumlah penduduk dan kemajuan kotanya cukup berkembang.
Kalau diperhatikan suasana jalanan  dan kehidupan warga Kota Pontianak ini agak mirip dengan Kota Banjarmasin. Sibuk dan ramai dengan aktivitas ekonomi, di kiri dan kanan jalan banyak berdiri bangunan bertingkat. Di kota ini ada beberapa titik jalan yang kerap dilanda kemacetan.
 Jalanan tak pernah lengang selalu dipenuhi oleh bermacam kendaraan. Keadaan tersebut juga didukung oleh kondisi jalan dalam Kota Pontianak yang cukup bagus dan mulus. Bahkan ada salah satu kawasan yang kulihat mirip sekali dengan kawasan Jalan A. Yani di Banjarmasin. Malah di beberapa kawasan kota Pontianak yang lain, aku melihat sudut kotanya mirip pula dengan salah satu sudut kota di Jakarta.
   
 Salah Satu Gedung di Kota Pontianak

  
  Kawasan Perhotelan di Jalan Gajah Mada
   
 Salah Satu ruas Jalan di Pontianak
Meski tak semua, banyak toko-toko milik pengusaha etnis Tionghoa yang menuliskan plang tokonya dengan huruf mandarin. Disini wajah-wajah oriental tak sulit ditemukan. Pernah salah satu teman iseng menanyakan kawasan yang banyak kumpulan “amoi-nya” kepada rekan yang asli Pontianak. Dikatakannya bahwa orang-orang yang berwajah Tionghoa lebih banyak di Kota Singkawang.
Oh iya orang-orang Pontianak mayoritas menggunakan bahasa melayu untuk percakapan sehari-hari. Setidaknya itu yang sering aku dengar. Ya agak mirip sedikit lah dengan bahasa dan logatnya Upin Ipin. Hehe.
Tampaknya beberapa warga awam Pontianak banyak yang tidak tau Palangka Raya itu dimana khususnya para supir dan pedagang. Ketika disebutkan ibukota dari Kalimantan Tengah barulah mereka ngeh. Bagi mereka tampaknya Palangka Raya semacam kota yang nun jauh disana padahal cuma tetanggaan. Hehe. Lain halnya dengan Pontianak yang sudah cukup dikenal oleh warga Palangka Raya yang awam sekalipun yaitu sebagai daerah penghasil buah langsat dan jeruk dengan rasa khas.
Untuk angkutan umum di Kota Pontianak memang untuk taksi, angkot dan lainnnya agak jarang terlihat. Dengan kata lain agak susah juga mencari transportasi di Kota ini. Tapi mengingat sudah hadirnya ojek online di kota ini seperti Grab dan Gojek  membuat urusan transportasi tak lagi hal yang perlu dirisaukan. Cuma masalahnya ya itu harus punya smartphone jika ingin memesan angkutan online ini.


Jembatan di Pontianak


 Meskipun berstatus sebagai kota pelabuhan, tapi wilayah geografis kota Pontianak tidak berbatasan langsung dengan garis pantai. Jadi kalau mencari wisata alam semacam pantai ya mesti ke Singkawang dulu dengan perjalanan sekitar 2 jam dari kota Pontianak. Sama seperti Palangka Raya dan Banjarmasin, kota yang tak memiliki pantai.
Tapi meskipun tak memiliki wisata alam di dalam kotanya, Pontianak masih memiliki banyak tempat wisata bersejarah dan  terkenal hingga ke mancanegara. Selain masjid dan keraton yang berusia ratusan tahun, Pontianak juga memiliki tempat wisata unggulan yaitu Tugu Khatulistiwa. Tugu inilah yang menjadi ikon kota Pontianak. Tugu Khatulistiwa ini pulalah yang menjadi “jualan” utama pariwisata Kalbar baik nasional maupun internasional.
 
 Tugu Khatulistiwa

Tugu Khatulistiwa terletak sekitar 10 Km dari pusat kota Pontianak. Tugu yang dibangun pada tahun 1928 tersebut adalah titik nol bumi yang peris dilalui oleh garis ekuator. Di titik inilah ada garis khatulistiwa yang memisahkan antara belahan bumi utara dan belahan bumi selatan.  Di titik ini pula setiap tanggal 21-23 Maret dan 21-23 September matahari tepat berada di atas garis khatulistiwa yang menyebabkan bayangan benda tak terlihat selama beberapa detik. Fenomena yang dinamakan Kulminasi Matahari.
Memang di dunia ini ada 12 negara yang dilintasi oleh garis khatulistiwa. Di Indonesia pun ada beberapa titik wilayah yang dilintasi oleh garis ini. Bedanya titik tersebut tak tepat berada di pusat kota. Nah kalau di Pontianak, garis khatulistiwa tepat membelah di kota ini sehingga dekat kalau dikunjungi. Kondisi tersebut ditambah lagi dengan perayaan yang selalu dilakukan setiap kulminasi matahari. Itulah yang membuat Kota Pontianak ini istimewa. Itu pula sebabnya banyak wisatawan mancanegara yang datang berkunjung saat titik kulminasi matahari.
Sebenarnya titik khatulistiwa yang ada tugunya bukanlah titik khatulistiwa yang tepat. Pada tahun 2005 dilakukan koreksi oleh tim ahli. Hasilnya, titik nol garis khatulistiwa yang sebenarnya berada 117 meter ke arah sungai Kapuas dari tugu Khatulistiwa. Tak jauh dari titik semula. Akhirnya dibangun lagi patok dari pipa untuk menandakan titik Khatulistiwa yang baru.
 

 Patok garis khatulistiwa setelah dilakukan koreksi
Tugu Khatulistiwa yang terlihat menjulang tinggi di atas kubah museum Khatulistiwa itu pun bukan tugu aslinya. Itu hanya replikanya saja. Tugu asli yang dibangun pada tahun 1928 itu dapat dilihat di dalam museum, berdiri tegak di dalam museum.

