Selasa, 18 Oktober 2016

Resensi Buku : My Life as Film Director





Judul Buku     : My Life as Film Director                                 
Penulis            : Haqi Ahcmad
Penerbit          : PlotPoint Publishing (PT. Bentang Pustaka)
Tahun             : 2012
 

Dengan berkembangnya teknologi, maka segala hal yang berhubungan dengan dunia digital pun kian hari kian mudah saja. Akses yang begitu mudah di media sosial, memberikan berbagai macam kemudahan tentang apa yang ingin kita geluti. Termasuk menjadi seorang sutradara. 

Menjadi seorang sutradara tampaknya menjadi salah satu peranan yang cukup banyak digeluti oleh anak muda. Setidaknya Hal ini bisa terlihat dari tingginya antusiasme anak muda dalam mengikuti festival film yang banyak diselenggarakan. Selain itu banyaknya film pendek yang di unggah ke media sosial dapat menjadi sebuah tanda bahwa menjadi sutradara sekarang ini cukup bergengsi.

Benarkah menjadi sutradara sekarang semudah itu. Kalau secara independent sih iya mudah sekali. Asal punya kamera aja, sudah bisa buat film, kemudian di edit lalu unggah ke media sosial untuk di promosikan. Namun jika ingin menjadi sutradara di industri perfilman nasional memang tidak semudah itu. Ada suatu proses panjang yang mesti dijalani. 

Melalui buku ini yang ditulis oleh Haqi Achmad yang berjudul My Life as Film Director, proses-proses itu terlihat cukup masuk akal dan dapat ditempuh dengan mudah oleh siapa saja. Dalam buku yang membahas tentang kehidupan sutradara ini kita banyak belajar tentang jalan hidup beberapa sutradara ternama Indonesia dalam merintis karir dari awal. Beberapa sutradara yang dibahas dalam buku ini diantaranya adalah : Hanung Bramantyo, Joko Anwar, Ifa Isfansyah, dan Sammaria. Keempat sutradara itu namanya sudah malang melintang di jagat perfilman nasional. 

Haqi Achmad dalam buku ini tidak bercerita tentang teknis bagaimana penyutradaraan sebuah film. Lagipula kalau itu dilakukan oleh Haqi Achmad, justru buku ini terasa kurang seru. Sebaliknya buku ini lebih menyajikan spirit perjalanan hidup keempat sutradara ini dalam menapaki karir di industri perfilman mulai dari nol. My Life as Director Film banyak memberikan suntikan motivasi kepada para pembaca yang memiliki minat untuk menjadi seorang sutradara. Bahwa segala hal yang kita tekuni dengan sungguh-sungguh bukan tidak mungkin akan berbuah kesuksesan.

Menjadi sutradara tidak mesti harus sekolah film, tidak mesti harus seorang yang menimba ilmu di institut seni. Joko Anwar dan Sammaria membuktikannya. Joko Anwar yang merupakan alumnus ITB, sempat menjadi seorang wartawan dan kritikus film sebelum menjadi seorang sutradara. Lain lagi dengan Sammaria yang merupakan seorang sarjana teknik yang sempat bekerja sebagai arsitek di perusahaan singapura. Tapi meskipun bukan berlatar belakang seni dan film, setidaknya mereka memiliki kegemaran dan passion di bidang film.

Lantas bagaimana keempat sutradara ini memulai debutnya di perfilman nasional? Joko Anwar membuka jalan karirnya sebagai sutradara dimulai dari wartawan dan kritikus film, suatu ketika ia dapat kesempatan mewawancarai penulis skenario terkenal. Dari sinilah Joko Anwar coba menawarkan skrip Janji Joni yang kemudian menjadi jalan baginya menjadi sutradara.

Ifa Isfansyah sebelum menjadi sutradara film layar lebar, namanya sudah tidak asing di jagat film-film pendek. Sebelumnya ia adalah orang yang sering bikin film-film pendek. Hingga suatu ketika film pendeknya yang berjudul Mayar berhasil menarik perhatian publik dan berhasil memenangkan festival film. Kemudian tawaran untuk menyutradarai film panjang pun berdatangan menghampiri Ifa.

