Minggu, 30 Mei 2021

Resensi Buku : Quiet Impact

 


 

Penulis                 : Sylvia Loehken                                   

Penterjemah        : Alex Tri Kantjono Widodo

Penerbit               : PT Gramedia Pustaka Utama - Jakarta                         

Halaman              : xviii + 307 hal;

Cetakan/ Tahun  : 2016 (C 2014)  

Genre                  : Pengembangan Diri

 

Pertama kali menemukan buku ini disebuah bazar buku. Melihat buku ini seperti menemukan harta karun. Sebuah buku tebal yang berbicara tentang pribadi introver. Apalagi dengan harga yang sangat murah. Pada mulanya aku mengira ini adalah buku yang ditulis oleh Susan Cain. Tapi ternyata setelah dibaca dan diperhatikan dengan seksama ternyata bukan. Hanya sampul bukunya yang agak mirip dengan gradasi warna abu-abu.

 

Konten buku ini ternyata lumayan berisi. Ia semacam buku panduan untuk menjadi pribadi introver yang sukses dan berhasil dalam kehidupan dan dunia kerja. Buku ini tak melulu bicara dari sisi introver semata, ia juga banyak berbicara dari sisi yang sebaliknya yaitu ekstrover. Menariknya buku ini juga mengambil sudut pandang seorang ekstrover terhadap orang-orang introver dan begitu sebaliknya. Sehingga buku ini terlihat berimbang. Mari berbicara lebih dalam lagi mengenai buku ini.

 

Buku ini bukanlah buku yang ingin merubah orang yang sudah jadi introver agar menjadi seorang ekstrover. Justru sebaliknya ia memberikan pemahaman dan pandangan bahwa menjadi orang yang introver itu bukanlah sebuah kegagalan. Orang introver adalah orang-orang yang sukses. Bahkan hampir semua orang yang sukses dalam karir dan pencapaiannya di dunia ini adalah seorang introver. Bahkan Rasulullah Muhammad Salallahu alaihi wasssalam saja adalah orang introver. Jadi kita itu terlebih dahulu harus menerima bahwa kita ini adalah seorang introver dan tak perlu harus merubah diri agar terlihat menjadi orang yang menyenangkan seperti orang ekstrover. Maka buku ini lah jawabannya.

 

Menurut Loehken setidaknya ada 10 kekuatan yang dimiliki oleh orang yang introver. Diantaranya adalah : 1) Kewaspadaan; 2) Substansi – hanya berbicara tentang hal yang bermakna; 3) Konsentrasi; 4) Mendengarkan; 5) Sikap tenang; 6) Berpikir analitis; 7) Kemandirian; 8) Kegigihan; 9) Menulis; 10) Empati.

 

Berikut pula 10  hambatan dan kendala yang dimiliki oleh orang yang introver : 1) Rasa takut; 2) Perhatian berlebihan terhadap detail; 3) Rangasangan berlebihan; 4) Sikap pasif; 5) Melarikan diri; 6) Terlalu mengandalkan otak; 7) Membohongi diri sendiri; 8) Fiksasi; 9) Menghindari kontak; 10) Menghindari konflik.

 

Setelah dibaca dan direnungi dengan mendalam ternyata 10 kekuatan dan 10 hambatan yang dirangkum oleh Loehken ternyata hampir semuanya ada pada diriku. Dan memang ternyata  lagi-lagi ada bukti bahwa aku ini memang orang yang introver. Namun keadaan itu bukanlah hal yang membuatku menjadi orang yang biasa saja. Justru dengan keadaan sifat dan karakterku yang seperti ini aku terus berjuang agar hidupku menjadi orang yang tidak biasa. Salah satunya adalah dengan terus belajar, mencoba hal baru dan menerima semua tantangan yang datang. Beruntunglah ada buku ini yang semakin menambah keyakinanku bahwa orang introver adalah orang yang sukses.

 

Loehken memulai pembahasannya dari seputar kehidupan keluarga. Baik itu kiat bagaimana menjadi pasangan yang introver-ekstrover atau pasangan yang introver-introver. Bahkan sampai tips dan kiat membesarkan anak-anak yang introver atau ekstrover.

 

Kemudian pembahasan beralih ke dunia kerja, ke dunia yang lebih kompleks yang dialami oleh para introver. Disini orang introver banyak diuji tentang aktualisasi diri, cara berkerja sama dengan orang lain, tentang  ilmunya dan tentang cara ia bersikap dan berbicara dihadapan orang banyak. Kehidupan sosial seakan menjadi momok bagi orang introver. Nah dalam buku ini Loehken sedikit membagikan tips bagi orang introver dalam menghadapi itu semua.

 

Sebenarnya menjadi orang introver itu tidaklah sulit-sulit banget asal kita punya ilmu. Ilmu dan pengetahuan membuat kita menjadi lebih percaya diri. semakin banyak ilmu yang kita miliki maka kita akan lebih percaya diri dibandingkan orang introver yang tak memiliki ilmu. Karena jika seseorang introver sudah punya banyak ilmu otomatis orang itu rajin membaca buku kan. Nah dari buku-buku yang ia baca pastilah ada buku tentang motivasi yang mengajarkannya untuk jangan mudah menyerah dalam kehidupan ini sekaligus mengembangkan diri agar berani bermimpi dan mewujudkannya impian. Tentu hal ini akan berbeda dengan orang introver yang tak rajin membaca, ia akan terus depresi akibat kesendirian yang ia rasakan dan perlahan akan terbunuh oleh ketidakpercayaan dirinya.

