Minggu, 30 Oktober 2016

Review Film : Open Grave (2013)






Sutradara           : Gonzallo Lopez Gallego                                          
Skenario             : Eddie Borey, Chris Borey
Pemain               : Sharlto Copley, Thomas Kretschmann, Josie Ho
Genre                 : Thriller, Misteri
Durasi                : 1 Jam 42 Menit
Tahun rilis         : 2013

Film yang berbau thriller, misteri dan horor merupakan salah satu jenis film favoritku. Salah satunya adalah film ini Open Grave. Film besutan dari sutradara Gonzallo Lopez Gallego ini jika diperhatikan endingnya hampir mirip dengan film Modus Anomali arahan Joko Anwar.  Tapi nanti sajalah berbicara tentang ending.

Adegan pertama film dibuka dengan seorang pria yang diawal film belum diketahui namanya (Sharlto Copley) tersadar dari tidur panjang. Dia terbangun diantara tumpukan mayat di sebuah kuburan besar. Dalam kebingungan itu ada seorang gadis yang menolongnya untuk naik ke atas permukaan keluar dari tumpukan mayat itu.

Atas rasa penasaran, ia pun mengikuti gadis itu. Hingga akhirnya ia menemukan sebuah rumah ditengah hutan. Didalamnya ternyata sudah ada 5 orang yang juga tengah dalam kebingungan yang sama seperti dirinya. Tak tahu siapa identitas dirinya, tak tau mengapa dan apa yang mereka lakukan ditempat itu. Singkatnya mereka mengalami amnesia alias hilang ingatan.

Rasa penasaran akan latar belakang para tokoh di awal cerita mampu menjadi sebuah pemicu untuk membuat penonton bersabar menunggu hingga akhir film. Film macam ini, kalau di awalnya sudah ada adegan yang bikin kita bertanya-tanya, maka biasanya akan ada twist di akhir cerita. Dan tentu saja jawaban itu kalau kita mau bersabar menunggu film berakhir.

Film ini mampu membuat penonton menunggu twist dari sejak cerita dimulai. Seperti misalnya film Modus Anomali, Hangover, yang dimulai dengan menciptakan rasa penasaran penonton.

Jalan ceritanya lumayan menarik dan simpel tentang usaha dokter yang menolong penduduk yang terkena wabah. Tapi entah kenapa film yang berdurasi sekitar 1 jam 42 menit ini bagiku terasa lama.  Ada beberapa cerita yang menurutku terasa kurang penting sehingga membuat durasi film terasa lama.  Sehingga membuatku sedikit ketiduran di beberapa adegan. Padahal ini film thriller lho.

Di film ini, setelah kita disuguhi awal yang menarik perhatian, perlahan tensi film turun hingga pertengahan cerita. Barulah pada pertengahan cerita, ketika Lukas (Thomas Kretschmann) menemukan rekaman video dimana Jonah (Sharlto Copley) terlihat melakukan percobaan medis terhadap mereka. Konfilik pun terjadi disini. Film pun menjadi lebih tegang kembali setelah dari bagian ini.

Endingnya memang twits, tapi twistnya agak sedikit kurang wah. Sebab di pertengahan film dan beberapa adegan sampai akhir, sang sutradara sudah menyuguhkan potongan-potongan clue melalui ingatan sang tokoh yang membentuk konklusi. Sehingga ada sedikit gambaran lah mengenai endingnya.

Namun yang agak sedikit disayangkan ya kurang digalinya latar belakang beberapa  tokoh seperti si gadis bisu, si anak kecil dan neneknya, para tentara, dan beberapa orang yang amnesia ini. Begitupun juga dengan adegan si gadis bisu memberi makan zombie untuk apa itu, lalu kemudian bagaimana latar belakang pertemuan Jonah dengan orang-orang dirumah ini.

Tapi meski demikian film ini bisa dibilang lumayan lah. Cukup oke dengan menawarkan rasa penasaran di awal film dengan ending yang semi twist. Hehe.