Sedangkan Hanung bisa dikatatakan mulus dan mudah saja karirnya. Setelah ia lulus kuliah di IKJ, ia sudah merintis karir membuat film dan menyutradarai beberapa sinetron dan FTV.  Lain dengan Sammaria yang lamarannya untuk bekerja beberapa kali di tolak oleh Production House. Hingga akhirnya ia nekat membuat film sendiri. Siapa sangka film pertamanya pun sukses dan mendapat penghargaan sebagai skenario terbaik. Dari sinilah jalannya mulai terbuka sebagai Sutradara di perfilman tanah air.

Jika dilihat dari perjalanan keempat sutradara itu, bisa ditarik kesimpulan bahwa segala hal yang ingin kita capai, dapat terwujud jika kita bersungguh-sungguh. Jika kita fokus dan benar-benar menyukai hal-hal yang berbau film. Bukan tidak mungkin kita akan bisa seperti keempat sutradara itu. Lihat  saja jalan hidup sutradara-sutradara itu seperti dipenuhi keberuntungan karena kekuatan fokus dalam diri mereka. Sebagian besar jalannya dimudahkan. Ada yang baru bikin film pertama langsung goal, ada yang sudah merintis karir dengan menyutradarai sinetron dan ada pula yang menjadi wartawan terlebih dahulu.

Ditulis dengan bahasa yang menarik, mudah dicerna dan enak dibaca, buku ini sangat recommended dan wajib dibaca bagi siapapun yang ingin jadi sutradara. Meskipun bukan buku yang bercerita tentang teknis penyutradaan, tapi setidaknya buku ini bermuatan nilai yang “provokatif” dan ingin menyampaikan bahwa siapa saja bisa menjadi sutradara. Dengan halaman yang full color, tata letak yang  dan huruf yang bagus, membaca buku ini jadi lebih menyenangkan.

Akhir kata, saya kutipkan pernyataan dari Ifa Isfansyah :
 “Satu-satunya cara agar bisa menjadi sutradara adalah dengan membuat film. Enggak ada cara lain hanya membuat film. Jadi kalo mau jadi sutradara bikinlah film




Rabu, 22 Juni 2016

Mendadak Alim

Sumber : merdeka.com

Ada pandangan miring yang kudengar bahwa saat bulan Ramadan datang pasti akan banyak orang-orang yang mendadak menjadi alim. Kalau dilihat dari fakta di lapangan sih memang iya. Pada malam hari masjid-masjid menjadi ramai di penuhi oleh orang yang shalat berjamaah dan juga tadarus Al-Quran. Tidak cuma malam hari, siang hari pun masjid menjadi makmur dipenuhi orang-orang yang shalat dan mengaji. Tentu saja ini pemandangan yang sangat menyejukan.
Tapi aku agak kurang setuju jika malah dianggap sebagai orang-orang yang mendadak alim (walau faktanya memang demikian). Karena terasa kasar sekali ya kedengarannya menyebut dengan alim dadakan. Iya sih memang, di setelah bulan ramadan berlalu masjid-masjid kembali sepi. Jamaah sudah pada berkurang. Tapi setidaknya kan di bulan ramadan sudah ada usaha untuk memperbaiki diri. Daripada tidak ada sama sekali perubahan. J
Bulan Ramadan kan bulan penuh berkah dan ampunan. Bahkan segala amal dan perbuatan baik di bulan ini akan dilipatgandakan oleh Allah. Segala dosa akan di ampuni bagi hambanya yang memohon ampunan dan menjalankan ibadah Ramadan dengan sesungguhnya. Singkatnya, bulan Ramadan adalah bulan ibadah dan bulan pahala.
Berdasarkan informasi itu, tidak ada yang salah kan kalau kita banyak-banyak beribadah di bulan suci ini. Karena bulan puasa kan datangnya Cuma sekali dalam setahun. Sayang sekali kalau dilewatkan. Itulah yang membuat banyak orang-orang ramai-ramai memakmurkan masjid. Emang di bulan lain tidak utama ya ibadah? Seharusnya sih memang begitu, setelah ramadan usai, ibadahnya jadi tambah rajin. Cuma entah mengapa ya di bulan Ramadan rasanya lebih khusyuk dalam beribadah. Suasana dan lingkungannya itu lho sangat kondusif untuk beribadah tanpa gangguan.
Lain halnya dengan bulan diluar ramadan, beribadah kayanya ada-ada saja gangguan dan kemalasannya. Aku jadi teringat ceramah almarhum Uje. Dalam salah satu ceramahnya beliau pernah menyampaikan bahwa saat bulan ramadan para setan dan kroninya itu di belenggu. Supaya tidak mengganggu umat islam dalam beribadah. Masih menurut Uje, jika masih ada orang yang berbuat kerusakan dan kemaksiatan saat bulan puasa padahal setan yang menggoda aja sedang terbelenggu. Itu artinya kemaksiatan yang dilakukan sudah menjadi tabiat dari orang tersebut.
Nah itu mungkin ya penyebabnya mengapa banyak orang yang rajin beribadah saat bulan ramadan. Masjid banyak dipenuhi oleh orang yang beribadah dan membaca alquran. Karena setan dalam diri orang yang beribadah di bulan ramadan tak bisa menggoda. Sekali lagi tentu ini adalah hal yang positif. Mau dibilang alim dadakan kek, dibilang munafik kek masa bodo, yang penting ada niat untuk berubah dan menambah amal.