 

Satu hal lagi yang kudapatkan dari buku Quiet Impact ini adalah ternyata orang introver memiliki karakter dan ciri yang identik dan sama di seluruh dunia. Tak peduli apapun suku dan bangsanya, ternyata orang introver itu seperti sebuah satu kesatuan. Karena ketika aku membaca buku ini seolah apa yang disampaikan kok seolah dekat dengan kehidupan sehari-hari. Padahal biasanya buku terjemahan tentang pengembangan diri itu isi dan penerapannya bisa berbeda di berbagai kultur dan negara. Yah meskipun buku ini tak semua tips bisa diambil dan sesuai dengan budaya kerja dan kehidupan di Indonesia. Tapi hal yang universal dalam buku ini adalah motivasinya untuk mengatasi berbagai hambatan orang introver sekaligus memanfaatkan kekuatan introver dalam berbagai situasi.

 

Sebagai seorang introver ini adalah buku yang sangat menarik yang perlu dibaca. Sebuah harta karun bagi pribadi introver.

Senin, 14 September 2020

Memperkuat Ciri Khas Wisata Kota Palangka Raya

 

Pada umumnya jika kita berkunjung ke sebuah kota hal apa yang paling diingat, tentu saja objek wisata dan citra khas kota yang melekat di dalamnya. Misalnya saja bila kita berkunjung ke Kota Palembang yang kemudian akan mudah kita citrakan dengan Jembatan Ampera, Empek-Empek dan Sungai Musi. Atau tak perlu jauh, ketika kita menyebut Banjarmasin tentu ingatan kita akan tertuju kepada pasar terapung, Bekantan  atau soto banjar. 

 

Kota tersebut dan banyak kota lainnya di Indonesia sudah memiliki citra, identitas dan ciri khas yang dikenal umum oleh masyarakat. Sehingga jika kita berkunjung ke kota-kota itu rasanya kurang lengkap jika tidak berkunjung atau mengenal lebih dekat dengan objek yang menjadi ciri khas kotanya.

 

Kemudian bayangkan jika kita wisatawan yang berkunjung ke Kota Palangka Raya. Apa kira-kira ciri khas dan citra dari kota ini yang kemudian akan membuat kita langsung teringat kembali ketika sudah pulang. Mungkin jawabannya bisa beraneka ragam. Itu membuktikan bahwa belum ada kesepakatan yang bulat mengenai ciri khas dan identitas utama Kota Palangka Raya

 

Maka dari itu Kota Palangka Raya perlu mencitrakan dan membangun kembali identitasnya agar ia memiliki sebuah ciri khas yang dikenal umum dan berbeda dari kota yang lain dimata semua orang. Mencitrakan kembali yang dimaksud bisa jadi promosi ikon atau landmark kota, kuliner khas daerah, dan tempat wisata dengan kearifan lokal. Berikut beberapa ide  untuk mencitrakan kembali identitas Palangka Raya agar pariwisata Palangka Raya kian berkembang menjadi sebuah kota yang memiliki ciri khas identik seperti kota lainnya. 

 

Dari beberapa riset dan pengamatan pribadi setidaknya ada tiga hal yang perlu menjadi fokus utama pengembangan citra dan identitas kota Palangka Raya diantaranya adalah:

 

1.         Tugu Soekarno


Kawasan Tugu Soekarno


Tugu ini sebenarnya adalah sebuah monumen pemancangan tiang pertama pembangunan kota Palangka Raya yang dilakukan oleh Presiden Soekarno pada 17 Juli 1957. Karena peresmiannya dilakukan oleh Presiden pertama RI, akhirnya hingga kini masyarakat akrab menyebutnya dengan sebutan Tugu Soekarno. Tugu ini adalah bagian dari sejarah besar Kota Palangka Raya dan Provinsi Kalimantan Tengah.

 

Kini sekitar lokasi tugu tersebut sudah dipugar dan dipercantik oleh pemerintah Kota Palangka Raya. Bahkan kini menjadi salah satu objek wisata dan tempat bersantai bagi masyarakat. Namun masih ada yang perlu dikembangkan lagi dari objek wisata ini, yaitu harus ada sebuah pencitraan yang kuat sehingga ini bisa menjadi landmark utama kota Palangka Raya. 

 

Beberapa hal yang dapat dilakukan oleh Pemerintah adalah dengan membuat kawasan tersebut jadi lebih ekslusif. Sama seperti bila kita ingin masuk ke kawasan Tugu Monas atau Candi Borobudur dengan menarik retribusi. Di dalamnya pemerintah dapat membuat sebuah museum kecil yang berisikan foto-foto dan tulisan mengenai sejarah dan perkembangan Tugu Soekarno. Kalau boleh mencontoh, persis seperti kawasan Tugu Khatulistiwa dimana tugu yang asli dibuatkan kubah untuk menjaga nilai dan keaslian sejarah. Kemudian di dalam kubah tersebut terdapat banyak informasi sejarah yang dimuat sebagai bahan referensi bagi pengunjung.