---My Rate :   6.5/10---

Selasa, 18 Oktober 2016

Resensi Buku : My Life as Film Director





Judul Buku     : My Life as Film Director                                 
Penulis            : Haqi Ahcmad
Penerbit          : PlotPoint Publishing (PT. Bentang Pustaka)
Tahun             : 2012
 

Dengan berkembangnya teknologi, maka segala hal yang berhubungan dengan dunia digital pun kian hari kian mudah saja. Akses yang begitu mudah di media sosial, memberikan berbagai macam kemudahan tentang apa yang ingin kita geluti. Termasuk menjadi seorang sutradara. 

Menjadi seorang sutradara tampaknya menjadi salah satu peranan yang cukup banyak digeluti oleh anak muda. Setidaknya Hal ini bisa terlihat dari tingginya antusiasme anak muda dalam mengikuti festival film yang banyak diselenggarakan. Selain itu banyaknya film pendek yang di unggah ke media sosial dapat menjadi sebuah tanda bahwa menjadi sutradara sekarang ini cukup bergengsi.

Benarkah menjadi sutradara sekarang semudah itu. Kalau secara independent sih iya mudah sekali. Asal punya kamera aja, sudah bisa buat film, kemudian di edit lalu unggah ke media sosial untuk di promosikan. Namun jika ingin menjadi sutradara di industri perfilman nasional memang tidak semudah itu. Ada suatu proses panjang yang mesti dijalani. 

Melalui buku ini yang ditulis oleh Haqi Achmad yang berjudul My Life as Film Director, proses-proses itu terlihat cukup masuk akal dan dapat ditempuh dengan mudah oleh siapa saja. Dalam buku yang membahas tentang kehidupan sutradara ini kita banyak belajar tentang jalan hidup beberapa sutradara ternama Indonesia dalam merintis karir dari awal. Beberapa sutradara yang dibahas dalam buku ini diantaranya adalah : Hanung Bramantyo, Joko Anwar, Ifa Isfansyah, dan Sammaria. Keempat sutradara itu namanya sudah malang melintang di jagat perfilman nasional. 

Haqi Achmad dalam buku ini tidak bercerita tentang teknis bagaimana penyutradaraan sebuah film. Lagipula kalau itu dilakukan oleh Haqi Achmad, justru buku ini terasa kurang seru. Sebaliknya buku ini lebih menyajikan spirit perjalanan hidup keempat sutradara ini dalam menapaki karir di industri perfilman mulai dari nol. My Life as Director Film banyak memberikan suntikan motivasi kepada para pembaca yang memiliki minat untuk menjadi seorang sutradara. Bahwa segala hal yang kita tekuni dengan sungguh-sungguh bukan tidak mungkin akan berbuah kesuksesan.

Menjadi sutradara tidak mesti harus sekolah film, tidak mesti harus seorang yang menimba ilmu di institut seni. Joko Anwar dan Sammaria membuktikannya. Joko Anwar yang merupakan alumnus ITB, sempat menjadi seorang wartawan dan kritikus film sebelum menjadi seorang sutradara. Lain lagi dengan Sammaria yang merupakan seorang sarjana teknik yang sempat bekerja sebagai arsitek di perusahaan singapura. Tapi meskipun bukan berlatar belakang seni dan film, setidaknya mereka memiliki kegemaran dan passion di bidang film.

Lantas bagaimana keempat sutradara ini memulai debutnya di perfilman nasional? Joko Anwar membuka jalan karirnya sebagai sutradara dimulai dari wartawan dan kritikus film, suatu ketika ia dapat kesempatan mewawancarai penulis skenario terkenal. Dari sinilah Joko Anwar coba menawarkan skrip Janji Joni yang kemudian menjadi jalan baginya menjadi sutradara.

Ifa Isfansyah sebelum menjadi sutradara film layar lebar, namanya sudah tidak asing di jagat film-film pendek. Sebelumnya ia adalah orang yang sering bikin film-film pendek. Hingga suatu ketika film pendeknya yang berjudul Mayar berhasil menarik perhatian publik dan berhasil memenangkan festival film. Kemudian tawaran untuk menyutradarai film panjang pun berdatangan menghampiri Ifa.