Senin, 13 Juni 2016

Masih Lariskah Musik Religi



Seperti sudah menjadi sebuah kebiasaan, ketika bulan Ramadan tiba pastilah ada hal-hal yang musiman terjadi di sekitar kehidupan kita. Mulai dari pasar kuliner ramadan, program televisi spesial ramadan, iklan bertema puasa, sampai musik religi yang rilisnya setiap bulan ramadan.

Untuk tren musik religi, tampaknya ini sudah menjadi hal yang sudah umum kita ketahui ya. Setiap bulan puasa tiba, maka para musisi tanah air mulai artis papan bawah hingga artis papan atas berlomba-lomba merilis single atau album religi. Motifnya macam-macam, ada yang katanya untuk berdakwah, ada yang katanya menyesuaikan dengan tema, bahkan sampai motif aji mumpung. Yah tak masalah apapaun motifnya selagi ada nilai religius, its’ okay.

Namun segala sesuatu yang booming dan menjadi tren lama kelamaan pasti akan sampai pada di titik jenuh. Hal itu juga yang dialami oleh tren musik religi Indonesia pada tahun 2016 ini. Kelihatannya gaung lagu-lagunya tidak semeriah dulu meskipun tahun ini ada cukup banyak musisi yang mengeluarkan single religi.

Dari apa yang kulihat sampai hari ini band  Wali masih seperti tahun lalu, masih setia mengeluarkan single religi. Kemudian ada d’masiv dengan single tala al badru. Ada pula kehadiran perdana Noah di jagat lagu religi dalam single Sajadah Panjang milik Bimbo yang di aransemen ulang. Single ini sendiri merupakan salah satu lagu andalan dalam album baru Noah “Sing Legend”. Kebetulan lagunya tema religi dan rilisnya pas menjelang bulan puasa. Ada pula Haddad Alwi yang kembali menelurkan album religi di ramadan kali ini. Serta ditambah dengan beberapa penyanyi solo dan band kelas medium lainnya yang ikut meramaikan blantika musik religi Indonesia.

Tampaknya musisi religi sejati patut kita berikan kepada Opick. Pelatun hits Tombo Ati ini sejak tahun 2005 hingga sekarang rutin mengeluarkan album setiap tahunnya. Album lho ya, bukan single. Di saat industri musik sedang lesu, disaat musisi lain hanya berani mengeluarkan single di bulan ramadan, Opick malah justru mengeluarkan album. Dia lebih senang merilis album ketimbang single, karena baginya album adalah salah satu wujud dari apresiasi karya seorang musisi. Sungguh luar biasa dan patut di apresiasi memang idealisme Opick. Jadi di tahun 2016 ini Opick telah meluncurkan album ke-12 nya yang berjudul Sang Maha Cahaya. Sudah menjadi sebuah kebiasaan album barunya pasti rilis setiap bulan ramadan. Mantap.