 

Di Sekitar Tugu Soekarno juga dapat dibuat beberapa kios atau lapak untuk para pedagang kuliner dan pedagang cindera mata khas Kota Cantik. Salah satu cindera mata yang menarik bagi saya adalah miniatur tugu pemancangan tiang pertama kota Palangka Raya atau tugu Soekarno. Karena sampai saat ini, Kota Palangka Raya belum memiliki cinderamata berupa landmark yang jika dibawa pulang oleh wisatawatan akan mengingatkan langsung dengan ibukota Provinsi Kalimantan Tengah. Selama ini yang banyak dijual adalah hasil kerajinan tangan seperti kerajinan dari getah nyatu, rotan, batu dan lainnya. Dimana kerajinan tangan tersebut juga dimiliki oleh daerah lain di Kalimantan.

 

Maka, salah satu alternatif lain adalah dengan membuat miniatur Tugu Soekarno. Miniatur ini bisa membuat para wisatawan akan selalu ingat dengan Palangka Raya karena berupa sebuah landmark kota. Ketika setiap wisatawan pulang membawa miniatur tersebut kemudian dipajang di etalase, maka ini bisa jadi salah satu promosi gratis yang akan menarik minat wisatawan lain untuk datang ke Palangka Raya.

 

 Dengan begitu perlahan tugu pemancangan tiang pertama kota Palangka Raya akan menjadi sebuah ikon kuat bagi Kota Palangka Raya yang kaya akan sejarah. Lalu pada akhirnya akan menjadi salah satu destinasi wajib wisatawan bila berkunjung ke Kota Palangka Raya.

 

Diharapkan dengan hal-hal tersebut selain meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari retribusi pariwisata juga dapat menjaga kawasan ini dari vandalisme, serta tetap menjaga nilai-nilai sejarah di sekitar Tugu Soekarno ini.

  

2.         Wisata Air Hitam Sebangau dan Sei Gohong



Kawasan Air Hitam Sei Gohong


umber foto : disbparbudpora.palangkara.go.id
Sumber foto : disparbudpora.palangkaraya.go.id

Sumber foto : pariwisataku.com
Kawasan Air Hitam Sei Gohong

Kota Palangka Raya memiliki dua objek wisata air hitam yang populer yaitu Objek Wisata di Kereng Bangkirai dan Objek Wisata Sei Gohong. Berdasarkan penelusuran di google dengan kata kunci wisata air hitam, hasil yang keluar di halaman pertama adalah wisata air hitam yang ada di Pelabuhan Kereng Bangkirai Kota Palangka Raya. Hal ini membuktikan bahwa wisata air hitam ini sudah lumayan populer dan melekat kuat jadi ikon wisata kota Palangka Raya. Ini adalah salah satu keberhasilan Pemerintah dalam mencitrakan dan mempromosikan objek wisata di wilayahnya. 

 

Namun dibandingkan dengan Air Hitam di Sebangau, objek wisata Air Hitam di Sei Gohong tampak kurang adanya perhatian lebih dari pemerintah terkait perawatan dan pengembangan. Maka agar identitas air hitam semakin melekat, pemerintah perlu kiranya memperkuat pula promosi kawasan wisata air hitam lainnya yaitu di Sei Gohong.. Salah satunya adalah dengan sering melakukan kegiatan dan event pemerintah di dua lokasi tersebut. Sehingga antara Wisata Air Hitama di SEbangau atau dermaga Kereng Bangkirai dan Sei Gohong memiliki promosi yang seimbang dan lebih dikenal, agar kemudian wisatawan juga berminat mengunjungi wisata air hitam di Sei Gohong.

 

Salah satu kebijakan lainnya adalah mengadakan sayembara desain kawasan wisata air hitam agar dapat menggali ide-ide dari publik terkait pengembangan dua objek wisata tersebut agar semakin cantik dan diminati. Sehingga pada akhirnya seluruh masyarakat akan mencitrakan wisata air hitam yang paling populer hanya ada di Palangka Raya.


3.         Makanan Khas


Sumber foto : cookpad.com
Kandas Serai

Sumber foto : cookpad.com
Juhu Singkah (Rotan)

Sumber foto : beritabeta.com
Sayur Kelakai

Makanan khas suatu daerah juga merupakan objek menarik bagi wisatawan yang berkunjung. Namun pada kenyataannya di setiap rumah makan yang ada di Kota Palangka Raya jumlah makanan khas lokal sedikit jumlahnya. Makanan lokal seakan tidak menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Padahal sebenarnya Palangka Raya juga memiliki banyak masakan tradisional yang khas. 

 

Setelah dilakukan riset kecil, ada tiga makanan khas yang memang asli Palangka Raya yaitu Kandas Serai, Juhu singkah (rotan) dan Sayur Kelakai. Tiga makanan khas lokal yang tidak ditemukan di provinsi lain dan sudah sering dibahas oleh pewarta di media-media nasional. Jadi usaha selanjutnya dari kita semua  adalah tinggal memperkuat citra tersebut.

 

Terkait kebijakan mencitrakan identitas masakan khas tersebut, Pemerintah bisa melakukan sosialisasi kepada seluruh pemilik rumah makan agar memasukan tiga masakan lokal tersebut sebagai pilihan menu makanan. Bisa pula melakukan pemberdayaan dan pinjaman modal kepada masyarakat lokal untuk membuka rumah makan dengan menu utama kandas serai, juhu singkah dan sayur kelakai di beberapa tempat terutama di objek wisata di Palangka Raya. Hal lainnya pemerintah dapat menggelar kegiatan rutin festival kuliner atau sayembara untuk mengangkat "merek" dari tiga makanan khas Palangka Raya ini.