 Tugu Khatulistiwa yang asli sejak 1928 berada di dalam museum tugu.
   
 Interior museum tugu khatulistiwa.
             Saat itu adalah hari terakhir kami di Pontianak, kebetulan pesawat baru akan akan berangkat pada siang hari. Pagi itu rekan-rekanku tak ada yang mau diajak jalan-jalan lagi. Padahal aku belum berkunjung ke Tugu Khatulistiwa. Rasanya ada yang kurang kalau berkunjung ke suatu kota tapi tak mampir ke landmarknya. Kata orang sih kalau berkunjung ke Pontianak belum sah kalau belum wisata ke Tugu Khatulistiwa. Akhirnya karena tak ada yang mau ikut dengan nekat akupun pergi sendirian ke tugu Khatulistiwa.
 Berhubung saat itu adalah hari kerja alias bukan hari libur, jadi tempat wisata tersebut terlihat sepi saat aku kunjungi. Di dalam museum selain dapat melihat tugu yang asli, kita juga dapat melihat foto-foto jadul dan sejarah tugu khatulistiwa. Berwisata ke lokasi bersejarah dan fenomenal seperti tugu khatulistiwa ini sungguh menarik. Banyak informasi dan pengetahuan yang kudapatkan ketika berkunjung kesini. Gembira dan senang sekali rasanya bisa kesampaian ke tugu ini.
Hanya sedikit saran untuk pemerintah setempat agar lebih memperhatikan kawasan wisata ini. Pemerintah harus lebih mengoptimalkan kondisi lingkungan dan fasilitas di objek wisata Tugu Khatulistiwa.
Sepulang dari Tugu Khatulistiwa, karena di sana tak ada Ojek Online yang beroperasi aku pun menumpang oplet sampai ke dermaga Ferry penyebrangan. Dermaga penyeberangan Ferry ini terletak kurang lebih 4 Km dari Tugu Khatulistiwa. Dermaga Ini adalah jalur terdekat untuk sampai ke pusat kota Pontianak. Jika melalui jembatan agak jauh karena harus memutar. Sedangkan melalui penyeberangan ini agak sedikit menghemat waktu karena langsung menyeberang ke Alun Kapuas Park. Persis seperti Ferry penyeberangan di Kabupaten Kapuas yang banyak digunakan oleh masyarakat ketimbang harus memutar jauh melalui jembatan.
  
 Ferry penyeberangan orang dan kendaraan

Pukul 11.30 sesampai di hotel aku  dan rekan-rekan pun langsung cek out dan bersiap untuk berangkat ke Bandara Supadio. Untung saja aku sempat berkunjung ke Tugu Khatulistiwa ikon utama Pontianak dan Kalbar. Karena aku tidak tau kapan lagi aku bisa kembali ke kota ini. Mengingat sulitnya transportasi yang efektif dan murah untuk sampai ke Provinsi ini jadi ya kalau tidak ada urusan tak mungkin dalam waktu dekat akan kembali lagi.
Saat ini di kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah Kementerian PUPR sedang mengerjakan sebuah proyek jembatan yang nantinya akan menjadi jalur alternatif penghubung Kalteng dan Kalbar. Yah semoga saja ketika jalur ini sudah terbuka dan mulus, setidaknya dapat memperpendek jarak antara Palangka Raya dan Pontianak dengan lama perjalanan tak sampai 12 jam. Sehingga harapannya di masa depan warga Palangka Raya dan Pontianak sudah biasa saling berkunjung.


Selasa, 15 Mei 2018

Minat Baca dan Mental Bangsa


Sumber Foto : topieks.blogspot.com

Bulan April dan Mei bolehlah jika disebut sebagai bulan-bulannya pendidikan. Mengingat beberapa peringatan yang bertema pendidikan terjadi di dua bulan ini. sebut saja tanggal 23 April hari buku sedunia, 2 Mei merupakan hari pendidikan nasional, dan 17 mei nanti adalah hari buku nasional.
Kemajuan suatu bangsa dan negara sebenarnya tak lepas dari berkualitasnya  pendidikan yang dimiliki. Salah satu cerminan keberhasilan pendidikan adalah terlihat dari tingkat minat baca masyarakat di  suatu negara. Singkatnya buku dan negara maju adalah dua hal yang saling berkaitan.
Berkaca kepada berbagai survey tentang minat baca masyarakat, Indonesia berada pada posisi yang cukup miris yaitu tergolong sebagai negara dengan minat baca yang sangat rendah. Hasil itu berbanding lurus jika kita melihat kondisi mental dan peradaban masyarakat Indonesia yang bisa kita saksikan saat ini.
Suatu pembangunan dan kemajuan bangsa tidak akan bisa tercapai jika hanya mengandalkan sumber daya alam tanpa  tersedianya sumber daya manusia yang mumpuni. Sumber daya manusia adalah subjek pembangunan yang memberikan arah dan warna bagi peradaban suatu bangsa. Kita coba berkaca pada negara-negara seperti Jepang, Jerman, Australia, Amerika, Finlandia dan lainnya yang mana minat baca masyarakatnya tergolong tinggi, ternyata berbanding lurus dengan tingkat kemajuan negara dan kualitas SDM nya.
Banyak yang menjadi faktor rendahnya minat baca di Indonesia. Beberapa diantaranya adalah rendahnya sosialiasi gemar membaca sedari dini di lingkungan rumah tangga, harga buku yang relatif mahal, distribusi buku yang kurang luas dan kurangnya prioritas kewajiban membaca yang ditunjukan melalui program pemerintah.
Maka tak heran jika mental dan peradaban bangsa ini lumayan tertinggal dibanding negara maju kendati sudah merdeka lebih dari 72 tahun. Penyelesaian masalah melalui kekerasan, tawuran pelajar, intoleransi, dan potensi konflik lainnya terjadi karena minimnya pengetahuan. Padahal potensi konflik itu bisa diminimalisir andai saja setiap orang mempunyai pikiran dan nurani yang senantiasa tercerahkan dari proses membaca buku.
Begitupun berbagai macam permasalahan bangsa ini seperti kemiskinan, ketenagakerjaan, birokrasi, hukum dan segalanya dapat dipecahkan jika semua komponen masyarakat yang terlibat dalam entitas bangsa memiliki kapasitas yang memadai dari proses pendidikan dan membaca. Sehingga setiap individu mampu memberikan sumbangsih kepada bangsa dan negara.
Tulisan ini bahasanya memang terlalu normatif. Tapi memang demikian faktanya bahwa pendidikan adalah pintu gerbang mengentaskan segala permasalahan bangsa. Salah satu bentuk pendidikan sepanjang masa adalah melalui kegiatan membaca buku.
Untuk itu mengakhiri tulisan ini, agar tidak berujung kepada kritik tanpa solusi, setidaknya ada beberapa saran yang sekiranya bisa dilakukan :