Disatu sisi nama-nama besar yang menjadi pionir tren lagu religi modern seperti Gigi, Ungu, tampaknya tahun ini tidak ada mengeluarkan single dan album religi. Padahal dengan lagu-lagunya yang fenomenal, mereka pernah menjadi trend setter yang memancing para musisi lainnya untuk ikut membuat single religi. 

Sekarang kita kembali ke masalah tren lagu religi yang sudah mulai kehilangan gaungnya lagi. Mengapa lagu-lagu religi sekarang kurang begitu nendang dibandingkan dulu sekitar tahun 2004-2008. Menurut pengamatanku meskipun itu single dari Gigi dan Ungu sekalipun, tapi masih relatif kurang booming. Cobalah dengan lagu Ungu yang berjudul Surgamu, Andai Ku Tau, Dengan Nafasmu, kemudian lagu Gigi Perdamaian, Pintu Sorga, Akhirnya dan tembang hits lainnya. Coba dibandingkan dengan lagu mereka yang dirilis setelah 2008.

Begitu pula dengan backsound yang banyak di pakai oleh Stasiun TV jarang memakai lagu-lagu baru. Malah lagu-lagu religi yang dipakai oleh beberapa stasiun TV justru lagu-lagu yang lama. Seperti lagu Opick, lagu haddad alwi, Gigi dan lagu lainnya yang dulu pernah ngetop. Dari sini kan bisa dilihat bahwa lagu-lagu lama ternyata masih mempunyai magnet yang kuat untuk didengarkan kembali. Serta sangat pas dan cocok untuk dijadikan backsound ketimbang tembang-tembang teranyar.

Ada apa ya dengan musik religi sekarang. Entah karena kurang promosi kah, ikut terimbas lesunya blantika musik Indonesia kah, atau karena memang aransemennya yang sudah tidak easy listening lagi di telinga pecinta musik. Atau mungkin juga karena telinga dan selera musikku yang sekarang bermasalah, haha.

 Tapi yang jelas, single-single yang dikeluarkan oleh beberapa musisi tanah air sekarang tidak begitu nendang di tahun ini. Dengan kata lainnya sih banyak single dan lagu religi yang kurang begitu dikenal oleh masyarakat. Yaaah, Meskipun ada beberapa nama yang lagu religinya cukup hits, tapi itupun hanya sedikit, tidak sebanyak dulu. Saat dimana lagu religi Ungu, Gigi, Opick, Raihan, Snada, Haddad Alwi, Debu Wali, ST12 dan lain-lain masih berjaya di era 2004-2008.

Rabu, 08 Juni 2016

Renungan Dibalik Shalat Tarawih





Tidak terasa bulan Ramadhan datang lagi. Bulan yang sangat ditunggu-tunggu oleh sebagian besar umat Islam seluruh dunia. Sudah sering diketahui umum bahwa bulam ramadhan merupakan bulan yang penuh dengan berkah dengan kebaikan.

Di Indonesia tahun ini tampaknya tidak ada perdebatan alot khususnya di tengah masyarakat mengenai penetapan awal ramadhan. Kelihatannya masyarakat cukup tenang. Biasanya masyarakat kita utamanya dari media sosial banyak yang berdebat mengenai awal ramadan, kenapa ini kita beda awal puasa, kenapa ini pemerintah beda sendiri, dan berbagai pertanyaan lainnya.

Alhamdulillah tahun ini tidak ada perbedaan dalam penentuan awal puasa di Indonesia. Itu artinya umat muslim Indonesia mulai menjalankan ibadah puasa pada hari senin kemarin (6/6/2016). Mungkin itu yang menjadikan masyarakat kita tidak terlalu bergejolak.