Sedangkan Hanung bisa dikatatakan mulus dan mudah saja karirnya. Setelah ia lulus kuliah di IKJ, ia sudah merintis karir membuat film dan menyutradarai beberapa sinetron dan FTV.  Lain dengan Sammaria yang lamarannya untuk bekerja beberapa kali di tolak oleh Production House. Hingga akhirnya ia nekat membuat film sendiri. Siapa sangka film pertamanya pun sukses dan mendapat penghargaan sebagai skenario terbaik. Dari sinilah jalannya mulai terbuka sebagai Sutradara di perfilman tanah air.

Jika dilihat dari perjalanan keempat sutradara itu, bisa ditarik kesimpulan bahwa segala hal yang ingin kita capai, dapat terwujud jika kita bersungguh-sungguh. Jika kita fokus dan benar-benar menyukai hal-hal yang berbau film. Bukan tidak mungkin kita akan bisa seperti keempat sutradara itu. Lihat  saja jalan hidup sutradara-sutradara itu seperti dipenuhi keberuntungan karena kekuatan fokus dalam diri mereka. Sebagian besar jalannya dimudahkan. Ada yang baru bikin film pertama langsung goal, ada yang sudah merintis karir dengan menyutradarai sinetron dan ada pula yang menjadi wartawan terlebih dahulu.

Ditulis dengan bahasa yang menarik, mudah dicerna dan enak dibaca, buku ini sangat recommended dan wajib dibaca bagi siapapun yang ingin jadi sutradara. Meskipun bukan buku yang bercerita tentang teknis penyutradaan, tapi setidaknya buku ini bermuatan nilai yang “provokatif” dan ingin menyampaikan bahwa siapa saja bisa menjadi sutradara. Dengan halaman yang full color, tata letak yang  dan huruf yang bagus, membaca buku ini jadi lebih menyenangkan.

Akhir kata, saya kutipkan pernyataan dari Ifa Isfansyah :
 “Satu-satunya cara agar bisa menjadi sutradara adalah dengan membuat film. Enggak ada cara lain hanya membuat film. Jadi kalo mau jadi sutradara bikinlah film




Rabu, 22 Juni 2016

Mendadak Alim

Sumber : merdeka.com

Ada pandangan miring yang kudengar bahwa saat bulan Ramadan datang pasti akan banyak orang-orang yang mendadak menjadi alim. Kalau dilihat dari fakta di lapangan sih memang iya. Pada malam hari masjid-masjid menjadi ramai di penuhi oleh orang yang shalat berjamaah dan juga tadarus Al-Quran. Tidak cuma malam hari, siang hari pun masjid menjadi makmur dipenuhi orang-orang yang shalat dan mengaji. Tentu saja ini pemandangan yang sangat menyejukan.
Tapi aku agak kurang setuju jika malah dianggap sebagai orang-orang yang mendadak alim (walau faktanya memang demikian). Karena terasa kasar sekali ya kedengarannya menyebut dengan alim dadakan. Iya sih memang, di setelah bulan ramadan berlalu masjid-masjid kembali sepi. Jamaah sudah pada berkurang. Tapi setidaknya kan di bulan ramadan sudah ada usaha untuk memperbaiki diri. Daripada tidak ada sama sekali perubahan. J
Bulan Ramadan kan bulan penuh berkah dan ampunan. Bahkan segala amal dan perbuatan baik di bulan ini akan dilipatgandakan oleh Allah. Segala dosa akan di ampuni bagi hambanya yang memohon ampunan dan menjalankan ibadah Ramadan dengan sesungguhnya. Singkatnya, bulan Ramadan adalah bulan ibadah dan bulan pahala.
Berdasarkan informasi itu, tidak ada yang salah kan kalau kita banyak-banyak beribadah di bulan suci ini. Karena bulan puasa kan datangnya Cuma sekali dalam setahun. Sayang sekali kalau dilewatkan. Itulah yang membuat banyak orang-orang ramai-ramai memakmurkan masjid. Emang di bulan lain tidak utama ya ibadah? Seharusnya sih memang begitu, setelah ramadan usai, ibadahnya jadi tambah rajin. Cuma entah mengapa ya di bulan Ramadan rasanya lebih khusyuk dalam beribadah. Suasana dan lingkungannya itu lho sangat kondusif untuk beribadah tanpa gangguan.
Lain halnya dengan bulan diluar ramadan, beribadah kayanya ada-ada saja gangguan dan kemalasannya. Aku jadi teringat ceramah almarhum Uje. Dalam salah satu ceramahnya beliau pernah menyampaikan bahwa saat bulan ramadan para setan dan kroninya itu di belenggu. Supaya tidak mengganggu umat islam dalam beribadah. Masih menurut Uje, jika masih ada orang yang berbuat kerusakan dan kemaksiatan saat bulan puasa padahal setan yang menggoda aja sedang terbelenggu. Itu artinya kemaksiatan yang dilakukan sudah menjadi tabiat dari orang tersebut.
Nah itu mungkin ya penyebabnya mengapa banyak orang yang rajin beribadah saat bulan ramadan. Masjid banyak dipenuhi oleh orang yang beribadah dan membaca alquran. Karena setan dalam diri orang yang beribadah di bulan ramadan tak bisa menggoda. Sekali lagi tentu ini adalah hal yang positif. Mau dibilang alim dadakan kek, dibilang munafik kek masa bodo, yang penting ada niat untuk berubah dan menambah amal.