1.       Memulai budaya membaca sedari dini di setiap rumah tangga.
Setiap orang tua harus memberikan keteladanan budaya rajin membaca di dalam rumah. Sehingga kecintaan terhadap buku akan semakin tumbuh. Biarpun harga buku murah, kalau tidak ada niat dan kegemaran membaca sedari dini itu sama juga dengan

2.   Mewajibkan setiap siswa di semua jenjang sekolah untuk membaca 1 buku untuk 1 minggu.
Memang membaca itu merupakan aktivitas yang memerlukan kerelaan dan keikhlasan agar dapat memamahi isi buku. Namun bagi bangsa kita yang sudah akut rendahnya budaya baca, cara “paksaan” mungkin bisa jadi pilihan yaitu dengan mewajibkan setiap siswa untuk membaca 1 buku selama satu minggu.

3.       Perbaikan sistem perbukuan nasional.
Harga buku yang mahal dan distribusi yang kurang merata merupakan faktor yang tak dapat diabaikan. Untuk menuju masyarakat yang gemar membaca, selain dua poin diatas tentu juga harus ada dukungan dari pemerintah mengenai perbaikan sistem perbukuan. Hal itu dilakukan dengan subsidi terhadap penerbitan buku sehingga mampu menekan harga jual buku di masyarakat tanpa mengurangi pendapatan dan kesejahteraan penulis.

Menurut hemat penulis, cara utama untuk menyelesaikan permasalahan bangsa ini adalah melalui pendidikan salah satunya adalah dengan menumbuhkan gemar membaca ke seluruh masyarakat Indonesia. sehingga kemudian akan tumbuh sikap dan mental pembaharu dari segenap elemen bangsa. Maka dari itu mari membaca.


Rabu, 02 Mei 2018

Resensi Buku : Membedah Tantangan Jokowi-JK


Penulis                :                            
Penerbit               : Indoprogress – Tangerang (Banten)                                                            
Halaman             : xvii + 304 hlm; 140 x 203 mm
Cetakan/ Tahun : Pertama/ Desember 2014
Genre                  : Non Fiksi

Saat tulisan ini dibuat pemerintahan Jokowi – JK sudah berjalan sekitar hampir 4 tahun. Sejatinya hal tersebut bukanlah umur pemerintahan yang bisa dibilang baru. Jusrtu dapat dikatakan sebuah pemerintahan yang sedang memasuki masa evaluasi, karena tahun 2018 sudah memasuki tahun politik

 Setidaknya banyak program dan kebijakan yang sudah dikeluarkan oleh Jokowi – JK selama ini. Namanya kebijakan pasti akan selalu menimbulkan pro dan kontra. Setiap tindakan dan pilihan pemerintahan apakah ia peduli maupun tidak itu sudah masuk ke dalam ranah keputusan atau pengambilan kebijakan. Sehingga wajar kemudian jika ada keluhan dan kritikan yang muncul akibat tidak terakomodirnya berbagai macam tuntunan masyarakat.

Negara seluas Indonesia ini memang memiliki tingkat kesulitan dan tantangan yang tidak kecil. Setiap pemerintahan pasti akan mewarisi berbagai macam problema masa pemerintahan sebelumnya. Itu kemudian ditambah lagi dengan munculnya berbagai macam tantangan dan masalah baru selama pemerintahannya berjalan. Jika boleh menyimpulkan lagi negara sebesar Indonesia ini memiliki segudang masalah yang harus diatasi. 

Buku Membedah Tantangan Jokowi – JK ini menjabarkan tentang tantangan-tantangan yang akan dihadapi oleh Pemerintahan Jokowi – JK periode 2014-2019 dari perspektif berbagai sektor. Demi luasnya cakupan dan dalamnya pembahasan, setiap bab memiliki pembahasan yang berbeda dengan bab lainnya. Begitupun dengan para penulis yang berkontribusi dalam buku ini memiliki latar pemahaman dan profesi yang berbeda-beda pula. Setidaknya ada sekitar 19 penulis yang terlibat dalam buku ini dengan pembahasan yang berbeda. Buku ini menjadi sebuah buku yang menguraikan berbagai macam permasalahan bangsa ini (meskipun tidak komprhensif), yang masih belum tuntas dan harus diselesaikan oleh Pemerintahan Jokowi – JK.

Buku yang sebagian besar tulisannnya ditulis dengan pendekatan ilmiah dan teoritis ini memberikan gambaran keadaan bangsa ini dan menganalisisnya dalam kerangka program kerja Jokowi. Buku ini dituliskan dan diterbitkan di akhir tahun 2014 atau 2 bulan pasca Jokowi dilantik sebagai presiden Republik Indonesia Ke- 7.  Sehingga isi buku ini kalau dilihat dari sisi merupakan sebuah ramalan tentang apa yang akan terjadi jika kebijakan yang diambil seperti ini atau seperti itu. Sebagian besar tantangan yang dipaparkan disini memang benar masih menjadi hal krusial yang harus dipecahkan.