Bahkan belum juga keputusan hasil sidang isbat dibacakan oleh pemerintah, masyarakat sudah pada ngumpul di masjid untuk shalat isya berjamaah, dan dilanjutkan dengan shalat sunah tarawih. Seolah tidak peduli entah pemerintah menetapkan awal puasa besok atau lusa. Toh yang penting yakin aja gitu besoknya puasa. Karena ormas Muhammadiyah sudah menetapkan awal puasa tanggal 6 Juni 2016 jadinya sedikit aman. Tapi ya benar saja, ternyata kita mengawali puasa secara bersamaan. Sekali lagi alhamdulillah.

Bicara soal bulan ramadhan pasti tak lepas dari ibadah sunah yang banyak dilakukan oleh umat islam pada malam harinya. Yap shalat tarawih namanya. Biasanya nih di masjid pada minggu pertama  penuh dengan jamaah. Sampai dua malam kemarin aku shalat tarawih, masjid dipadati dengan jamaah.

Luar biasa antusiasme umat memadati masjid untuk shalat tarawih berjamaah. Disini orang-orang yang tidak pernah shalat berjamaah (termasuk aku) ikut-ikutan meramaikan masjid. Tidak salah memang, karena katanya bulan ramadan merupakan bulan yang penuh berkah, saking banyak berkahnya satu amalan ibadah kita akan dilipatgandakan Allah nilai pahalanya. 

Hingga kemudian sampailah aku pada sebuah perenungan. Jika logikanya selama bulan ramadan kita mampu shalat sunah berpuluh-puluh rakaat dalam semalam. Masa shalat 5 waktu yang totalnya 17 rakaat dalam sehari kok begitu berat dilaksanakan. Jleb.. kena banget deh rasanya renungan ini. Sambil manggut-manggut dalam hati, “Iya juga ya, kok shalat tarawih aja sanggup”. 

Maka dari itu, berawal dari renungan tersebut aku pun pelan-pelan mulai menata shalat 5 waktuku. Jangan sampai renungan itu tiba-tiba muncul lagi dan menusuk naluri dan pikiran terdalam ku. Jujur kalau di bulan biasa entah kenapa di ibadah shalat wajib itu seakan “berat” terlaksana. Sedangkan kalau bulan ramadan terasa ringan saja. Karena faktor godaan setan kah, atau karena faktor kebiasaan. Mungkin jika bulan ramadan tiba, maka seperti sudah menjadi kebiasaan, kita akan tersugesti untuk banyak beribadah termasuk ibadah wajib dan sunnah secara berjamaah. Karena seperti kita tahu lingkungan sekitar begitu kondusif dan mendukung untuk kita beribadah dengan khusuk ketika bulan ramadan. Bisa kita lihat kan banyaknya orang yang pergi ke masjid pada bulan puasa.

Apapun itu selagi masih positif ya sah-sah saja. Malah sangat dianjurkan memperbanyak amal ibadah. Dan akhirnya meski terlambat, kuucapkan marhaban ya ramadan 1437 H, selamat datang bulan penuh berkah dan ampunan.

Minggu, 01 Mei 2016

Awal Semula Mengapa Parto Mirip Ariel

Parto.. iya Parto yang pelawak itu, pastinya sudah tidak asing kan ya bagi kita semua. Namanya bisa  dibilang merupakan salah satu tokoh yang paling berpengaruh di dunia. Haha becanda deng. Baiklah, Parto ini adalah salah satu pelawak atau komedian papan atas di Indonesia. Perjalanan karirnya hingga hari ini bisa dikatakan lancar sehat wal afiat. Pernah berkarir di grup lawak Patrio, OVJ, hingga sekarang acara talkshow di Net TV bareng Sule. Intinya nih orang selalu dapat job di dunia lawak.

Pernah perhatikan gak, kadang bahkan seringkali gaya Parto selalu di identikan dengan Ariel Vokalis Noah. Setiap Parto muncul dengan rambut yang terurai bebas, sontak penonton berteriak. Ariel...Ariel...Padahal mirip juga enggak ya, haha.