Senin, 13 Juni 2016

Masih Lariskah Musik Religi



Seperti sudah menjadi sebuah kebiasaan, ketika bulan Ramadan tiba pastilah ada hal-hal yang musiman terjadi di sekitar kehidupan kita. Mulai dari pasar kuliner ramadan, program televisi spesial ramadan, iklan bertema puasa, sampai musik religi yang rilisnya setiap bulan ramadan.

Untuk tren musik religi, tampaknya ini sudah menjadi hal yang sudah umum kita ketahui ya. Setiap bulan puasa tiba, maka para musisi tanah air mulai artis papan bawah hingga artis papan atas berlomba-lomba merilis single atau album religi. Motifnya macam-macam, ada yang katanya untuk berdakwah, ada yang katanya menyesuaikan dengan tema, bahkan sampai motif aji mumpung. Yah tak masalah apapaun motifnya selagi ada nilai religius, its’ okay.

Namun segala sesuatu yang booming dan menjadi tren lama kelamaan pasti akan sampai pada di titik jenuh. Hal itu juga yang dialami oleh tren musik religi Indonesia pada tahun 2016 ini. Kelihatannya gaung lagu-lagunya tidak semeriah dulu meskipun tahun ini ada cukup banyak musisi yang mengeluarkan single religi.

Dari apa yang kulihat sampai hari ini band  Wali masih seperti tahun lalu, masih setia mengeluarkan single religi. Kemudian ada d’masiv dengan single tala al badru. Ada pula kehadiran perdana Noah di jagat lagu religi dalam single Sajadah Panjang milik Bimbo yang di aransemen ulang. Single ini sendiri merupakan salah satu lagu andalan dalam album baru Noah “Sing Legend”. Kebetulan lagunya tema religi dan rilisnya pas menjelang bulan puasa. Ada pula Haddad Alwi yang kembali menelurkan album religi di ramadan kali ini. Serta ditambah dengan beberapa penyanyi solo dan band kelas medium lainnya yang ikut meramaikan blantika musik religi Indonesia.

Tampaknya musisi religi sejati patut kita berikan kepada Opick. Pelatun hits Tombo Ati ini sejak tahun 2005 hingga sekarang rutin mengeluarkan album setiap tahunnya. Album lho ya, bukan single. Di saat industri musik sedang lesu, disaat musisi lain hanya berani mengeluarkan single di bulan ramadan, Opick malah justru mengeluarkan album. Dia lebih senang merilis album ketimbang single, karena baginya album adalah salah satu wujud dari apresiasi karya seorang musisi. Sungguh luar biasa dan patut di apresiasi memang idealisme Opick. Jadi di tahun 2016 ini Opick telah meluncurkan album ke-12 nya yang berjudul Sang Maha Cahaya. Sudah menjadi sebuah kebiasaan album barunya pasti rilis setiap bulan ramadan. Mantap.