 

Kita ingin Palangka Raya setidaknya memiliki satu makanan khas yang citranya melekat kuat dibenak masyarakat dan wisatawan yang berkunjung misalnya saja yaitu Kandas Serai. Sama seperti ketika kita mengidentikan Banjarmasin dan Soto Banjar, Jogja dan Gudeg. Adapun cemilan dan oleh-olehnya bisa berupa sayur kelakai yang sudah dikreasikan. Karena seringkali makanan dan cemilan yang dijual di toko oleh-oleh Palangka Raya banyak berupa amplang. Padahal Palangka Raya bukanlah daerah penghasil produk-produk ikan laut.

 

Tiga fokus itulah menurut saya yang kiranya kalau diterapkan akan dapat menciptakan ikon dan citra khas kota Palangka Raya yang kuat dibenak para wisatawan. Menurut data statistik yang diterbitkan oleh Badan Pusat Stasistik (BPS) Kota Palangka Raya dalam buku "Kota Palangka Raya dalam Angka 2020" kunjungan wisatawan domestik ke Palangka Raya selama tahun 2019 adalah sebanyak 3.865 orang. Sedangkan wisatawan mancanegara sebanyak 389.235 orang. Ini adalah jumlah yang cukup potensial bagi kita seluruh masyarakat Palangka Raya secara bersinergi untuk mulai menciptakan fokus ciri khas identitas lokal. Tentu saja ini adalah tugas kita bersama baik melalui peran pemerintah maupun masyarakat untuk mewujudkan citra khas Palangka Raya agar lebih terkenal ke level nasional hingga internasional.👍

Minggu, 31 Maret 2019

Resensi Buku : Cerita Pilu Manusia Kekinian





Penulis                : Edi AH Iyubenu                        
Penerbit              : IRCiSoD  – Yogyakarta                                                                                
Halaman             : 264 hlm; 14 x 20 cm
Cetakan/ Tahun : Pertama/ Februari 2016                  
Genre                  : Filsafat/ Non Fiksi
  
Timeline kita hari ini sungguhlah teramat buas mengerikan untuk disaksikan. Anda tak perlu butuh waktu lama untuk bersipapas dengan status, komen, atau share yang menista dan memfitnah orang lain Semua banjaran gosip, nyinyiran, pula fitnah, dirayakan dengan penuh girang, berksan penuh pahala, bagaikan memenuhi panggilan jihad fi sabilillah yang balasannya tiada lain adalah surga beserta 70 bidadarinya yang selalu perawan (hal 233).”


 Ditilik dari judul buku ini sudah keren, sekeren isinya. Jarang-jarang lho ya buku yang mengangkat fenomena-fenomena manusia kekinian (baca : modern) begitu menyentuh dan menghujam nalar dan lubuk sanubari. Biasanya buku-buku yang bertema serupa seolah hampa esensi, dengan kalimat demi kalimat yang kurang menggugah. Tapi buku Cerita Pilu Manusia Kekinian adalah pengecualian.
Edi AH Iyubenu adalah seorang penulis yang juga aktif di dunia sastra dan literasi. Banyak sudah buku yang diterbitkanya, namun baru buku ini lah karyanya yang kubaca pertama kali. Begitupun nama Edi yang baru di buku ini pula aku tau. Mengingat tulisannya yang segar dan menyentak, agak aneh aja kalau aku kurang mengenal Edi.
Cerita Pilu Manusia Kekinian adalah kumpulan tulisan tulisan Edi yang terdiri dari berbagai macam pembahasan. Namun muaranya tetap satu, menyorot keringnya jiwa manusia-manusia modern atau istilah Edi adalah manusia kekinian yang sudah jauh dari nilai-nilai luhur dan tradisional.
Edi membagi bukunya ke dalam dua bagian renungan. Pertama adalah renungan islami dan kedua adalah renungan lainnya atau renungan yang bersifat umum dan universal. Terus terang saja saat aku membaca tulisan pertama di buku ini yang berjudul Hiduplah dengan Selo, aku sudah sangat antusias dan jatuh cinta. Sangat terkesan dengan gaya bahasa Edi yang membuat filsafat tak begitu runyam, bahkan ia memberikan penjelasan yang mudah diterima oleh semua nalar baik awam sekalipun.
Di Bagian pertama bukunya dalam bab renungan islami, Edi banyak menyorot tentang fenomena sosial khususnya kehidupan islam di Indonesia masa kini. Tulisannya banyak menyentil kelakuan kita yang sudah banyak keluar dari substansi. Ia mengamati fenomena sosial yang berkembang di masyarakat atau sesuatu kejadian yang sudah viral lalu diberi tanggapan sesuai perspektif keilmuannya (filsafat). Namanya juga orang yang gemar berfilsafat yang notabene adalah orang yang cinta pada kebijaksanaan, maka tulisan Edi sebagian besar dapat kuterima.Beberapa contoh tulisannya adalah sikap keberagamaan kita sekarang yang begitu mudah memberikan label kafir kepada orang yang tak seiman, penghayatan keislaman kita, akun-akun islami yang marak bermunculan, masalah HTI, sampai urusan jodoh.
Tak Cuma disitu pada bagian renungan lainnya juga tak kalah hebat. Disitu ia banyak menulis tentang pilunya manusia kekinian yang telah menjadi hamba modernitas. Segalanya selau diukur dengan angka dan angka. Bukan kualitas tapi kuantitas. Keluarga tempat dimana seseorang pertama kali mendapatkan pelajaran kehidupan pun bukan lagi tempat yang nyaman bagi mereka. Bahkan ketika seseorang ditanya kunci kesuksesannya tak banyak yang menyebut salah satu kunci sukses adalah doa orang tua.
Begitulah tulisan-tulisan Edi ini sangat menarik dan mengunggah. Memang di bagian renungan islami hampir sebagian besar tulisan sangat ringan tak sulit untuk mencernanya, itu karena ia dengan detail memberikan penjelasan dan permisalan terkait tulisannya. Namun memasuki bab renungan lainnya, tulisan Edi agak sedikit berbobot dan berat. Tapi meski demikian, kita tetap dapat menikmati tulisannya. Sekali lagi karena tulisannya ringan dan diberikan penjelasan yang gamblang oleh sang penulis.
Akhirnya buku ini sangat dianjurkan dibaca, karena ia menghentakkan nalar dan nurani kita. Membuat kita setelah membacanya akan berpikir, “Oh iya ya bener juga.” pokoknya ini buku sangat dekat dengan keseharian kita dan sangat dekat dengan pokok kejadian yang pernah hangat di tanah air. Membaca ini kita dapat memiliki penambahan pengetahuan dan suntikan kebijaksanaan dalam memaknai hidup ini.
Pokoknya ini buku filsafat paling ringan yang aku baca. Buku yang sangat bagus. Dan buku tentang fenomena sosial masa kini yang sangat memberikan kesadaran. Wajib dibaca nih.