Menarik memang jika harus dikatakan bahwa buku ini sangat relevan dibaca pada masa pemerintahan yang sudah berjalan lebih dari setengah periode di 2018 ini. Jika para penulis (saat itu) hanya dapat menerka dan menduga kebijakan yang akan diambil Jokowi - Jk terkait permasalahan bangsa. Lain halnya jika buku ini dibaca pada masa sekarang ini. Selain mendapatkan rumusan umum suatu permasalahan, pembaca juga langsung dapat mengevaluasi arah kebijakan pemerintahan ini. Pembaca juga dapat memberikan penilaian apakah pemerintahan Jokowi – JK sekarang ini sudah sesuai dengan program kerja dan janji kampanyenya. Dan sekaligus juga berpikir kritis terkait kebenaran analisa para penulis buku ini.

Meski bahasa dan pendekatan buku ini kurang menggugah pembaca awam, namun  pada akhirnya buku ini cukup bagus dibaca untuk menambah pemahaman kita terhadap permasalahan bangsa dan sekaligus memberikan evaluasi terhadap pemerintahan Jokowi – JK yang akan berakhir di 2019 tahun depan.



Minggu, 12 November 2017

Penulis Juga Pahlawan





10 Nopember adalah hari yang bersejarah bagi bangsa Indonesia. Setiap tahunnya tanggal ini diperingati sebagai hari pahlawan. Dijadikannya tanggal 10 Nopember sebagai hari pahlawan adalah untuk mengenang jasa para pahlawan yang telah gugur pada pertempuran 10 Nopember di Surabaya. Semua demi mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Dan kini masa pun telah berganti. Telah 72 tahun bangsa kita merdeka. Peperangan di negeri ini pun telah lama usai. Tidak ada lagi tentara yang gugur demi mempertahankan kemerdekaan. Dapat dikatakan negara kita sekarang dalam keadaan damai dari segi militer.

Namun melihat keadaan demikian, bukan berarti saat ini tidak ada lagi sosok pahlawan di negeri ini. Banyak pahlawan-pahlawan yang memberikan banyak jasanya bagi bangsa dan negara. Seperti pahlawan pendidikan (guru), pahlawan kesehatan(dokter) dan pahlawan lainnya. Pahlawan-pahlawan itu bergerak dan berjasa menurut bidangnya masing-masing.

Namun ada salah satu pahlawan yang menurutku kontribusinya jauh lebih besar dibandingkan yang diatas. Bahkan efek jasanya pun jauh lebih luas. Serta cakupan wak-tunya tidak terhingga. Ia adalah pahlawan yang menegakkan keadilan, menyampaikan kebenaran dan menyebarkan informasi melalui tulisan.

Guru, dokter, pengusaha, sutradara, pilot, dan lainya bisa menjadi seperti  itu karena efek sebuah tulisan. Yah setidaknya  mereka bisa menjadi “orang” salah satunya adalah karena banyak membaca. Memasukkan ilmu pengetahuan dari buku-buku dan artikel yang mereka baca. Sedangkan buku-buku dan artikel itu adalah ilmu yang dikumpul dan dituliskan oleh para penulis.

Tidak hanya itu saja. Sebuah tulisan yang inspiratif misalnya dapat memberikan efek yang luar biasa bagi yang membacanya. Tulisan yang mencerahkan itu bukan tidak mungkin dapat memotivasi pembacanya untuk berubah jadi lebih baik, menggerakkan diri untuk segera bertindak positif, dan merubah pola pikir. Jika tulisan yang bermuatan baik ini dibaca dan disebarkan oleh banyak orang bukan tidak mungkin bangsa ini perlahan akan berubah menjadi lebih baik. Melalui tulisan para penulis dapat menularkan virus yang positif kepada para pembaca. 

Betapa banyak sudah buku dan tulisan inspiratif yang kubaca. Semua itu memberikan sumbangan yang berarti bagi perubahan sikap dan pola pikirku. Memberikanku pencerahan, memberikanku wawasan dan pengetahuan serta memberikanku semangat untuk mencapai tujuan hidup yang lebih baik. 

Sebuah tulisan rentang waktunya juga tidak terkira. Misalnya hari ini kita menulis tentang pahlawan, 10 tahun kemudian tulisan itu pun akan tetap ada. Bahkan saat kita sudah tidak ada di dunia ini pun tulisan kita akan tetap abadi. Luar biasa sekali kalau tulisan kita yang bermanfaat itu masih dibaca orang saat kita sudah tiada. Contohnya saja buku-buku karya Soekarno, Hatta, dan penulis-penulis lain yang sudah almarhum. Sampai saat ini buku-buku karya mereka masih tetap menginspirasi dan menebar manfaat bagi banyak orang kendati orangnya sudah tidak ada di dunia ini. 

Sungguh luar biasa efek sebuah tulisan yang inspiratif dan bermanfaat. Dan sungguh luar biasa pula efek tulisan yang isinya menyesatkan. Untuk itu tinggal kebijaksanaan pembaca saja memilah informasi mana yang layak di serap dan mana yang tidak. Tapi bagaimana pun juga sebagai penulis yang baik, hendaknya jangan sampai membuat tulisan yang menyesatkan.

Dari kontribusinya yang besar itu, tidak salah kalau para penulis juga berhak mendapatkan predikat sebagai pahlawan. Tugas dan peran mereka sangat mulia. Mereka adalah pahlawan yang berjuang melalui tulisan, berjuang melakukan perubahan dan pencerahan melalui goresan-goresan huruf yang bermakna. Dan karyanya pun akan tetap abadi dan mencerahkan sepanjang masa. Teruslah berjuang dan berkarya para pahlawan.

Selamat hari pahlawan.