Disatu sisi nama-nama besar yang menjadi pionir tren lagu religi modern seperti Gigi, Ungu, tampaknya tahun ini tidak ada mengeluarkan single dan album religi. Padahal dengan lagu-lagunya yang fenomenal, mereka pernah menjadi trend setter yang memancing para musisi lainnya untuk ikut membuat single religi. 

Sekarang kita kembali ke masalah tren lagu religi yang sudah mulai kehilangan gaungnya lagi. Mengapa lagu-lagu religi sekarang kurang begitu nendang dibandingkan dulu sekitar tahun 2004-2008. Menurut pengamatanku meskipun itu single dari Gigi dan Ungu sekalipun, tapi masih relatif kurang booming. Cobalah dengan lagu Ungu yang berjudul Surgamu, Andai Ku Tau, Dengan Nafasmu, kemudian lagu Gigi Perdamaian, Pintu Sorga, Akhirnya dan tembang hits lainnya. Coba dibandingkan dengan lagu mereka yang dirilis setelah 2008.

Begitu pula dengan backsound yang banyak di pakai oleh Stasiun TV jarang memakai lagu-lagu baru. Malah lagu-lagu religi yang dipakai oleh beberapa stasiun TV justru lagu-lagu yang lama. Seperti lagu Opick, lagu haddad alwi, Gigi dan lagu lainnya yang dulu pernah ngetop. Dari sini kan bisa dilihat bahwa lagu-lagu lama ternyata masih mempunyai magnet yang kuat untuk didengarkan kembali. Serta sangat pas dan cocok untuk dijadikan backsound ketimbang tembang-tembang teranyar.

Ada apa ya dengan musik religi sekarang. Entah karena kurang promosi kah, ikut terimbas lesunya blantika musik Indonesia kah, atau karena memang aransemennya yang sudah tidak easy listening lagi di telinga pecinta musik. Atau mungkin juga karena telinga dan selera musikku yang sekarang bermasalah, haha.

 Tapi yang jelas, single-single yang dikeluarkan oleh beberapa musisi tanah air sekarang tidak begitu nendang di tahun ini. Dengan kata lainnya sih banyak single dan lagu religi yang kurang begitu dikenal oleh masyarakat. Yaaah, Meskipun ada beberapa nama yang lagu religinya cukup hits, tapi itupun hanya sedikit, tidak sebanyak dulu. Saat dimana lagu religi Ungu, Gigi, Opick, Raihan, Snada, Haddad Alwi, Debu Wali, ST12 dan lain-lain masih berjaya di era 2004-2008.

Rabu, 08 Juni 2016

Renungan Dibalik Shalat Tarawih





Tidak terasa bulan Ramadhan datang lagi. Bulan yang sangat ditunggu-tunggu oleh sebagian besar umat Islam seluruh dunia. Sudah sering diketahui umum bahwa bulam ramadhan merupakan bulan yang penuh dengan berkah dengan kebaikan.

Di Indonesia tahun ini tampaknya tidak ada perdebatan alot khususnya di tengah masyarakat mengenai penetapan awal ramadhan. Kelihatannya masyarakat cukup tenang. Biasanya masyarakat kita utamanya dari media sosial banyak yang berdebat mengenai awal ramadan, kenapa ini kita beda awal puasa, kenapa ini pemerintah beda sendiri, dan berbagai pertanyaan lainnya.

Alhamdulillah tahun ini tidak ada perbedaan dalam penentuan awal puasa di Indonesia. Itu artinya umat muslim Indonesia mulai menjalankan ibadah puasa pada hari senin kemarin (6/6/2016). Mungkin itu yang menjadikan masyarakat kita tidak terlalu bergejolak.

Bahkan belum juga keputusan hasil sidang isbat dibacakan oleh pemerintah, masyarakat sudah pada ngumpul di masjid untuk shalat isya berjamaah, dan dilanjutkan dengan shalat sunah tarawih. Seolah tidak peduli entah pemerintah menetapkan awal puasa besok atau lusa. Toh yang penting yakin aja gitu besoknya puasa. Karena ormas Muhammadiyah sudah menetapkan awal puasa tanggal 6 Juni 2016 jadinya sedikit aman. Tapi ya benar saja, ternyata kita mengawali puasa secara bersamaan. Sekali lagi alhamdulillah.