Kamis, 29 November 2018

Pontianak Kota Khatulistiwa


Berdasarkan letak geografis, sebenarnya Kota Palangka Raya ibukota Kalimantan Tengah dan Pontianak ibukota Kalimantan Barat terletak di satu pulau, yaitu sama-sama di Kalimantan. Namun karena bentang pulaunya yang sangat luas menyebabkan jarak kedua ibukota provinsi ini mencapai sekitar 1000 Km lebih. Keadaan ini membuat Palangka Raya dan Pontianak seolah dua saudara yang tak saling kenal.
Sebuah perjalanan dinas selama 3 hari pada akhir Oktober 2018 kemarin akhirnya mengantarkanku untuk kali pertama berkunjung ke kota Pontianak, Kalimantan Barat. Provinsi tetangga yang berbatasan langsung dengan Provinsi Kalimantan Tengah. Jika menempuh jalur darat akan memakan waktu yang tidak sedikit, bisa sampai 18 jam lebih perjalanan. Suatu perjalanan yang panjang dan melelahkan pastinya.
Maka dari itu transportasi yang efektif untuk menghubungkan antara Palangka Raya dan Pontianak adalah melalui jalur udara dengan pesawat terbang. Sebelum mendarat di bumi garis khatulistiwa, pesawat terlebih dahulu melintas di atas kota Pontianak tepatnya di sepanjang garis sungai Kapuas hingga Bandara Supadio. Di atas sini kita bisa melihat beberapa pemandangan Kota Pontianak yang terlihat cukup padat dari atas langit.
Setelah beberapa menit bermanuver akhirnya pesawat pun mendarat di Bandara Internasional Supadio. Bandara yang terletak sekitar 17 Km dari kota Pontianak ini secara administratif berada di wilayah Kabupatan hasil pemekaran, Kabupaten Kubu Raya. Kalau dilihat interior bandaranya sudah sangat modern, bersih dan nyaman sama seperti standar bandara modern di Indonesia yang dikelola oleh Angkasa Pura. Di jalur kedatangan pengunjung bisa berfoto dengan miniatur tugu khatulistiwa, ikonnya kota Pontianak di salah satu sudut bandara.
 
Miniatur Tugu Khatulistiwa di Bandara Supadio
Setelah cek in hotel di kawasan jalan Gajah Mada dan dilanjutkan makan siang, kami pun langsung meluncur mencari tempat untuk bersantai menikmati sore. Pilihan pun jatuh di Alun Kapuas Park karena tidak jauh dari tempat kami menginap. Alun Kapuas Park ini adalah sebuah taman yang dibangun ditepi sungai Kapuas. Kalau istilah kerennya sih waterfront city. Melihat lokasi dan pemandangannya hampir mirip seperti waterfront city di Kota Sampit dengan sungai Mentaya-nya atau Dermaga Flamboyan-nya Kota Palangka Raya.  


Alun Kapuas Park Pontianak
Di Alun Kapuas Park adalah tempat yang sangat stabil untuk bersantai sambil memandangi sungai Kapuas, Sungai yang terpanjang di Indonesia. Bagaimana tidak terpanjang, karena aliran sungainya sampai tembus ke Kalimantan Tengah. Itulah kenapa di Kalimantan Tengah ada salah satu kabupaten yang bernama Kabupaten Kuala Kapuas, karena kotanya juga dilalui oleh sungai ini.
 Bersantai sore di Alun Kapuas Park Pontianak

 Waterfront City
 Saat kami berkunjung ke Alun Kapuas Park, hampir tak ditemukan pedagang kaki lima. Sebagai gantinya yang ada adalah pedagang kaki lima terapung, hehe. Tak jauh beda dengan pedagang pasar terapung di Banjarmasin, hanya saja disini menggunakan kapal yang lebih besar dengan menawarkan beraneka jajanan dan minuman.