 Karena rambutnya kah yang mirip Ariel, hmmm rasanya tidak. Banyak kok Komedian lain yang cocok kalau dimiripin Ariel. Karena suaranya kah, aaah apalagi ini. Hohoho.. Pokoknya sekarang kalau kita melihat Parto dengan rambut lebatnya terurai, pasti di panggil Ariel

Julukan Ariel yang dibebankan kepada Parto ini tidak serta merta datang begitu saja. Ada asal usul alias sejarahnya mengapa ia lekat dengan julukan vokalis fenomenal ini. Sekarang kita kembali flasback ke sekitar tahun 2006-2007. Kalau masih ingat saat itu ada program acara sahur di RCTI namanya Stasiun Ramadan (STAR).  Acara lawak saat santap sahur ini di isi oleh beberapa komedian seperti Eko Patrio, Ulfa Dwiyanthi, Tukul, Jojon, dan Parto Patrio.  Biasanya mereka sering bilang begini, “Tut tut gujes gujes, tut tut gujes gujes.. wak waw.”
 


Di sekitar tahun itu pula perpecahan band peterpan menjadi hot topic infotainment di hampir di semua stasiun TV. Intinya, siapa sih kala itu yang tidak tahu berita perpecahan band fenomenal peterpan. Nah isu yang sedang hangat inilah yang kemudian diangkat oleh tim kreatif STAR sebagai bahan cerita mereka.

Singkat kata terpilihlah Parto memerankan Ariel dalam episode tersebut. Ketika itu Parto memakai kostum yukensi ala Ariel di cover album Bintang di Surga, dan dengan rambut gondrong yang diturunkan ke arah depan. Praktis kala itu Parto jadi orang yang dimiripin dengan Ariel. Hehe. Namun sayang sudah aku searching dimana-mana tetap tidak ditemukan dokumentasi baik berupa foto atau video mengenai episode tersebut.

Rupanya karakter Ariel yang diperankan Parto berhasil memberikan kesan bagi orang-orang terutama sesama rekan pelawak. Hal ini terlihat dari beberapa episode setelah itu, Ulfa Dwiyanthi dan beberapa komedian lain kerap kali menggoda parto, “Ciee Ariel.” Langsung saja dengan segera ia menurunkan rambutnya biar mirip dengan mantan vokalis peterpan itu. 

Sampai acara Stasiun Ramadan berakhir pun rupanya akting Ariel ini tetap dibawa Parto ke acara komedi lain hingga hari ini. Pada awalnya sih Parto biasa- biasa saja dan cuek ketika disamakan dengan Ariel. Tapi lama kelamaan karena tuntutan masyarakat yang begitu ingat dengan perannya kala itu. Maka ketika nama Ariel disebut sontak salah satu personil Patrio ini pun langsung segera menurunkan rambutnya layaknya Ariel.

Waktu pun berjalan hingga orang sudah mulai lupa kenapa dan kapan ia dimiripin dengan vokalis Noah. Sampai kemudian ia menjadi salah satu anggota dari acara komedi fenomenal OVJ. Nah disinilah julukan Ariel yang pernah disematkan kepada Parto kembali bergaung. Bahkan bisa dibilang di acara inilah julukan itu semakin gencar saja terdengar. Kali ini bukan saja dari segi fisik yang coba dimiripin,  tapi juga suara. Haha.


Acara OVJ pun sudah berakhir juga, tapi imej Ariel yang melekat di diri Parto tetap ada dan abadi hingga hari ini. Sampai hari ini pula “kemiripan” Parto dan Ariel itu sudah terinternalisasi dalam pikiran kita semua dan akan terus terbawa di acara komedi lainnya. 

Minggu, 10 April 2016

Wisata Sungai Batu Sei Gohong





Secara geografis wilayah Kota Palangka Raya memang sebagian besar berupa hutan dan perbukitan. Letaknya pun berada tepat di tengah pulau Kalimantan. Otomatis Palangka Raya tidak dilalui oleh jalur laut dan wilayahnya tidak memiliki pantai. Padahal sebagaian besar kota di Indonesia pariwisatanya banyak dikembangkan dari sektor pantai dan pegunungan. Tapi meski demikian, bukan berarti di ibukota Kalimantan Tengah yang di dominasi hutan ini tidak ada tempat wisata yang menarik untuk dikunjungi.