Bicara soal bulan ramadhan pasti tak lepas dari ibadah sunah yang banyak dilakukan oleh umat islam pada malam harinya. Yap shalat tarawih namanya. Biasanya nih di masjid pada minggu pertama  penuh dengan jamaah. Sampai dua malam kemarin aku shalat tarawih, masjid dipadati dengan jamaah.

Luar biasa antusiasme umat memadati masjid untuk shalat tarawih berjamaah. Disini orang-orang yang tidak pernah shalat berjamaah (termasuk aku) ikut-ikutan meramaikan masjid. Tidak salah memang, karena katanya bulan ramadan merupakan bulan yang penuh berkah, saking banyak berkahnya satu amalan ibadah kita akan dilipatgandakan Allah nilai pahalanya. 

Hingga kemudian sampailah aku pada sebuah perenungan. Jika logikanya selama bulan ramadan kita mampu shalat sunah berpuluh-puluh rakaat dalam semalam. Masa shalat 5 waktu yang totalnya 17 rakaat dalam sehari kok begitu berat dilaksanakan. Jleb.. kena banget deh rasanya renungan ini. Sambil manggut-manggut dalam hati, “Iya juga ya, kok shalat tarawih aja sanggup”. 

Maka dari itu, berawal dari renungan tersebut aku pun pelan-pelan mulai menata shalat 5 waktuku. Jangan sampai renungan itu tiba-tiba muncul lagi dan menusuk naluri dan pikiran terdalam ku. Jujur kalau di bulan biasa entah kenapa di ibadah shalat wajib itu seakan “berat” terlaksana. Sedangkan kalau bulan ramadan terasa ringan saja. Karena faktor godaan setan kah, atau karena faktor kebiasaan. Mungkin jika bulan ramadan tiba, maka seperti sudah menjadi kebiasaan, kita akan tersugesti untuk banyak beribadah termasuk ibadah wajib dan sunnah secara berjamaah. Karena seperti kita tahu lingkungan sekitar begitu kondusif dan mendukung untuk kita beribadah dengan khusuk ketika bulan ramadan. Bisa kita lihat kan banyaknya orang yang pergi ke masjid pada bulan puasa.

Apapun itu selagi masih positif ya sah-sah saja. Malah sangat dianjurkan memperbanyak amal ibadah. Dan akhirnya meski terlambat, kuucapkan marhaban ya ramadan 1437 H, selamat datang bulan penuh berkah dan ampunan.

Minggu, 01 Mei 2016

Awal Semula Mengapa Parto Mirip Ariel

Parto.. iya Parto yang pelawak itu, pastinya sudah tidak asing kan ya bagi kita semua. Namanya bisa  dibilang merupakan salah satu tokoh yang paling berpengaruh di dunia. Haha becanda deng. Baiklah, Parto ini adalah salah satu pelawak atau komedian papan atas di Indonesia. Perjalanan karirnya hingga hari ini bisa dikatakan lancar sehat wal afiat. Pernah berkarir di grup lawak Patrio, OVJ, hingga sekarang acara talkshow di Net TV bareng Sule. Intinya nih orang selalu dapat job di dunia lawak.

Pernah perhatikan gak, kadang bahkan seringkali gaya Parto selalu di identikan dengan Ariel Vokalis Noah. Setiap Parto muncul dengan rambut yang terurai bebas, sontak penonton berteriak. Ariel...Ariel...Padahal mirip juga enggak ya, haha.

 Karena rambutnya kah yang mirip Ariel, hmmm rasanya tidak. Banyak kok Komedian lain yang cocok kalau dimiripin Ariel. Karena suaranya kah, aaah apalagi ini. Hohoho.. Pokoknya sekarang kalau kita melihat Parto dengan rambut lebatnya terurai, pasti di panggil Ariel

Julukan Ariel yang dibebankan kepada Parto ini tidak serta merta datang begitu saja. Ada asal usul alias sejarahnya mengapa ia lekat dengan julukan vokalis fenomenal ini. Sekarang kita kembali flasback ke sekitar tahun 2006-2007. Kalau masih ingat saat itu ada program acara sahur di RCTI namanya Stasiun Ramadan (STAR).  Acara lawak saat santap sahur ini di isi oleh beberapa komedian seperti Eko Patrio, Ulfa Dwiyanthi, Tukul, Jojon, dan Parto Patrio.  Biasanya mereka sering bilang begini, “Tut tut gujes gujes, tut tut gujes gujes.. wak waw.”
 