 PKL Terapung
Selain itu ada juga kapal yang menyerupai kafe terapung. Kapal ini juga merangkap sebagai kapal wisata susur sungai. Kami pun mencoba menjajal kapal susur sungai ini. Rutenya memang tak jauh hanya seputaran kota Pontianak saja. Setiap penumpang hanya dipungut biaya 5 ribu rupiah saja. Tapi kita sudah dapat menikmati beberapa keindahan dan kearifan lokal tepian sungai Kapuas di Pontianak. Kuperhatikan hampir seluruh tepian sungai Kapuas ini sudah dibuatkan siring, sehingga kondisinya tak memungkinkan lagi adanya rumah terapung tradisional (lanting) yang banyak mengapung di tepi sungai seperti di Palangka Raya.

 Cafe terapung dan susur sungai
Melihat pemandangan di kiri dan kanan selama susur sungai, aku jadi teringat dengan pemandangan susur sungai di Banjarmasin yang suasananya hampir mirip. Dalam rute tersebut kami pun ada melewati sebuah masjid berbahan dasar kayu dengan warna cat dominan kuning. Arsitekturnya unik dan klasik dengan puncak atapnya terlihat menyerupai lonceng. Ketika aku searching di google, ternyata itu adalah masjid Jami’ Pontianak atau Masjid Sultan Syarif Abdurrahman. Masjid tertua dan bersejarah di Kota Pontianak. Katanya masjid ini merupakan salah satu bangunan yang menjadi penanda berdirinya kota Pontianak pada tahun 1771. Pas kami melintas, saat itu kebetulan sedang masuk waktu shalat magrib. Tampaknya banyak juga orang-orang yang shalat di masjid tersebut. Langsung aja muncul keinginan untuk shalat di masjid tersebut sebelum pulang ke kota asal, sekaligus berfoto dengan masjid yang berusia ratusan tahun tersebut. Namun apa daya, karena waktu tak sempat, niat tersebut pun akhirnya tak kesampaian.
Masjid Jami’ Pontianak
Hari kedua kami pun mulai berurusan ke salah satu kantor pemerintahan Provinsi Kalbar. Hampir sebagian besar kantor-kantor pemerintahannya masih menggunakan struktur bangunan lama. Hal tersebut terlihat dari model bangunan, dan interiornya yang tampak tak tersentuh renovasi. Kalau boleh dibandingkan masih lebih bagus kantor komplek kantor Gubernur Kalteng dibandingkan Kantor gubernur Kalbar. Dan kalau boleh dibandingkan juga, bangunan milik swasta di Kota ini lebih mentereng dibandingkan bangungan milik Pemerintah.
Setelah urusan dinas beres, siangnya  kami pun kembali pulang ke hotel untuk makan siang dan istirahat. Karena besoknya sudah pulang ke kota asal, maka sore itu kami memutuskan untuk pergi ke tempat pusat penjualan oleh-oleh. Sebagai bekal untuk dibawa pulang. Sebelum mendarat di Kota Pontianak aku sudah mengincar dan punya bayangan akan membawa pulang apa nantinya.
Berdasarkan hasil tanya sini dan tanya situ, maka kami di rekomendasikan belanja di Komplek PSP, pusat oleh-oleh khas Pontianak yang terletak di Jalan Pattimura. Disini berjejer kios-kios yang menjual berbagai macam souvenir mulai dari baju adat, aksesoris, hiasan, miniatur dan lainnya. Pokoknya khas dan unik. Tak Cuma itu disitu juga dijual beraneka makanan dan cemilan khas Pontianak seperti dodol, manisan dan lainnya.
 Disana aku lebih tertarik untuk membeli miniatur Tugu Khatulistiwa. Ternyata miniatur dengan ukuran sedang yang kubeli cukup terjangkau dengan harga 50 ribu. Apalagi desainnya unik dan mewah berada di dalam kaca. Disana ada pula miniatur yang dijual lebih kecil sekitar 25 ribu. Kalau  miniatur yang lebih besar yang ada lampunya dengan kisaran harga 100 ribu ke atas. Selain miniatur aku juga membeli hiasan dinding berbingkai dengan aneka pilihan gambar yang katanya canvasnya terbuat dari kulit kambing. Selebihnya aku juga membeli oleh-oleh berupa camilan yang ternyata juga murah meriah dengan harga mulai dari 10 ribu. Benar-benar pusat oleh-oleh dengan harga yang cukup terjangkau. Setelah puas berbelanja kamipun balik kanan lagi ke penginapan.

 
 Pusat Oleh-Oleh Kawasan PSP
Tempat kami menginap berada di Jalan Gajah Mada, yang mana sepenglihatanku di jalan ini tampak seperti kawasan perhotelan. Di sepanjang jalan ini dan sekitarnya banyak berjejer hotel- hotel mulai dari yang mewah sampai yang hotel biasa saja. Itulah mungkin yang menyebabkan harga makanan di kawasan ini cukup tinggi kalau menurutku. Setidaknya untuk satu porsi makanan ala warteg ya minimal 25 ribu.
Pernah waktu aku sarapan pagi di kawasan jalan Hijaz, masih satu kawasan juga dengan Jalan Gajah Mada. Aku mencoba memesan makanan nasi kuning. Rupanya nasi kuning di Pontianak berbeda dengan di Kalteng dan Kalsel. Jika ditempat asalku nasi kuningnya beraneka pilihan lauk dengan dilumuri bumbu masak merah . Nah kalau di kota khatulistiwa ini nasi kuningnya tidak pakai bumbu masak merah, dan hanya ayam goreng saja lauknya dengan ditambah sedikit sayuran. Persis nasi uduk, hanya yang ini warnanya kuning. hehe. Harganya ya itu tadi agak lumayan lah. Tapi kalau dipikir lagi ya wajar saja kalau harganya segitu, karena letak warungnya berada di kawasan perhotelan. Pembelinya pun rata-rata para penghuni hotel di sekitar situ.
  