Palangka Raya memiliki keunikan dan ciri khas sendiri mengenai pariwisata. Palangka Raya banyak memiliki objek wisata berupa perbukitan dan danau. Selain objek wisata perbukitan  dan danau yang sudah terkenal disini seperti Bukit Tangkiling, Batu Banama, Danau Tahai, ternyata di Palangka Raya masih ada spot wisata yang masih belum terlalu dikenal oleh masyarakat.

Kamis, 10 Maret 2016

Gerhana Matahari Total di Palangka Raya



Tema acara Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah


Pemberitaan mengenai gerhana matahari total akhir-akhir ini di Indonesia begitu gencar disiarkan. Termasuk bagaimana cara aman menyaksikan dan segala hal yang berkaitan dengannya. Hal itu lantaran hanya negara kita tercinta ini saja satu-satunya negara yang dilalui oleh gerhana matahari pada tanggal 9 Maret 2016. Memang tidak seluruh Indonesia yang dilintasi GMT, hanya 11 provinsi yaitu Bengkulu, Sumatera Selatan, Jambi, Bangka-Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, dan Maluku Utara.

Tentu saja 11 Provinsi itu termasuk beruntung dapat menyaksikan peristiwa alam yang langka ini. Hal ini tidak disia-siakan oleh pemerintah daerah yang wilayahnya dilalui oleh GMT untuk menarik wisatawan. Sudah jauh-jauh hari bahkan sejak akhir tahun 2014 lalu pemerintah daerah tersebut mempersiapkan konsep acara untuk menarik wisatawan. 

Termasuk Kota yang beruntung itu adalah Palangka Raya yang merupakan ibukota Provinsi Kalimantan Tengah. Tanah kelahiranku yang sangat jauh dari hingar bingar pemberitaan Nasional. Kami yang merupakan masyarakat Palangka Raya sangat beruntung memiliki kesempatan untuk melihat fenomena alam yang sangat langka. Di Kalimantan Tengah sendiri selain di Palangka Raya, ternyata Kota Sampit juga termasuk wilayah yang dilewati oleh GMT.

GMT (Gerhana Matahari Total) terakhir pernah melintasi Indonesia pada tahun 1983, saat dimana saya belum dilahirkan. Hehe. GMT tahun 1983 melintasi pulau jawa, Sulawesi dan Papua. Katanya kala itu pemerintah orde baru memberikan larangan melihat gerhana secara ngsung. Edaran dan pengumuman larangan pun secara gencar disebarkan. Akhirnya GMT kala itu menjadi mitos yang sangat menakutkan dan tak boleh dilihat sama sekali. Tak heran katanya kala itu banyak masyarakat yang mengurung diri dirumah saat GMT muncul.

Oke sekarang balik lagi ke Palangka Raya nih. Melalui momen ini Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah menargetkan sekitar 700 wisatawan yang akan datang. Tapi ternyata jumlah wisatawan yang datang melebihi target sekitar 1000 wisatawan baik itu wisatawan lokal maupun mancanegara. Tentunya ini menjadi berkah tersendiri ya kan.

 Banyak kegiatan bertemakan budaya yang disiapkan oleh Pemerintah Kota Palangka Raya maupun pemerintah Provinsi Kalteng untuk menyambut GMT. Diantaranya adalah dengan menggelar pameran ekonomi kreatif yang berupa hasil kerajinan tangan para pelaku industri kreatif. Pada malam sebelum GMT juga diselenggarakan festival budaya di lapangan Sanaman Mantikei dan Bundaran Besar Palangka Raya.

Karena GMT kali ini bertepatan dengan perayaan nyepi, di sekitar bundaran besar umat Hindu Selasa (8/3) sore mengarak ogoh-ogoh. Penampilan ini pun semakin menambah semarak kota Palangka Raya yang saat itu sudah banyak wisatawan berseliweran.

Namun sangat disayangkan, keinginan untuk menyaksikan  GMT di langit Palangka Raya nan cerah tak seperti yang diharapkan. Karena Kota Palangka Raya sendiri pada pukul 05.00 sudah mulai diguyur hujan. Meski hujan sudah mulai agak mendingan  sekitar pukul 06.00, namun awan kelabu tak jua mau berpindah dari tempatnya.