Senin, 30 Oktober 2017

Resensi Buku : Rumah Tangga Nabi Muhammad SAW



Penulis            : H.M.H. Al-Hamid Al Husaini                          
Penerbit          : Pustaka Hidayah -  Bandung                                                                           
Halaman        : 1227
Tahun             : 2011 (cetakan IV)

Subhanallah mantap. Itulah kalimat yang kiranya tepat untuk menggambarkan betapa kayanya buku karya penulis asli orang Indonesia ini. Seumur hidupku berkecimpung di dunia baca membaca, karya inilah buku yang paling tebal yang pernah aku baca dan tuntaskan. Biasanya buku paling tebal yang pernah kubaca hanya berkisar di angkat 500 lembar, tapi buku ini sungguh fantastis sekitar 1200 halaman lebih. Buku setebal itu mampu kuhabiskan dalam waktu sekitar 1 bulan lebih.

Bukan halaman yang bejibun itu membuat buku ini istimewa. Tetapi konten dari buku inilah yang membuat buku ini luar biasa. Karena buku ini berisi tentang banyak ilmu dan pengetahuan sejarah islam di dalamnya. Ditambah lagi bahasanya yang ringan dan mudah dimengerti layaknya membaca sebuah novel. Tidak sembarang comot riwayat, penulis buku ini dengan sangat hati-hati menganalisa dan mencari kecocokan mana riwayat yang umum diterima oleh para ulama dan pemerhati sejarah islam. Sehingga isi buku ini insya allah dapat dipertanggungjawabkan  kelurusannya.

Biasanya sirah nabawiyah yang beredar di Indonesia sebagian besar adalah karya terjemahan dari penulis timur tengah. Indonesia beruntung memiliki H.M.H Al-Hamid Al-Husaini (Alm) ulama yang pandai menulis dan mendokumentasikan pikirannya dalam sebuah buku. Sehingga buku yang awalnya diterbitkan pada tahun 1992 kemudian di revisi pada 2007 ini akan menjadi salah satu khasanah asli bangsa Indonesia mengenai sejarah keislaman khususnya tentang rumah tangga Nabi Muhammad SAW.

Buku lain karya penulis Indonesia memang banyak yang mengulas tentang keluarga Rasulullah SAW juga. tapi rasanya tak ada yang selengkap buku ini. Sehingga tak berlebihan jika buku ini dijadikan sebagai salah satu bacaan wajib bagi umat islam Indonesia untuk memperdalam keilmuannya mengenai sejarah masa lampau kehidupan rumah tangga Nabi Muhammad SAW.

Sesuai judulnya, buku ini hanya fokus kepada kehidupan rumah tangga Nabi Muhammad SAW. Rumah tangga disini tidak hanya sebatas kisah kehidupan Rasulullah dan para istrinya saja, tetapi juga menceritakan secara detail kehidupan anak, cucu dan cicit nabi Muhammad SAW. 

Memang tak semua anak, cucu dan cicit rasulullah yang dikemukakan khusus dalam buku ini. Seperti misalnya tentang tiga anak lelaki nabi Muhammad SAW yang meninggal saat mereka masih kecil. Karena sangat sedikit riwayat mengenai mereka, maka penulis memilih tidak memasukkan ketiganya dalam satu pembahasan khusus. Sehingga tanpa maksud penulis untuk pilih kasih, penulis hanya mengemukakan keturunan Rasulullah SAW yang banyak diriwayatkan orang dan memiliki pengaruh yang cukup besar dalam sejarah islam.

Di Bab awal penulis membuka pembahasan dengan kisah para bunda nabi. Diantara bunda nabi yang dikemukakan di bab ini adalah bunda nabi Ismail as, Musa as. Isa as. dan Nabi besar Muhammad SAW. Mengisahkan betapa besarnya pengorbanan seorang bunda kepada anaknya.

Di bagian kedua penulis mulai bercerita tentang istri nabi Muhammad SAW mulai dari Khadijah ra. sampai dengan Maimunah Binti Al-Harits. Total istri nabi Muhammad SAW sampai akhir hayatnya adalah 12 orang. Tentu saja ke 12 orang itu tidak dinikahi sekaligus. Melihat jumlah yang banyak itu, tentu ini akan dimanfaatkan oleh orang yang tidak suka dengan islam untuk menyerang nabinya. 

Perlu diketahui bahwa Rasulullah SAW menikahi ke 12 orang wanita itu bukan karena  nafsu. Tapi lebih disebabkan untuk menolong dan perasaan tidak enak untuk menolak. Seperti yang diriwayatkan dalam buku ini, ada beberapa istri nabi Muhammad SAW yang merupakan anak sahabat beliau sendiri, ada pula yang janda sahabat beliau juga. Karena tidak enak menolak permintaan sahabat untuk menikahi anaknya, beliau pun menikahi beberapa orang wanita sepeninggal istri terkasihnya Khadijah ra.  Ada pula beliau menikahi Ummu Habibah anak musuh beliau si Abu Sufyan. Hal ini dilakukan semata agar keluarga Abu Sufyan tidak merasa dikucilkan masyarakat karena pernah memerangi nabi Muhammad SAW. Ini juga dilakukan sebagai kebaikan akhlak Rasulullah menjalin silaturahmi dengan orang yang pernah memusuhinya.

Hal utama dan menarik yang perlu dikemukakan disini adalah Khadijah ra. adalah istri Nabi Muhammad SAW yang pertama dan utama. Hanya melalui rahim Khadijah lah Rasulullah SAW beroleh keturunan yang terus tersambung hingga hari ini. Sedangkan istrinya yang lain tidak melahirkan anak untuk nabi Muhammad SAW. Hanya Mariyah lah istri nabi yang lain yang melahirkan seorang anak lelaki yang diberi nama ibrahim. Namun rupanya Allah berkehendak lain dengan mewafatkan ibrahim saat usianya masih balita. Praktis hanya keturunan Khadijah lah yang menjadi garis riwayat nabi Muhammad SAW.