 Nasi Kuning Khas Pontianak


Salah Satu Potret Jalan Hijaz Kota Pontianak
Tak banyak ruas kota Pontianak yang ku lewati selama di kota itu. Paling hanya daerah-daerah inti dan kawasan jalan protokol saja yang dilalui saat menuju ke tempat tujuan. Dapat dikatakan Pontianak ini adalah salah satu kota besar, dengan jumlah penduduk yang di kisaran 665 ribuan jiwa. Jauh beda dengan jumlah warga Kota Palangka Raya yang berkisar di angka 250 ribuan jiwa.
Hal tersebut wajar memang mengingat Pontianak termasuk salah satu kota tua di Indonesia dengan usia pada tahun 2018 menginjak 247 tahun. Selain itu Pontianak juga merupakan kota pelabuhan dan sekaligus kota bisnis. Jadi wajar saja jumlah penduduk dan kemajuan kotanya cukup berkembang.
Kalau diperhatikan suasana jalanan  dan kehidupan warga Kota Pontianak ini agak mirip dengan Kota Banjarmasin. Sibuk dan ramai dengan aktivitas ekonomi, di kiri dan kanan jalan banyak berdiri bangunan bertingkat. Di kota ini ada beberapa titik jalan yang kerap dilanda kemacetan.
 Jalanan tak pernah lengang selalu dipenuhi oleh bermacam kendaraan. Keadaan tersebut juga didukung oleh kondisi jalan dalam Kota Pontianak yang cukup bagus dan mulus. Bahkan ada salah satu kawasan yang kulihat mirip sekali dengan kawasan Jalan A. Yani di Banjarmasin. Malah di beberapa kawasan kota Pontianak yang lain, aku melihat sudut kotanya mirip pula dengan salah satu sudut kota di Jakarta.
   
 Salah Satu Gedung di Kota Pontianak

  
  Kawasan Perhotelan di Jalan Gajah Mada
   
 Salah Satu ruas Jalan di Pontianak
Meski tak semua, banyak toko-toko milik pengusaha etnis Tionghoa yang menuliskan plang tokonya dengan huruf mandarin. Disini wajah-wajah oriental tak sulit ditemukan. Pernah salah satu teman iseng menanyakan kawasan yang banyak kumpulan “amoi-nya” kepada rekan yang asli Pontianak. Dikatakannya bahwa orang-orang yang berwajah Tionghoa lebih banyak di Kota Singkawang.
Oh iya orang-orang Pontianak mayoritas menggunakan bahasa melayu untuk percakapan sehari-hari. Setidaknya itu yang sering aku dengar. Ya agak mirip sedikit lah dengan bahasa dan logatnya Upin Ipin. Hehe.
Tampaknya beberapa warga awam Pontianak banyak yang tidak tau Palangka Raya itu dimana khususnya para supir dan pedagang. Ketika disebutkan ibukota dari Kalimantan Tengah barulah mereka ngeh. Bagi mereka tampaknya Palangka Raya semacam kota yang nun jauh disana padahal cuma tetanggaan. Hehe. Lain halnya dengan Pontianak yang sudah cukup dikenal oleh warga Palangka Raya yang awam sekalipun yaitu sebagai daerah penghasil buah langsat dan jeruk dengan rasa khas.
Untuk angkutan umum di Kota Pontianak memang untuk taksi, angkot dan lainnnya agak jarang terlihat. Dengan kata lain agak susah juga mencari transportasi di Kota ini. Tapi mengingat sudah hadirnya ojek online di kota ini seperti Grab dan Gojek  membuat urusan transportasi tak lagi hal yang perlu dirisaukan. Cuma masalahnya ya itu harus punya smartphone jika ingin memesan angkutan online ini.


Jembatan di Pontianak


 Meskipun berstatus sebagai kota pelabuhan, tapi wilayah geografis kota Pontianak tidak berbatasan langsung dengan garis pantai. Jadi kalau mencari wisata alam semacam pantai ya mesti ke Singkawang dulu dengan perjalanan sekitar 2 jam dari kota Pontianak. Sama seperti Palangka Raya dan Banjarmasin, kota yang tak memiliki pantai.
Tapi meskipun tak memiliki wisata alam di dalam kotanya, Pontianak masih memiliki banyak tempat wisata bersejarah dan  terkenal hingga ke mancanegara. Selain masjid dan keraton yang berusia ratusan tahun, Pontianak juga memiliki tempat wisata unggulan yaitu Tugu Khatulistiwa. Tugu inilah yang menjadi ikon kota Pontianak. Tugu Khatulistiwa ini pulalah yang menjadi “jualan” utama pariwisata Kalbar baik nasional maupun internasional.
 