Tapi antusiasme masyarakat untuk menyaksikan GMT sungguh luar biasa. Pada pagi hari itu jalan-jalan sangat ramai sekali. Terlihat masyarakat banyak memadati spot-spot strategis untuk mengamati gerhana meskipun mendung masih menggantung. Apalagi di pusat acara seperti di lapangan Sanaman Mantikei dan Bundaran Besar Palangka Raya. Keramaian ini mirip dengan keramaian saat menuggu detik-detik pergantian tahun.

Saat proses gerhana matahari dimulai, penampakan matahari lebih sering tertutupi oleh awan. Tak sedikit masyarakat yang kecewa dengan pemandangan ini, panitia acara pun melalui speaker tak henti-hentinya mengajak masyarakat berdoa agar awan bisa sedikit bergeser. Awan pun hanya bergeser sebentar, dan kemudian kembali menutupi objek.

Hingga saat gerhana matahari total terjadi, langit masih terlihat muram. Meski demikian ketika GMT, keadaan di Kota Palangka Raya mendadak berangsur menjadi gelap gulita. Masyarakat yang memadati Lapangan Sanaman Mantikei pun bersorak menyaksikan pemandangan yang luar biasa menakjubkan ini. Meskipun matahari tak terlihat dibalik awan, tapi masyarakat Palangka Raya setidaknya juga merasakan kegelapan total yang dialami saat GMT.

Sungguh luar biasa, syukur alhamdulillah dapat diberi kesempatan untuk melihat fenomena gerhana matahari ini secara langsung meski mendung. Pemandangan yang seumur hidup secara langsung baru pertama kali disaksikan olehku dan sebagian besar masyarakat Palangka Raya. Ketika langit terlihat gelap dan berubah menjadi malam, ada perasaan merinding menyaksikannya. “Tadi barusan hari siang terang benderang, dan tiba-tiba kini menjadi malam”, pikirku.

Hanya saja ketika aku abadikan melalui kamera ponsel, malah terlihat seperti tidak ada apa-apanya. Hanya terlihat seperti mendung dan matahari biasa. haha..

GMT di Palangka Raya terjadi sekitar 2 menit lebih. Berikutnya Kota Palangka Raya pun berangsur kembali terang seiring dengan fase akhir gerhana. Setelah fase gerhana matahari berakhir kembali dihadirkan festival tari kesenian khas dayak yang dipusatkan di Lapangan Sanaman Mantikei dan Bundaran Besar Palangka Raya. Walikota Palangka Raya HM. Riban Satia pun berencana akan membangung prasasti atau monumen Gerhana Matahari Total. 

Pengunjung di Pagelaran Seni Budaya
Sebagai sebuah sejarah bahwa Kota ini Pernah dilalui oleh gerhana matahari total. Karena menurut pakar astronomi, gerhana matahari akan kembali melalui titik yang sama dengan hari ini (jalur GMT 9 Maret 2016) yaitu memerlukan waktu 350 tahun an lebih. Sekali lagi di Palangka Raya ya, bukan di Indonesia. Karena tujuh tahun lagi atau 2023 akan ada GMT lagi yang melintasi Indonesia tapi hanya melalui Papua, Ternate dan Tidore saja. Dalam kurun waktu puluhan tahun, mungkin Palangka Raya hanya akan dilintasi gerhana matahari sebagian.

Selain di Kota Palangka Raya dan Kota Sampit, ada beberapa kabupaten di Kalimantan Tengah yang katanya juga dilalui oleh GMT. Beberapa diantaranya adalah kabupaten di wilayah Barito dan di Kabupaten Kotawaringin Barat.

Yah dengan adanya Momen GMT ini semoga banyak wisatawan yang terkesan dengan Kota Palangka Raya. Harapannya momen ini menjadi awalan yang bagus untuk membuat kota ini ramai dikunjungi oleh Wisatawan baik wisatawan asing maupun dalam negeri.