 Selama Khadijah ra. hidup, Rasulullah SAW tidak pernah menikahi wanita lain. Khadijah tidak hanya seorang istri, ia juga menjadi wanita pertama yang beriman dan masuk islam. Ditambah dengan pengorbanan dan pendampingan yang dilakukan oleh istrinya sejak sebelum masa kenabian sampai setelah masa kenabian yang berat, tak heran jika nabi Muhammad SAW amat merindukan dan menyayangi istrinya tersebut.

Di bagian ketiga penulis mulai bercerita tentang anak dan cucu nabi Muhammad SAW. Dimulai dengan menceritakan riwayat anak-anak perempuan, cucu dan cicit nabi Muhammad SAW. Di bagian empat penulis bercerita mengenai riwayat cucu dan cicit nabi muhammad SAW.

Di episode inilah saya jadi tahu tentang riwayat tragedi karbala. Disini pulalah aku jadi tahu bagaimana perebutan politik saat itu sudah menjalar di dunia islam. Kemudian persatuan dan kesatuan umat mulai goyah. Pertentangan dan perselisihan antar sesama umat islam kian tak terbendung selepas kekhalifahan Umar bin Khatab Muawiyah yang merebut kekuasaan secara tidak sah, mulai menetapkan sistem kerajaan di dunia islam. Dimana sebelumnya sistem pemerintahan islam adalah ke khalifahan. 

Banyak mudarat yang dilakukan oleh dinasti Ummayah dibawah kepemimpinan Muawiyah. Salah satu yang paling diingat dan tercatat dalam sejarah adalah tragedi Karbala yang menewaskan cucu kesayangan Nabi Muhammad SAW Husain ra. Padang karbala di dekat kota Kufah (sekarang irak) menjadi saksi bahwa ada kekhalifahan zalim yang mengaku islam tega membantai ahlul bait rasulullah SAW. Hal ini akan menjadi sejarah yang paling diingat di dunia islam. Layaknya pengkhianatan G30S di Indonesia, sejarah tragedi karbala ini pun boleh dibilang sebagai sejarah kelam dunia islam.

 Itulah pembahasan terakhir dan terbanyak di buku ini mengenai riwayat anak cucu nabi Muhammad SAW. Sebagian besar bercerita tentang kehidupan keras ahlul bait rasulullah sepeninggal nabi agung akhir zaman. 

Mungkin karena sang penulis sadar bahwa hampir sebagian besar pembahasannya banyak mengagungkan ahlul bait nabi Muhammad SAW khususnya dari pasangan Ali bin Abi Thalib dan Fatimah binti Muhammad. Sehingga takut kalau buku ini dicap sebagai syiah, penulis pun membeberkan beberapa tulisan tentang syiah di akhir bab ini. 

Dari bab tersebut dapat dikatakan bahwa sang penulis adalah seorang ahlu sunah wal jamaah, bukan syiah. Karena makna syiah sendiri sekarang ini sudah berbeda dengan gerakan politik pada zaman Hasan dan Husain. Dulu syiah itu masih lurus,, karena mereka adalah kelompok yang mencintai ahlul bait (keturunan) nabi muhammad SAW dari garis Ali bin Abi Thalib. Sedangkan Syiah yang sekarang sudah banyak menyimpang dari ajaran islam dan banyak memasukkan tahayul kedalam ajaran mereka. Suatu hal yang terlalu jauh dari nilai-nilai islam. 

Maka dari itu, seseorang yang mencintai ahlul bait bukanlah seorang syiah, karena nabi Muhammad SAW sendiri dalam beberapa hadist shahih seringkali mewajibkan agar umatnya mencintai ahlul bait beliau.

Begitulah buku ini ditulis. Buku ini memberikan magnet bagi pembacanya untuk terus membaca dan membaca menghabiskan buku ini. Sehingga walaupun bukunya tebal, tapi tidak memupuskan minat untuk terus membaca hingga akhir. Karena gaya penulisannya sangat Indonesia sekali, bahasanya pun tidak ribet. 

Selain itu juga yang menarik adalah pemaparan riwayat kehidupan rumah tangga Nabi Muhammad SAW dalam buku ini ditulis dalam bahasa ala novel yang membumi dan manusiawi sekali. Sehingga tak sulit bagi pembaca untuk membayangkan adegan demi adegan yang tersaji dalam buku ini. Pun kehidupan nabi muhammad SAW lebih terlihat membumi sama seperti kehidupan rumah tangga manusia lainnya kebanyakan. Hanya saja beliau lebih mulia dan penuh teladan dan kebaikan. Semoga Allah SWT memberikan tempat yang mulia bagi nabi Muhammad SAW dan ahlul bait beliau. Amiin.

Dan tak lupa juga semoga amal kebaikan dan ilmu yang dituangkan dalam buku ini dan buku lainnya akan menjadi amal jariyah bagi almarhum H.M.H. Al-Hamid Al Husaini yang telah wafat pada tahun 2002 silam. 

Akhirnya buku ini harus dibaca oleh segenap umat muslim di manapun berada. Karena buku ini penuh informasi dan sejarah mengenai keislaman yang bersumber dari riwayat hadisth yang shahih. Sehingga isi buku ini dapat dipertanggungjawabkan. Terakhir saya kutip pernyataan dari penulis yaitu: MENCINTAI AHLUL BAIT BUKAN BERARTI SEORANG SYIAH

Rabu, 18 Oktober 2017

Data Statistik Untuk Pembangunan Kalimantan Tengah






Hidup ini tak asik tanpa data statistik. Namun, bagi orang awam jika sudah mendengar tentang data statistik, mungkin ada yang menganggapnya biasa saja atau ada yang berpikir, “ah itu bukan urusan saya”. Memang, data statistik bagi kebanyakan masyarakat awam masih dipandang sebelah mata. Ia hanya dianggap sebagai informasi-informasi berupa angka yang tidak tahu selanjutnya mau dibawa kemana dan dipakai untuk apa.