 Tugu Khatulistiwa

Tugu Khatulistiwa terletak sekitar 10 Km dari pusat kota Pontianak. Tugu yang dibangun pada tahun 1928 tersebut adalah titik nol bumi yang peris dilalui oleh garis ekuator. Di titik inilah ada garis khatulistiwa yang memisahkan antara belahan bumi utara dan belahan bumi selatan.  Di titik ini pula setiap tanggal 21-23 Maret dan 21-23 September matahari tepat berada di atas garis khatulistiwa yang menyebabkan bayangan benda tak terlihat selama beberapa detik. Fenomena yang dinamakan Kulminasi Matahari.
Memang di dunia ini ada 12 negara yang dilintasi oleh garis khatulistiwa. Di Indonesia pun ada beberapa titik wilayah yang dilintasi oleh garis ini. Bedanya titik tersebut tak tepat berada di pusat kota. Nah kalau di Pontianak, garis khatulistiwa tepat membelah di kota ini sehingga dekat kalau dikunjungi. Kondisi tersebut ditambah lagi dengan perayaan yang selalu dilakukan setiap kulminasi matahari. Itulah yang membuat Kota Pontianak ini istimewa. Itu pula sebabnya banyak wisatawan mancanegara yang datang berkunjung saat titik kulminasi matahari.
Sebenarnya titik khatulistiwa yang ada tugunya bukanlah titik khatulistiwa yang tepat. Pada tahun 2005 dilakukan koreksi oleh tim ahli. Hasilnya, titik nol garis khatulistiwa yang sebenarnya berada 117 meter ke arah sungai Kapuas dari tugu Khatulistiwa. Tak jauh dari titik semula. Akhirnya dibangun lagi patok dari pipa untuk menandakan titik Khatulistiwa yang baru.
 

 Patok garis khatulistiwa setelah dilakukan koreksi
Tugu Khatulistiwa yang terlihat menjulang tinggi di atas kubah museum Khatulistiwa itu pun bukan tugu aslinya. Itu hanya replikanya saja. Tugu asli yang dibangun pada tahun 1928 itu dapat dilihat di dalam museum, berdiri tegak di dalam museum.

 Tugu Khatulistiwa yang asli sejak 1928 berada di dalam museum tugu.
   
 Interior museum tugu khatulistiwa.
             Saat itu adalah hari terakhir kami di Pontianak, kebetulan pesawat baru akan akan berangkat pada siang hari. Pagi itu rekan-rekanku tak ada yang mau diajak jalan-jalan lagi. Padahal aku belum berkunjung ke Tugu Khatulistiwa. Rasanya ada yang kurang kalau berkunjung ke suatu kota tapi tak mampir ke landmarknya. Kata orang sih kalau berkunjung ke Pontianak belum sah kalau belum wisata ke Tugu Khatulistiwa. Akhirnya karena tak ada yang mau ikut dengan nekat akupun pergi sendirian ke tugu Khatulistiwa.
 Berhubung saat itu adalah hari kerja alias bukan hari libur, jadi tempat wisata tersebut terlihat sepi saat aku kunjungi. Di dalam museum selain dapat melihat tugu yang asli, kita juga dapat melihat foto-foto jadul dan sejarah tugu khatulistiwa. Berwisata ke lokasi bersejarah dan fenomenal seperti tugu khatulistiwa ini sungguh menarik. Banyak informasi dan pengetahuan yang kudapatkan ketika berkunjung kesini. Gembira dan senang sekali rasanya bisa kesampaian ke tugu ini.
Hanya sedikit saran untuk pemerintah setempat agar lebih memperhatikan kawasan wisata ini. Pemerintah harus lebih mengoptimalkan kondisi lingkungan dan fasilitas di objek wisata Tugu Khatulistiwa.
Sepulang dari Tugu Khatulistiwa, karena di sana tak ada Ojek Online yang beroperasi aku pun menumpang oplet sampai ke dermaga Ferry penyebrangan. Dermaga penyeberangan Ferry ini terletak kurang lebih 4 Km dari Tugu Khatulistiwa. Dermaga Ini adalah jalur terdekat untuk sampai ke pusat kota Pontianak. Jika melalui jembatan agak jauh karena harus memutar. Sedangkan melalui penyeberangan ini agak sedikit menghemat waktu karena langsung menyeberang ke Alun Kapuas Park. Persis seperti Ferry penyeberangan di Kabupaten Kapuas yang banyak digunakan oleh masyarakat ketimbang harus memutar jauh melalui jembatan.
  
 Ferry penyeberangan orang dan kendaraan

Pukul 11.30 sesampai di hotel aku  dan rekan-rekan pun langsung cek out dan bersiap untuk berangkat ke Bandara Supadio. Untung saja aku sempat berkunjung ke Tugu Khatulistiwa ikon utama Pontianak dan Kalbar. Karena aku tidak tau kapan lagi aku bisa kembali ke kota ini. Mengingat sulitnya transportasi yang efektif dan murah untuk sampai ke Provinsi ini jadi ya kalau tidak ada urusan tak mungkin dalam waktu dekat akan kembali lagi.
Saat ini di kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah Kementerian PUPR sedang mengerjakan sebuah proyek jembatan yang nantinya akan menjadi jalur alternatif penghubung Kalteng dan Kalbar. Yah semoga saja ketika jalur ini sudah terbuka dan mulus, setidaknya dapat memperpendek jarak antara Palangka Raya dan Pontianak dengan lama perjalanan tak sampai 12 jam. Sehingga harapannya di masa depan warga Palangka Raya dan Pontianak sudah biasa saling berkunjung.