Di sekitar tahun itu pula perpecahan band peterpan menjadi hot topic infotainment di hampir di semua stasiun TV. Intinya, siapa sih kala itu yang tidak tahu berita perpecahan band fenomenal peterpan. Nah isu yang sedang hangat inilah yang kemudian diangkat oleh tim kreatif STAR sebagai bahan cerita mereka.

Singkat kata terpilihlah Parto memerankan Ariel dalam episode tersebut. Ketika itu Parto memakai kostum yukensi ala Ariel di cover album Bintang di Surga, dan dengan rambut gondrong yang diturunkan ke arah depan. Praktis kala itu Parto jadi orang yang dimiripin dengan Ariel. Hehe. Namun sayang sudah aku searching dimana-mana tetap tidak ditemukan dokumentasi baik berupa foto atau video mengenai episode tersebut.

Rupanya karakter Ariel yang diperankan Parto berhasil memberikan kesan bagi orang-orang terutama sesama rekan pelawak. Hal ini terlihat dari beberapa episode setelah itu, Ulfa Dwiyanthi dan beberapa komedian lain kerap kali menggoda parto, “Ciee Ariel.” Langsung saja dengan segera ia menurunkan rambutnya biar mirip dengan mantan vokalis peterpan itu. 

Sampai acara Stasiun Ramadan berakhir pun rupanya akting Ariel ini tetap dibawa Parto ke acara komedi lain hingga hari ini. Pada awalnya sih Parto biasa- biasa saja dan cuek ketika disamakan dengan Ariel. Tapi lama kelamaan karena tuntutan masyarakat yang begitu ingat dengan perannya kala itu. Maka ketika nama Ariel disebut sontak salah satu personil Patrio ini pun langsung segera menurunkan rambutnya layaknya Ariel.

Waktu pun berjalan hingga orang sudah mulai lupa kenapa dan kapan ia dimiripin dengan vokalis Noah. Sampai kemudian ia menjadi salah satu anggota dari acara komedi fenomenal OVJ. Nah disinilah julukan Ariel yang pernah disematkan kepada Parto kembali bergaung. Bahkan bisa dibilang di acara inilah julukan itu semakin gencar saja terdengar. Kali ini bukan saja dari segi fisik yang coba dimiripin,  tapi juga suara. Haha.


Acara OVJ pun sudah berakhir juga, tapi imej Ariel yang melekat di diri Parto tetap ada dan abadi hingga hari ini. Sampai hari ini pula “kemiripan” Parto dan Ariel itu sudah terinternalisasi dalam pikiran kita semua dan akan terus terbawa di acara komedi lainnya. 

Minggu, 10 April 2016

Wisata Sungai Batu Sei Gohong





Secara geografis wilayah Kota Palangka Raya memang sebagian besar berupa hutan dan perbukitan. Letaknya pun berada tepat di tengah pulau Kalimantan. Otomatis Palangka Raya tidak dilalui oleh jalur laut dan wilayahnya tidak memiliki pantai. Padahal sebagaian besar kota di Indonesia pariwisatanya banyak dikembangkan dari sektor pantai dan pegunungan. Tapi meski demikian, bukan berarti di ibukota Kalimantan Tengah yang di dominasi hutan ini tidak ada tempat wisata yang menarik untuk dikunjungi.

Palangka Raya memiliki keunikan dan ciri khas sendiri mengenai pariwisata. Palangka Raya banyak memiliki objek wisata berupa perbukitan dan danau. Selain objek wisata perbukitan  dan danau yang sudah terkenal disini seperti Bukit Tangkiling, Batu Banama, Danau Tahai, ternyata di Palangka Raya masih ada spot wisata yang masih belum terlalu dikenal oleh masyarakat.