Data statistik merupakan domainnya Badan Pusat Statistik (BPS). Karena di Indonesia sebagian besar publikasi resmi data-data tersebut melalui BPS. Sumbernya dihimpun dari hasil sensus Badan Pusat Statistik serta oleh berbagai lembaga, instansi dan pihak lainnya. Data-data tersebut umumnya meliputi semua sektor yang menyangkut kepentingan orang banyak misalnya jumlah penduduk, kondisi geografis, pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan dan lain sebagainya. Kemudian secara berkala angka-angka tersebut nantinya akan terus diperbarui sesuai dengan keadaan terkini.

Bagi pemerintah khususnya pemerintah di Kalimantan Tengah data statistik tentu sudah sangat jelas fungsi dan manfaatnya. Data-data yang berupa angka tersebut memiliki peran ganda bagi pemerintahan. Pertama ia bisa menjadi alat bagi pemerintah untuk menyampaikan capaian-capaian kinerja pemerintahannya selama suatu periode. Kedua ia juga bisa menjadi patokan atau indikator untuk merumuskan dan menentukan arah kebijakan pemerintah kedepannya. Sehingga amat sangat besar peran data statistik bagi pemerintahan di jenjang manapun.

Lalu bagi masyarakat Kalteng sendiri seberapa pentingkah data statistik itu. Jawabannya adalah tergantung apa kepentingan yang ingin didapatkan dari data tersebut. Bagi kalangan pengusaha informasi tentang jumlah penduduk, pendidikan, pekerjaan, perdagangan dan lainnya akan sangat membantu dalam menentukan strategi bisnis. Dalam katalog yang di publikasi BPS banyak memuat informasi yang berhubungan dengan dunia usaha. Sehingga hal tersebut akan memudahkan para pengusaha dan investor untuk membantu mengembangkan usaha di bumi Tambun Bungai. Misalnya tingkat hunian hotel di Kota Palangka Raya yang kian tahun kian menunjukkan tren yang positif, bukan tidak mungkin indikator ini akan dijadikan oleh para pengusaha hotel untuk banyak mendirikan hotel di Kota Palangka Raya. Begitupun tingkat pendapatan dan konsumsi masyarakat Kalimantan Tengah yang semakin meningkat dapat dijadikan acuan bagi kalangan pengusaha untuk banyak mendirikan pusat hiburan dan pusat perbelanjaan. Sehingga pada akhirnya akan berimbas kepada pembangunan dan perkembangan yang masif terjadi di Kalimantan Tengah.

Bagi kalangan masyarakat awam mungkin banyak yang berpikiran data statistik tak berhubungan langsung dengan kehidupannya. Bahkan mendengar kata statistik saja agak malas rasanya untuk dipikirkan. Namun sesungguhnya entah disadari atau tidak, hampir setiap orang pasti pernah membaca dan memusatkan perhatian terhadap informasi statistika, kendati itu hanya sekedar untuk pengetahuan pribadi semata.

Contoh kasus saat pilkada, ketika hasil quick count di tayangkan, ternyata calon A perolehan suaranya unggul sekian persen dibanding calon B. Beberapa orang yang menyaksikan itu sambil nongkrong di warung kopi pun mulai berdiskusi membahas hasil tersebut. Begitulah tanpa disadari orang-orang sudah bertindak tanpa sadar karena data statistik yaitu hasil quick count tadi untuk berdiskusi.

Begitu juga dalam pembelian suatu produk, masyarakat sering kali lebih percaya dengan produk yang  menyertakan hasil riset statistik dalam iklannya dibandingkan yang tidak. Kemudian ada pula supporter sepak bola yang senang dan bangga dengan kehebatan tim kesayangannya kendati ia hanya melihat rincian statistik pertandingannya saja tanpa menonton langsung.

Sebenarnya seperti itulah data statistik, tanpa kita sadari sebenarnya sangat akrab dalam kehidupan kita. Bahkan turut menjadi salah satu indikator bagi diri kita untuk mengambil keputusan. Kita tak perlu repot-repot memikirkan bagaimana cara mereka mendapatkan data statistik itu. Kita hanya perlu menyerap informasi yang sekiranya kita butuhkan sesuai dengan kapasitas kemampuan kita, agar dapat memunculkan tindakan nyata untuk membuat perubahan bagi perkembangan dan pembangunan di Kalimantan Tengah.


Senin, 16 Oktober 2017

Review Film : Pengabdi Setan (2017)


 

Sutradara           :  Joko Anwar                                      
Skenario            :  Joko Anwar, Sisworo Gautama Putra
Pemain              :  Bront Palarae, Tara Basro, Endy Arfian, Nasar Annuz, M. Adhiyat
Genre                :  Horor
Durasi               :  1 Jam 47 Menit
Tahun rilis        :  2017
Rating               :  8


Nama  Joko Anwar lah yang membuatku tertarik menonton film ini. ia adalah seorang sutradara film yang dikenal spesialis thriller dan horor dengan ending yang tak biasa. Beberapa karyanya sering meraih penghargaan di berbagai ajang festival film internasional. Kebetulan juga beberapa filmnya hampir semua sudah aku tonton sebelumnya, dan memang film hasil penyutradaraan dari Joko Anwar ini berbeda dan cukup berkelas.

Film pengabdi Setan adalah film yang di remake dari film yang berjudul sama yang dirilis oleh Rapi Film pada tahun 1980.  Sisworo Gautama Putra yang pada saat itu menjadi sutradara film ini menjadi salah satu penulis cerita dan skenario di remake Pengabdi Setan (2017). Dan terus terang saat tulisan ini kubuat, aku belum pernah menonton film yang versi lawasnya.

Pengabdi Setan berkisah tentang sebuah keluarga yang ditinggal mati oleh ibunya yang mantan seorang penyanyi. Kematian ibunya tersebut didahului dengan keadaan sakit keras yang sudah lama diderita. Karena sudah sampai ajalnya, sang ibu pun tutup usia meninggalkan seorang suami, dan empat orang anaknya.

Sehari setelah ibunya dimakamkan, ayahnya (Bront Palarae) harus pergi ke kota untuk  segera mengurus proses penjualan rumah yang sekarang mereka tempati. Meski dengan berat hati, keempat anaknya itu pun setuju jika ayahnya harus pergi ke kota selama beberapa hari. Keluarga ini hidup di sebuah rumah terpencil di pelosok kampung. Selama ayahnya pergi, sebagai anak sulung Rini lah (Tara Basro) yang menjadi penanggung jawab terhadap ketiga adiknya, Tony (Endy Arfian), Bondi (Nasar Annuz), dan Ian (M. Adhiyat).

Sehari setelah ayahnya pergi, teror demi teror arwah sang ibu pun mulai menghantui keempat kakak beradik ini. Hari demi hari mereka terus diganggu, bahkan nenek mereka pun ikut tewas akibat teror ini. Rini yang pada mulanya sama sekali tidak percaya dengan hal-hal yang berbau takhayul akhirnya mulai membuka diri dan mencari tau apa sebenarnya yang tengah menganggu mereka.

Alur cerita film ini sangat menarik. Jalan ceritanya juga jelas. Gaya bahasa para tokohnya pun memang menunjukkan skrip film ini tidak digarap secara sembarangan. Dialog dan skenarionya tidak kampungan dan tidak absurd, rasanya seperti mendengarkan dialog-dialog di film berkelas, Dialog-dialognya pun mampu menunjukkan karakter masing-masing tokoh. 

Untuk tata artistik di film ini juga tak kalah hebat. Setting tempat dan waktu memang sengaja disesuaikan dengan tahun 1980 an. Hal itu terlihat dari pakaian dan properti yang digunakan detail sudah dipersiapkan. Joko Anwar di beberapa scene terlihat sengaja memberikan fokus shoot kepada properti jadul seperti baskom jadul, mainan jadul, dan beberapa lainnya, yah itung-itung nostalgia. 

Rumahnya pun ditampilkan dengan rumah sederhana yang masih memakai sumur dengan properti seadanya. Tapi justru rumah inilah yang menjadi salah satu daya pancar kehororan di film ini. Bahkan bisa dibilang rumahnya cukup ikonik.

Melihat film ini aku jadi teringat akan suasana horor di film The Conjuring. Joko Anwar berhasi membuat suasana mencekam sebuah keluarga sama seperti suasana di film The Conjuring.  Suasana horor itu terlihat dari cara ia memberikan pewarnaan pada film ini dan setting tempat yang juga mendukung.

Horor mainstream ala jump scare yang banyak memberikan kejutan dengan sound yang nyaring tidak dilakukan oleh Joko Anwar. Karena ia tau pola macam itu sudah kurang menarik lagi jadi bahan film horor masa kini, apalagi jika dilakukan dengan intensitas yang banyak. Sebagai gantinya Joko Anwar lebih banyak bermain kepada instumen-instrumen lain yang dapat dijadikan sebagai unsur pembangun kesan horor.  Tapi kesan itu nantinya akan jadi suatu hal yang melekat di benak banyak orang. Beberapa instrumen yang dipakai diantaranya adalah bunyi lonceng, lagu si ibu waktu masih jadi artis dulu, yang nadanya saja sudah cukup bikin merinding, lalu kursi roda, rumah kayu yang berderit dan lainnya. Instrumen itupun membuat banyak penonton merasa ngeri.

Asyik bermain di titik itu tidak membuat Joko Anwar lupa dengan penggambaran sosok hantu sang ibu. Meski hantunya tak sering muncul, tapi sosoknya digambarkan secara ngeri dan mudah diingat. Hasilnya luar biasa, hantu dengan senyum seringai sang ibu dan memakai baju putih pun sukses membuat takut para penonton bioskop. Sama nasibnya seperti Valak di film The conjuring 3, hantu sang ibu pun cepat menjadi viral dan dijadikan bahan meme oleh netizen. Meskipun mencekam, sang sutradara tetap memasukkan beberapa unsur humor ke dalam film ini. Tapi dengan porsi yang sewajarnya.

 Akting para pemainnya yah sudah jangan diragukan lagi. Meskipun pemainnya bukanlah orang-orang yang sering wara wiri di layar bioskop. Tapi Joko Anwar mampu membuat artisnya mampu mengeksplore akting dengan baik. Hasilnya terlhat natural, apalagi akting M. Adhiyat yang memerankan si adik bungsu Ian yang bisu terlihat polos dan menggemaskan.

Bukan Joko Anwar namanya jika membuat film dengan alur cerita dan ending yang biasa saja. Setidaknya jalan cerita film ini tak bisa ditebak, dan endingnya pun menghadirkan tanya di benak penonton. Meskipun banyak yang kesal dengan endingnya yang menyiratkan sesuatu, tapi ya begitulah Joko Anwar.

Well overall film ini sangat recommended sekali untuk pecinta film horor. film ini menunjukkan bahwa film horor Indonesia sudah mulai menunjukkan peningkatan dari segi kualitas.

Beberapa bulan terakhir ini film horor Indonesia mulai mendapat tempat di hati penikmat Film Indonesia. Makin kesini horor vulgar mulai ditinggalkan, pola alur film dan tekniknya pun sudah mulai berkembang dan tidak monoton. Terakhir aku menonton film horor Indonesia Danur sudah menunjukkan perkembangan yang positif bagi perfilman tanah air.

Semoga film Indonesia semakin berkembang dan berjaya di negeri sendiri.